Showing posts with label albi. Show all posts
Showing posts with label albi. Show all posts

Saturday, May 12, 2012

Bayang

"Kau itu seperti pelajaran sejarah. Jika tidak bisa menangkap benang yg menghubungkan setiap kejadiannya maka akan jadi sulit di mengerti. Kalimatmu memiliki sebuah benang tipis jika salah tarik aku bisa tersesat. Hatiku selalu risau. Takut jika benangmu tidak bisa terlihat. Tapi seperti pelajaran sejarah menarik keinginanku untuk tau lebih dalam."
Aku selalu lupa, pada siapa, kapan, dan dimana, serpihan itu kujatuhkan. Kupinjam dulu, aku ingin mengatakannya pada ilalang yang tajam, ilalang yang memanjang. Ia sulit kelihatan. Karena ia sama. Tak mau berbeda. Meskipun begitu, hadirnya begitu rapuh. Pada detik manakah, di masa depan, ia kan menghilang, bahkan sebelum angin menyadarinya.


Monday, August 22, 2011

Pengukir Mimpi

Pengukir Mimpi
By: Albi Yohana Sinaga
            Aku bangun pagi ini dan mendapakan ibuku bertengkar dengan kakakku. Mereka saling berteriak. Memenuhi dapur dengan suara tak penting mereka. Sehingga rumah yang baru kami tempati kemarin ini terasa pengap.
            “Jika mau menyalahkanku salahkan saja!” teriak kakak perempuanku. ”Semua ini memang salahku, jangan pura-pura tidak menyalahkanku, tapi terus-terusan menyudutkanku!”
         “Siapa yang menyudutkanmu, kenapa kau tak kunjung mengerti.” bela ibuku. Entah akan terjadi berapa lama. Aku juga tak peduli. Mereka selalu meributkan hal yang sama sejak seminggu yang lalu. Aku sejujurnya sudah bosan. Jadi, terserahlah mereka akan berbuat apa. Aku masuk ke kamar mandi, melewati mereka. Beberapa puluh menit kemudian, aku telah selesai sarapan. Dan siap berangkat sekolah.
           "Aku pergi!" kataku pelan kepada ibuku. Kakakku diam saja.
           "Aku harap kau suka sekolah barumu.” kata kakakku di tengah perjalanan sekolah di atas motornya.
         "Bagiku sama saja, kau dan ibu, sama-sama salah.” kataku dingin, kakakku tak berkata apa-apa lagi. Nama ayahku, Matahari. Dia meninggal satu minggu yang lalu. Meninggalkan tiga wanita yang tidak bisa hidup tanpanya. Beberapa jam setelah pemakamannya, kakak sepupu kami, anak dari adik kandung ayahku, berkata pada kakakku, “Rumahmu adalah rumah orangtuaku yang dulu pernah di berikan pada ayahmu. Batalkan pertunanganmu dengan Yusuf, maka rumah itu bisa jadi milik kalian. Selamanya.” Ibuku mendengar pernyataan itu, dengan sok berani dan sok baiknya dia menampar kakak sepupuku, dan bilang tidak butuh rumah. Padahal tidak ada yang punya perkerjaan atau orang yang bisa dijadikan penopang diantara kami bertiga. Entah apa yang dilakukan oleh kakak sepupuku, sehingga dihari yang sama kami diusir oleh keluarga besar ayahku. Terlunta-lunta beberapa saat di jalan. Sampai akhirnya kami menemukan rumah mungil di kontrakkan. Itu juga atas bantuan teman ibuku. Kami jatuh miskin seketika. Tunangan kakak tidak bisa di hubungi. Dia menghilang. Kakak mencari kerja bersama ibu. Sejak dua hari yang lalu kakak bekerja di perusahaan swasta sebagai administrasi. Dan ibuku diperhotelan. Lalu, aku terpaksa pindah sekolah karena dua alasan. Pertama, sekolah lama terlalu mahal. Kedua, sekolah itu terlalu jauh. Aku terdampar di pinggir jalan, di rumah kecil, dan sekolah tidak penting tanpa teman. Aku tidak dapat menjangkau teman-teman lamaku untuk beberapa alasan. Dan beberapa saat.
            “Ini adikku, Anggrek”, kata kakakku kepada seorang perempuan sebayanya. Namanya Rosa. Guru dan teman kakakku waktu SMA. Rosa ini mengajar disini, dia akan mengurusku selama aku di sekolah. Mau tau pendapatku tentang Rosa? Aku benci senyumnya. Satu-satunya hal yang terus-terusan ia tunjukkan. Orang seperti dia ini biasanya menghabiskan ‘bagian dalam’ lebih dahulu. Tahu maksudku? Tidak bisa di percaya.
