sentuhkan dingin subuh, di dadamu, lelahku kan rubuh
pencarian hangat semata, di semak kelam belukar; dunia
semua padamu benar hangat,
tatapmu, bisikmu, peluhmu, airmata, inginmu, lalu semua yang belum kau katakan
benarkan semua syair, lalu lagu-lagu, bahwa waktu hendaknya berhenti
menenangkan, setiap detik ini menenangkan
masih di pelukanmu, bahwa asalnya jantung dan hati ini
retakan rusukmu yang telah disatukan
ah...aku pun ingin begitu
dan lagi, setiap saat aku kembali di rebahan dadamu,
aku tak perlu meminta detik; karena ia akan mengasihani dirinya sendiri
seandainya, bilakah, kalaupun, semua andai-andai ku rangkum
bisakah aku tetap lelah; asal tatapmu, biisikmu, peluhmu, tanpa airmata, semua inginmu
dapat kumiliki dan kabulkan.
tapi aku kecil, mengecil, dan bukan tuhan...
dan karena kau pun jauh, menjauh, di tepian ingatan.
No comments:
Post a Comment