berapa kali kau lahir dan usai di udara
belum sempat lagi terlihat pantulan
wajahku di sana, kau menghilangkan
niat untuk mewarnakan ketiadaan sukar.
di pelipis itu, ada ayahmu menggiring
angin kusut yang kau tak tahu bagaimana
menggulung kesedihan baik yang tampak
maupun yang bergerak mengikuti mata
belum sempat lagi terlihat pantulan
wajahku di sana, kau menghilangkan
niat untuk mewarnakan ketiadaan sukar.
di pelipis itu, ada ayahmu menggiring
angin kusut yang kau tak tahu bagaimana
menggulung kesedihan baik yang tampak
maupun yang bergerak mengikuti mata
rimbun senyummu kian mewujud serabut
dari timbunan duka di belukar prasangka
berjika-jika aku setibanya kau sampai
di ujung jalan. maukah duri bayangmu
mengikhlaskan dirinya tanpa menjadi
gerhana dirimu yang lain?
dari timbunan duka di belukar prasangka
berjika-jika aku setibanya kau sampai
di ujung jalan. maukah duri bayangmu
mengikhlaskan dirinya tanpa menjadi
gerhana dirimu yang lain?
Stabat, Desember 2016
No comments:
Post a Comment