"Kau itu seperti pelajaran sejarah. Jika tidak bisa menangkap benang yg menghubungkan setiap kejadiannya maka akan jadi sulit di mengerti. Kalimatmu memiliki sebuah benang tipis jika salah tarik aku bisa tersesat. Hatiku selalu risau. Takut jika benangmu tidak bisa terlihat. Tapi seperti pelajaran sejarah menarik keinginanku untuk tau lebih dalam."
Aku selalu lupa, pada siapa, kapan, dan dimana, serpihan itu kujatuhkan. Kupinjam dulu, aku ingin mengatakannya pada ilalang yang tajam, ilalang yang memanjang. Ia sulit kelihatan. Karena ia sama. Tak mau berbeda. Meskipun begitu, hadirnya begitu rapuh. Pada detik manakah, di masa depan, ia kan menghilang, bahkan sebelum angin menyadarinya.
No comments:
Post a Comment