Pengukir Mimpi
By: Albi Yohana Sinaga
Aku bangun pagi ini dan mendapakan ibuku bertengkar dengan kakakku. Mereka saling berteriak. Memenuhi dapur dengan suara tak penting mereka. Sehingga rumah yang baru kami tempati kemarin ini terasa pengap.
“Jika mau menyalahkanku salahkan saja!” teriak kakak perempuanku. ”Semua ini memang salahku, jangan pura-pura tidak menyalahkanku, tapi terus-terusan menyudutkanku!”
“Siapa yang menyudutkanmu, kenapa kau tak kunjung mengerti.” bela ibuku. Entah akan terjadi berapa lama. Aku juga tak peduli. Mereka selalu meributkan hal yang sama sejak seminggu yang lalu. Aku sejujurnya sudah bosan. Jadi, terserahlah mereka akan berbuat apa. Aku masuk ke kamar mandi, melewati mereka. Beberapa puluh menit kemudian, aku telah selesai sarapan. Dan siap berangkat sekolah.
"Aku pergi!" kataku pelan kepada ibuku. Kakakku diam saja.
"Aku harap kau suka sekolah barumu.” kata kakakku di tengah perjalanan sekolah di atas motornya.
"Bagiku sama saja, kau dan ibu, sama-sama salah.” kataku dingin, kakakku tak berkata apa-apa lagi. Nama ayahku, Matahari. Dia meninggal satu minggu yang lalu. Meninggalkan tiga wanita yang tidak bisa hidup tanpanya. Beberapa jam setelah pemakamannya, kakak sepupu kami, anak dari adik kandung ayahku, berkata pada kakakku, “Rumahmu adalah rumah orangtuaku yang dulu pernah di berikan pada ayahmu. Batalkan pertunanganmu dengan Yusuf, maka rumah itu bisa jadi milik kalian. Selamanya.” Ibuku mendengar pernyataan itu, dengan sok berani dan sok baiknya dia menampar kakak sepupuku, dan bilang tidak butuh rumah. Padahal tidak ada yang punya perkerjaan atau orang yang bisa dijadikan penopang diantara kami bertiga. Entah apa yang dilakukan oleh kakak sepupuku, sehingga dihari yang sama kami diusir oleh keluarga besar ayahku. Terlunta-lunta beberapa saat di jalan. Sampai akhirnya kami menemukan rumah mungil di kontrakkan. Itu juga atas bantuan teman ibuku. Kami jatuh miskin seketika. Tunangan kakak tidak bisa di hubungi. Dia menghilang. Kakak mencari kerja bersama ibu. Sejak dua hari yang lalu kakak bekerja di perusahaan swasta sebagai administrasi. Dan ibuku diperhotelan. Lalu, aku terpaksa pindah sekolah karena dua alasan. Pertama, sekolah lama terlalu mahal. Kedua, sekolah itu terlalu jauh. Aku terdampar di pinggir jalan, di rumah kecil, dan sekolah tidak penting tanpa teman. Aku tidak dapat menjangkau teman-teman lamaku untuk beberapa alasan. Dan beberapa saat.
“Ini adikku, Anggrek”, kata kakakku kepada seorang perempuan sebayanya. Namanya Rosa. Guru dan teman kakakku waktu SMA. Rosa ini mengajar disini, dia akan mengurusku selama aku di sekolah. Mau tau pendapatku tentang Rosa? Aku benci senyumnya. Satu-satunya hal yang terus-terusan ia tunjukkan. Orang seperti dia ini biasanya menghabiskan ‘bagian dalam’ lebih dahulu. Tahu maksudku? Tidak bisa di percaya.
“Titip dia ya?” kata kakakku lagi.
“Tenang saja”, Rosa mengelus-ngelus kepalaku. Menjijikkan.
"Enjoy your new school.” Lalu perempuan tidak penting itu meninggalkan aku berdua saja dengan guru ‘tidak bisa di percaya’ ini.
“Kau akan suka dengan kelas barumu”, mulai Rosa dengan senyum yang tidak kalah lebar dengan sebelumnya.
“Kenapa ibu diberi nama ‘Rosa’?”, kami saling melirik.
“jika aku boleh tahu.” kataku melanjutkan.
“Mungkin karena orang tua ibu suka bunga, ‘Rosa’ kan di ambil dari kata ‘Rose’ artinya mawar.