            “Titip dia ya?” kata kakakku lagi.
            “Tenang saja”, Rosa mengelus-ngelus kepalaku. Menjijikkan.
          "Enjoy your new school.” Lalu perempuan tidak penting itu meninggalkan aku berdua saja dengan guru ‘tidak bisa di percaya’ ini.
            “Kau akan suka dengan kelas barumu”, mulai Rosa dengan senyum yang tidak kalah lebar dengan sebelumnya.
            “Kenapa ibu diberi nama ‘Rosa’?”, kami saling melirik.
“jika aku boleh tahu.” kataku melanjutkan.
            “Mungkin karena orang tua ibu suka bunga, ‘Rosa’ kan di ambil dari kata ‘Rose’ artinya mawar.
         “Berduri dong.” aku nyengir lebar tanpa alasan. Dan sekejap senyum Ibu Rosa menghilang. Sepertinya kaget. Dia tercengang.
            “Ini kelasnya.”
          Rosa mneggenggam tanganku tiba-tiba dan membawaku masuk ke dalam sebuah kelas. Dengan senyum dua jari bibir atas dan bawahnya itu, kami masuk, dan membuat semua perhatian teralihkan. Pelajaran bahasa Inggris. Gurunya sedang menjelaskan sesuatu tapi kemudian berhenti.
          “Maaf mengganggu, ibu akan memperkenalkan murid baru.” Keheningan langsung riuh. Tidak penting.
         “Karena ibu wali kelas kalian, jadi ibu akan memperkenalkan warga baru kita.” Basa-basi yang tidak perlu. Jujur, semua jadi aneh.
            “Namanya Anggrek.” Rosa mendorongku sedikit ke depan.
            “Silahkan Anggrek, perkenalkan dirimu.” Mereka semua diam menunggu, seperti orang bodoh.
            “Aku Anggrek. Anggrek Shasmitha.” kataku singkat.
            “Jelaskan juga kamu tinggal di mana dan pindahan dari mana.” kata Rosa dengen senyumannya.
            “Alamat rumahku…”
           Aku beralih menatap Rosa. Dan raut muka Rosa seolah bilang ‘ayo katakan’. Tapi aku diam saja dan terus menatapnya.
          “Mungkin Anggrek masih malu, sisanya kamu tanya sendiri. Anggrek, duduklah di sana.” Tunjukannya menunjuk pada satu-satunya kursi yang kosong. Aku berjalan acuh, aku duduk, semua mata berhenti tertuju padaku. Rosa keluar dan pelajaran dilanjutkan. Teman sebangkuku yang baru adalah laki-laki. Aku tak tahu namanya. Dan tidak penting untuk itu. Guru bahasa Inggris yang tertunda tadi mencatatkan sesuatu di papan tulis. Aku mengeluarkan bukuku. Aku tak tahu mengapa. Tapi tanganku sempat mampir ke laci sebelum mengeluarkan alat tulis. Dan menemukan ‘kalung’.
         “Ini punyamu?” tanyaku menunjukkan kalung itu pada teman sebangkuku. Dia berhenti menulis sejenak lalu melihatku dengan kalung itu secara bergantian.
            “Kalau mau ambil saja.”
Kalungnya memang bagus. Perak dan bandulnya berbentuk pasak dan palu.
“Itu kalung pengukir mimpi. Dia akan mengabulkan permintaan pertama yang kau pikirkan setelah memakainya.” Kami saling melontarkan pandangan aneh. Seolah bilang ‘kau percaya?’. Tapi siapa peduli, toh ini cuma kalung. Jadi aku langsung memakainya.
"Mungkin lebih baik jika aku mati…” gumamku begitu saja. Kita harus mencobakan untuk tau apa benar kalung ini seperti perkataannya.
Krek..krek..
Debu-debu kecil berjatuhan di kepalaku. Beserta serpihan-serpihan…Atap? Aku mendongak.
“Ha?”
Atapnya retak. Pecahan-pecahannya seperti mau runtuh menimpaku. Tapi aku sama sekali tidak mau beranjak lari. Aku menunggu atapnya benar-benar menimpaku. Lalu, satu bongkahan batu besar datang dari atas. Seperti lepas dari perekat. Aku memejamkan mata.
“Hei!”
Mataku sentak terbuka. Aku sedang tertidur di tempat aku duduk dan baru saja di bangunkan oleh teman sebangkuku. Tanganku dalam keadaan menggenggam bandul kalung.
