Ada yang berupaya bugar dengan memupuk beban di pundak, berat dikiranya akan menyadarkan otot dan urat. Ada yang berupaya tegar dengan memupuk simpul senyum dimuka, ramah dikiranya akan menyadarkan jiwa dan mata. Tapi kontras, tiba-tiba dihadapnya, ada siluet yang dibangun atas cerita-cerita pengantar senja kepada malamnya; menerobos pelak sangkanya.
Kau saksikan aku berlari jatuh dan menangis di pengasingan. Aku lah cerita candaan dan drama yang tak bosan-bosan. Buatku ini beban kebutaan dan keserakahan dari gelak tak tahu kapan. Aku berserah padamu tuan puan pemilik pekarangan masa depan. Aku anakmu yang terbuang.
Ini kritis. Pengemis pesimis; meminta saja dia tak pernah yakin. Bangunan kebanggaan akan perjuangannya runtuh, jauh-jauh ingin lupa bila ia membatin. Bajunya kumal dan lusuh, acap kali basah dan oleh kutukan debu kekecewaan; ia kesakitan. Di tempat tidurnya, dia bermimpi pada mimpi. Ketidaksanggupannya seperti miasma yang menembus lorong waktu. Ia menyesal. Ia tak ingin diselamatkan.
Percayalah pada garis-garis daun yang kami sebut ramalan. Apa yang terlihat masih pada lembaran mukadimah tentang keputusasaan, Berikutnya ada serupa peluru ketidakberdayaan datang di ingatan. Aku hanya mengayuh saat petang hingga kemudian petang, padahal kau telah memutuskan tak lagi datang.
No comments:
Post a Comment