“Berduri dong.” aku nyengir lebar tanpa alasan. Dan sekejap senyum Ibu Rosa menghilang. Sepertinya kaget. Dia tercengang.
“Ini kelasnya.”
Rosa mneggenggam tanganku tiba-tiba dan membawaku masuk ke dalam sebuah kelas. Dengan senyum dua jari bibir atas dan bawahnya itu, kami masuk, dan membuat semua perhatian teralihkan. Pelajaran bahasa Inggris. Gurunya sedang menjelaskan sesuatu tapi kemudian berhenti.
“Maaf mengganggu, ibu akan memperkenalkan murid baru.” Keheningan langsung riuh. Tidak penting.
“Karena ibu wali kelas kalian, jadi ibu akan memperkenalkan warga baru kita.” Basa-basi yang tidak perlu. Jujur, semua jadi aneh.
“Namanya Anggrek.” Rosa mendorongku sedikit ke depan.
“Silahkan Anggrek, perkenalkan dirimu.” Mereka semua diam menunggu, seperti orang bodoh.
“Aku Anggrek. Anggrek Shasmitha.” kataku singkat.
“Jelaskan juga kamu tinggal di mana dan pindahan dari mana.” kata Rosa dengen senyumannya.
“Alamat rumahku…”
Aku beralih menatap Rosa. Dan raut muka Rosa seolah bilang ‘ayo katakan’. Tapi aku diam saja dan terus menatapnya.
“Mungkin Anggrek masih malu, sisanya kamu tanya sendiri. Anggrek, duduklah di sana.” Tunjukannya menunjuk pada satu-satunya kursi yang kosong. Aku berjalan acuh, aku duduk, semua mata berhenti tertuju padaku. Rosa keluar dan pelajaran dilanjutkan. Teman sebangkuku yang baru adalah laki-laki. Aku tak tahu namanya. Dan tidak penting untuk itu. Guru bahasa Inggris yang tertunda tadi mencatatkan sesuatu di papan tulis. Aku mengeluarkan bukuku. Aku tak tahu mengapa. Tapi tanganku sempat mampir ke laci sebelum mengeluarkan alat tulis. Dan menemukan ‘kalung’.
“Ini punyamu?” tanyaku menunjukkan kalung itu pada teman sebangkuku. Dia berhenti menulis sejenak lalu melihatku dengan kalung itu secara bergantian.
“Kalau mau ambil saja.”
Kalungnya memang bagus. Perak dan bandulnya berbentuk pasak dan palu.
“Itu kalung pengukir mimpi. Dia akan mengabulkan permintaan pertama yang kau pikirkan setelah memakainya.” Kami saling melontarkan pandangan aneh. Seolah bilang ‘kau percaya?’. Tapi siapa peduli, toh ini cuma kalung. Jadi aku langsung memakainya.
"Mungkin lebih baik jika aku mati…” gumamku begitu saja. Kita harus mencobakan untuk tau apa benar kalung ini seperti perkataannya.
Krek..krek..
Debu-debu kecil berjatuhan di kepalaku. Beserta serpihan-serpihan…Atap? Aku mendongak.
“Ha?”
Atapnya retak. Pecahan-pecahannya seperti mau runtuh menimpaku. Tapi aku sama sekali tidak mau beranjak lari. Aku menunggu atapnya benar-benar menimpaku. Lalu, satu bongkahan batu besar datang dari atas. Seperti lepas dari perekat. Aku memejamkan mata.
“Hei!”
Mataku sentak terbuka. Aku sedang tertidur di tempat aku duduk dan baru saja di bangunkan oleh teman sebangkuku. Tanganku dalam keadaan menggenggam bandul kalung.
“Itu kalung pengukir mimpi. Tidak meminta tumbalan, bayaran, pengorbanan atau apapun sejenisnya. Kalung itu mengabulkan permintaan pertama yang kau pikirkan, tapi itu hanya pengukir mimpi.” Penjelasan yang benar-benar memukau. Tidak juga sih.
“Siapa tadi namamu?”
“Yusuf!”
Aku menatap lekat-lekat kalung berbandul perak ini. Pengukir mimpi ya? Benarkah? Tapi sekalipun iya, semua hanya mimpi. Mimpi mungkin tidak brpengaruh apa-apa, tapi aku butuh hal sejenis mimpi untuk membuka mataku terhadap kenyataan ini. Mimpi tidak akan membunuh kan? Jadi aku melepas dan memakainya lagi.
