Monday, March 12, 2012

Anak Langit

Namaku Rin. Ini cerita tentang makamku. Aku mati sekitar 10 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 1 Juni. Benar. Aku mati di tengah tahun, di tengah kerisauan, dan tengah melayang diantara langit dan bumi. Sekali lagi ini cerita tentang makamku, bukan caraku mati. Saat ini jasadku ditanam diantara awan. Tiap hari, tak lupa Tuhan menyirami makamku yang putih kebiru-biruan.
Tiap akhir tahun, datang menziarahiku burung-burung dari selatan. Tak ubah layaknya kerabat sebelum hari raya. Apa mereka reinkarnasi orang-orang dari kampung halamanku?

Dan untuk hari-hari matiku, sama seperti mayat-mayat lainnya. Aku ditanya oleh dua penjaga langit dan bumi. Tentu saja aku disiksa jika tak bisa dijawabnya. Tiap aku tak bisa menjawab pertanyaan mereka, tubuhku mulai mengumpul. Kukira aku akan dihidupkan kembali. Tapi sekujur tubuhku terlalu dingin dan organku bergumpal acak. Kepala yang disambung oleh kuku, kaki yang bedesakan dengan ginjal, hati yang bercampur dubur, dan lainnya. Dan saat semua bagian tubuh lengkap terkumpul, saat itulah aku hancur. Berjatuhan menuju bumi. Hingga pada suatu waktu aku memuai dan berkumpul lagi di langit yang tak berujung. 

Sejujurnya sikasaan ini tidak terlalu buruk. Karena selain itu dua penjaga penyiksa, aku juga ditemani dua malaikat lainnya. Kedua malaikat ini berwarna putih dan merah kekuning-kuningan. Dua malaikatku itu cantik dan menemaniku seharian. Dan saat aku terjatuh atau memuai terpisah-pisah, mereka ikut tertawa bersama.

Oh iya, sedikit teringat tentangku mati. Waktu itu aku sedang marah pada temanku. Tiba-tiba tubuhku panas. Terlalu panas, hingga bola mataku meleleh keluar, berjatuhan lalu hilang di udara. Bagian tubuhku yang lain juga mulai meleleh berlepasan, yang lainnya mendidih bergelembung, lepas ke udara dan meletup. Mereka terurai menjadi atom-atom dan meledak antara beningnya kegelisahan.

Barangkali, itu kenapa aku selalu melihat manusia yang gelisah saat aku terjatuh. Atau aku memang pembawa sial? Ah.

1 comment: