Sunday, February 5, 2012

sepotong cerita yang tak perlu

ada yang berbicara, ada yang mendengar. kau tak bisa pilih keduanya.
ada yang menderita, ada yang mengasihaninya. kau tak bisa merasa kedua-duanya.
ada yang berhenti, ada yang terus berjalan. kau tak mesti memaksakan salah satunya.
ada yang diam, ada yang menjerit perlahan. kau salah satunya.

aku ingin bicara, akan terus bicara, tak perlu ada yang mengasihani, tentang apa aku bercerita. kau boleh berhenti, dan aku akan terus berjalan. karena suatu saat aku akan diam. kehabisan cerita untuk kau dengar. padahal dalam hati aku masih saja bercerita. siapa dari kita yang menjerit perlahan?

aku ingin kau mendengarkan, yang barangkali kau anggap derita, kau pikir kau tak mampu meneruskan, dan aku tetap takkan berhenti. sampai aku diam. dan salah satu dari kita menjerit perlahan.

kau juga pasti berbicara, seringnya bukan deritamu. seringnya aku tak mendengarkan, seringnya justru aku mengasihanimu. karena kau berhenti, aku juga akan takkan meneruskan. kita diam. tak perlu ada yang menjerit perlahan.

kau belajar mendengar dari aku yang tampaknya pendiam. aku belajar bicara darimu yang tampak banyak bicara. apa sekarang kau ikut menderita, soalnya aku tidak. kurang atau lebih, sakit takkan lebih sakit. kau bilang kau akan berhenti, tapi ada yang berjalan. ada yang diam. dan hening yang perlahan.

kita bukan siapa-siapa di skenario tuhan. terlalu banyak peran yang mesti dimainkan. aku memilih antagonis. anggap saja ini sebuah prolog dalam hidupmu, sebelum kau menemukan lawan utamamu. ah,aku berlebihan. aku cameo saja kalau begitu. sorry. aku sengaja membuangmu.

No comments:

Post a Comment