“Aku harap semua ini tidak pernah terjadi.”
Semua berubah gelap.
“Anggrek..anggrek..”
Aku mendengar kumpulan suara memanggil, tapi aku tidak bisa melihat apa-apa.
“Anggrek!”
Tubuhku tersentak.
“Kau tak apa-apa Anggrek?” Terry meremas tanganku. Terry? Sahabatku? Kenapa dia? Aku memperhatikan sekeliling. Aku tahu ruang kesehatan ini. Catnya masih baru. Porselennya bening. Ruangan identik dengan warna merah muda. Ini ruang kesehatan di sekolah lamaku. Tidak salah lagi.
“Kenapa senyum-senyum seperti itu? Terry mendorong lenganku, kusadari aku nyengir saat tahu ini sekolah lama ku.
“Aku tadi mimpi aneh. Mana Terra?” Kembaran Terry. Aku dekat dengan mereka berdua. Dengan Josh, pemain basket sekolah. Dan Adam, atlet lari sekaligus berandalan. Tiap hari selalu mendapatinya berjalan di kejar wakil kepsek karena ketahuan makan saat jam kosong. Tapi mereka bertiga tidak ada, hanya ada Terry.
“Entahlah, aku di sini saja sendirian selama dua jam menunggumu bangun.”
“Eh…”
“Kau tidak ingat? Tadi kau pingsan karena lemparan bola basket Josh ketika istirahat. Aku rasa dia takut bertemu denganmu sementara waktu.”
Aku kembali. Aku telah kembali. Pulang ini aku akan lari ke rumah dan memeluk ayahku.
“Ayah?”
“Ayah? Ada apa dengan ayahmu?” Tanya Terry.
“Tiba-tiba aku ingin bertemu ayahku.”
“Dia kan ada di aula, hari ini ada pertemuan wali murid. Ayo lihat!”
Terry menarik lenganku untuk segera bangkit. Kami berlarian kecil menuruni tangga menuju lantai bawah dan segera menghampiri aula.
“Hei!”
Ayah. Aku memeluknya. Kami bertemu di pintu aula.
“Kepalamu terbentur sesuatu, Anggrek?” tanya ayahku heran. Wajar saja, aku bukan anak papi. Atau seseorang yang dekat dengan orangtuanya. Tapi kehilangannya selama seminggu terakhir ini dan masalah bertubi-tubi menerpa kami bahkan kuburan ayahku belum kering. Aku sudah benar-benar merindukannya. Aku ingin di sini selamanya. Aku menyesal sama sekali tidak pernah memeluk ayahku. Sama sekali tidak pernah mengajaknya bicara. Aku hanya mendengar suaranya beberapa kali dalam satu bulan.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Berpelukan sampai kering?” Tanya ayahku. Sekarang dengan nada risih. Jadi, aku melepaskan pelukanku. Aku mengangkat kepalaku. Ayahku melirikku. Lama kami saling melihat.
“Eh..aku tak tahu apa yang di lakukan seorang ayah kalau ketemu anaknya.”
Aku tersenyum kecil. Aku juga tidak tahu apa yang akan di lakukan seorang anak kalau bertemu ayahnya.
“Begini saja!” Terry tiba-tiba angkat bicara. Cara mencairkan suasana yang baik. Kami berdua beralih padanya. “kita makan malam di rumahku sebagai acara keluarga. Aku akan ajak josh dan adam berserta kaluarga mereka. Gimana?”
“Boleh!” kataku semangat. Kenapa jadi semangat? Terserahlah. Toh, sudah di sini kan. Tapi bagaimana jika aku mau kembali? Mungkin tidak bisa kembali dan terus begini. Hidup itu harus dijalani kan? Jadi, kenapa tidak dijalani saja. Mimpi atau bukan jelas-jelas ini tidak bisa merugikanku. Lalu semuanya berjalan normal. Aku bermain bersama empat temanku sepanjang istirahat. Pulangnya aku membuat eksperimen masakan bersama kakak dan ibuku. Mereka akur dan tidak meributkan siapa yang salah. Jadi ingat tunangan kakak. Siapa? Yusuf? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Meski sudah jadi tunangan kakak selama tiga bulan. Ngomong-ngomong nama Yusuf sama dengan teman sebangkuku.
“Bagaimana Yusuf?” aku melemparkan pertanyaan yang membayangkannya saja tidak pernah. Kakak berhenti makan siang.
“Dia baik-baik saja.” Jawabnya dingin. Lalu melanjutkan makan.
“Ajak saja dia makan di rumah Terra-Terry hari ini.” Kalimat itu terlontar begitu saja. Sebenarnya bagiku tidak penting bagaimana rupa si Yusuf-Yusuf itu. Tapi ada satu suara dipikiranku mengatakan, ”Siapa tau mirip dengan Yusuf teman sebangkuku.” Saran yang aku keluarkan didukung oleh ayahku. Lebih mirip tindakan terimakasih karena telah memeluknya siang tadi ketimbang sebuah dukungan.
“Terserah.”
Selesai makan aku habiskan dengan memilih-milih pakaian untuk makan malam. Lalu pukul 06.30 sore. Kami pergi berempat ke rumah Terra Terry. Aku berpikir ‘ini...malam paling mengesankan’. Makan malam di rumah Terra Terry seperti pesta kerajaan Inggris. Terra, Terry, kakak dan aku mengenakan dress warna-warni hingga aku pusing jika harus menjelaskannya satu persatu pakaian mereka. Semua orang tua mengenakan jas dan gaun. Josh dan Adam jelas memakai jas. Tidak ada tambahan orang dipesta karena Josh dan Adam anak tunggal. Yusuf? Aku tak melihat Yusuf.
“Dimana Yusuf?” bisikku pada kakak.
“Entahlah.” Jawabnya singkat. Lho dia ini tunangannya kan? Mana tunanganmu?
“hiks…hiks…”
Ada suara terisak. Aku langsung melihat kakakku. Tapi sepertinya dia tidak mendengar. Kakakku melengos masuk ke gerombolan orangtua-orangtua. Aku spontan melihat ayahku. Dia hanya diam dan tidak melihatku balik. Ia berada di tengah orang tua sebayanya. Dan sepertinya itu membosankan.
“hiks…hiks…”
Suara isakannya makin keras. Terdengar di seluruh pelosok rumah. Tapi tak ada satupun yang peka terhadap itu.
“hiks..”
Suaranya mirip suara…kakak? Kakak?
“Kau sudah bangun?”
Aku tersentak bangun. Seolah ditarik paksa untuk kembali ke dunia nyata. Meninggalkan ayah dan mimpiku.
“Kakak?”
Pipi kakakku basah. Matanya bengkak dan tak berhenti terisak. Pasti isakannya yang membuatku terbangun.
“Aku pikir kau mati.” Kata kakakku mencoba tersenyum ditengah segugukannya. Dia menyeka air banyak-banyak yang tumpah dari mata. Aku memperhatikan ruangan tempat aku tertidur. Sebuah kamar, mungil dan sejuk. Tapi aku yakin ini bukan ruang kesehatan. Meski belum sempat melihat ruang kesehatan di sekolah yang baru. Aku yakin setengah mati ini bukan ruang kesehatan di sekolah yang baru. Karena tempatnya sangat bersih, berporselen dan lagi pula tidak ada obat-obatan di sini. Ini bukan ruang kesehatan, bukan rumahku, baik yang rumah lama atau yang baru. Tidak mungkin ini salah satu kamar RS. Ini dimana? Beralih pada ruangan. Mataku kemudian mencari-cari kakakku. Ketika aku sibuk ini dimana, dia menghilang di balik pintu. Dan belum kembali. Lelah memperhatikan ruangan dan pintu, menunggu kakak kembali. Aku lalu memperhatikan tempat aku tidur. Kasur single berseprai mickey mouse dengan kumpulan bulan dan bintang. Bajuku masih pakai seragam sekolah. Dan mataku jatuh pada kalung perak dengan pasak dan palu. Leherku sejak tadi mengenakannya. Ini masih ku kenakan?
Pintu terbuka.
“Ini di mana?” sambarku. Padahal sepertinya kakak mau mengatakan sesuatu karena mulutnya terbuka saaat melihatku lalu terkatup lagi ketika aku bertanya.
“Ini di rumah Yusuf.”
“Yusuf? Tunanganmu yang menghilang itu? Gara-gara kau mempertahankannya kita jadi kehilangan rumah. Perfect.”
“Dia baru pulang dari Manhattan.”
Lalu kakakku tidak berkata apaa-apa lagi. Dia menyodorkan sepiring nasi kepadaku.
“Ha? Hanya itu saja. Hanya ‘baru pulang dari Manhattan’? yang benar saja kak, kita terlunta-lunta di jalan karena ibu dengan sok baiknya mempertahankan tunanganmu yang bahkan tidak datang saat pemakaman ayah. Gara-gara dia aku harus terdampar di sekolah tidak penting dengan orang-orang yang selalu menunjukkan senyum palsu mereka padaku. Gara-gara dia kita kehilangan satu-satunya peninggalan ayah yang paling berarti.“
Kakakku masih menunjukkan muka tenang.
“Kau terlalu lama tidur hingga kukira kau syok dengan hidup kita hingga koma. Aku lari tergesa-gesa ke sekolahmu karena kudengar kau pingsan tiba-tiba di kelas. Lalu saat keluar dari sekolah dan berencana membawamu ke rumah sakit, aku bertemu Yusuf. Entah darimana ia tahu engkau sekolah disana. Dia mau mengajak kita bertiga tinggal di rumahnya sampai kasus perebutan hak rumah kita yang lama selesai. Dia juga bersedia membiayai sekolahmu di sekolah yang lama tapi hanya sampai ekonomi keluarga kita stabil. Apakah semua masalamu terselesaikan sekarang?”
Aku diam.
“Ini jatah makan siangmu, aku akan kembali ke kantor.”
Lalu dia pergi, selang beberapa menit setelahnya, pintu kembali terbuka. Aku kira ibuku. Tapi yang masuk adalah seorang pria maskulin. Maskulin? Tidak juga ah. Pakaiannya santai tapi rapi. Sekilas wajahnya memang manis, dia laki-laki yang bersih.
“Yusuf?’ kataku saja. Dia tersenyum.
“Sepertinya kau begitu ingin bertemu denganku.”
Aha?
“Kalung pengukir mimpi itu apa berkerja dengan baik?” Tanya Yusuf. Aku menatap kalung itu dan melepasnya.
“Bagaimana kau tau ini pengukir mimpi?” dia dan aku saling berpandangan. Aku dengan penuh curiga padanya. Dia, seolah menunggu aku menjawab sendiri pertanyaanku.
“Kau percaya sihir?” katanya sambil merogoh saku celana. Dan mengeluarkan kalung perak yang lain. Bentuknya bandul kucing.
“Ini kalung pengukir dunia. Yang ini membuat kita bisa menciptakan satu dunia lain sesuai dengan harapan kita. Sebagai gantinya nyawa kita diincar oleh kematian. Kalung ini dan yang kau pegang itu milik kakekku yang diturunkan padaku. Kami pinjamkan satu pada orang yang tidak sadar kalau hidup ini sebenarnya sangat menarik. Untuk meminjamkannya pada orang lain kami harus masuk terlebih dahulu dalam kehidupan mereka menggunakan bandul yang satunya. Lihat!”
Dia menggunakan kalung berbandul kucing itu dan tiba-tiba datang kumpulan daun kering dari jendela berterbangan mengelilingi dan menyelimuti tubuhnya. Lalu saat daun itu jatuh ke lantai. Aku menemukan Yusuf, teman sebangkuku di sekolah baru.
“See?’
Dia melepaskan kembali kalungnya dan wujud tunangan kakak juga kembali.
“Kenapa kau pinjamkan yang pengukir mimpi padaku?’
“Kedua kalung ini sama maknanya. Mengabulkan hal yang paling kau inginkan tapi tidak seperti Tuhan mengabulkan do’amu. Pada akhirnya yang menggunakan kalung harus membuat pilihan. Aku pinjamkan yang pengukir mimpi bukan yang pengukir dunia karena kalung pengukir dunia lebih sulit, salah-salah nyawamu terambil dan aku akan disalahkan oleh kakakmu.”
“Kakak tau soal ini?”
“Menurutmu memangnya bagaimana awal mula kami bertemu?”
Yang benar saja.
“Terima kasih!” aku melempar kalung pengukir mimpi padanya.
“Tidak ingin bermimpi lagi?”
“Aku bukan si rapuh yang tak sanggup hidup di dunia dan ingin terus bermimpi.”
“Mau coba?” dia menunjukkan senyum jahil sambil mengayun-ayunkan kalung yang berbandul kucing.
“Boleh tuh.”
Dia melempar kalung berbandul kucing dan aku menangkapnya dengan sigap. Baik juga laki-laki maskulin ini. Maskulin? Tidak juga ah.