“Itu kalung pengukir mimpi. Tidak meminta tumbalan, bayaran, pengorbanan atau apapun sejenisnya. Kalung itu mengabulkan permintaan pertama yang kau pikirkan, tapi itu hanya pengukir mimpi.” Penjelasan yang benar-benar memukau. Tidak juga sih.
“Siapa tadi namamu?”
“Yusuf!”
Aku menatap lekat-lekat kalung berbandul perak ini. Pengukir mimpi ya? Benarkah? Tapi sekalipun iya, semua hanya mimpi. Mimpi mungkin tidak brpengaruh apa-apa, tapi aku butuh hal sejenis mimpi untuk membuka mataku terhadap kenyataan ini. Mimpi tidak akan membunuh kan? Jadi aku melepas dan memakainya lagi.
“Aku harap semua ini tidak pernah terjadi.”
Semua berubah gelap.
            “Anggrek..anggrek..”
Aku mendengar kumpulan suara memanggil, tapi aku tidak bisa melihat apa-apa.
            “Anggrek!”
Tubuhku tersentak.
         “Kau tak apa-apa Anggrek?” Terry meremas tanganku. Terry? Sahabatku? Kenapa dia? Aku memperhatikan sekeliling. Aku tahu ruang kesehatan ini. Catnya masih baru. Porselennya bening. Ruangan identik dengan warna merah muda. Ini ruang kesehatan di sekolah lamaku. Tidak salah lagi.
            “Kenapa senyum-senyum seperti itu? Terry mendorong lenganku, kusadari aku nyengir saat tahu ini sekolah lama ku.
            “Aku tadi mimpi aneh. Mana Terra?” Kembaran Terry. Aku dekat dengan mereka berdua. Dengan Josh, pemain basket sekolah. Dan Adam, atlet lari sekaligus berandalan. Tiap hari selalu mendapatinya berjalan di kejar wakil kepsek karena ketahuan makan saat jam kosong. Tapi mereka bertiga tidak ada, hanya ada Terry.
            “Entahlah, aku di sini saja sendirian selama dua jam menunggumu bangun.”
            “Eh…”
            “Kau tidak ingat? Tadi kau pingsan karena lemparan bola basket Josh ketika istirahat. Aku rasa dia takut bertemu denganmu sementara waktu.”
            Aku kembali. Aku telah kembali. Pulang ini aku akan lari ke rumah dan memeluk ayahku.
            “Ayah?”
            “Ayah? Ada apa dengan ayahmu?” Tanya Terry.
            “Tiba-tiba aku ingin bertemu ayahku.”
            “Dia kan ada di aula, hari ini ada pertemuan wali murid. Ayo lihat!”
Terry menarik lenganku untuk segera bangkit. Kami berlarian kecil menuruni tangga menuju lantai bawah dan segera menghampiri aula.
            “Hei!”
Ayah. Aku memeluknya. Kami bertemu di pintu aula.
            “Kepalamu terbentur sesuatu, Anggrek?” tanya ayahku heran. Wajar saja, aku bukan anak papi. Atau seseorang yang dekat dengan orangtuanya. Tapi kehilangannya selama seminggu terakhir ini dan masalah bertubi-tubi menerpa kami bahkan kuburan ayahku belum kering. Aku sudah benar-benar merindukannya. Aku ingin di sini selamanya. Aku menyesal sama sekali tidak pernah memeluk ayahku. Sama sekali tidak pernah mengajaknya bicara. Aku hanya mendengar suaranya beberapa kali dalam satu bulan.
            “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Berpelukan sampai kering?” Tanya ayahku. Sekarang dengan nada risih. Jadi, aku melepaskan pelukanku. Aku mengangkat kepalaku. Ayahku melirikku. Lama kami saling melihat.
            “Eh..aku tak tahu apa yang di lakukan seorang ayah kalau ketemu anaknya.”
Aku tersenyum kecil. Aku juga tidak tahu apa yang akan di lakukan seorang anak kalau bertemu ayahnya.
          “Begini saja!” Terry tiba-tiba angkat bicara. Cara mencairkan suasana yang baik. Kami berdua beralih padanya. “kita makan malam di rumahku sebagai acara keluarga. Aku akan ajak josh dan adam berserta kaluarga mereka. Gimana?”
         “Boleh!” kataku semangat. Kenapa jadi semangat? Terserahlah. Toh, sudah di sini kan. Tapi bagaimana jika aku mau kembali? Mungkin tidak bisa kembali dan terus begini. Hidup itu harus dijalani kan? Jadi, kenapa tidak dijalani saja. Mimpi atau bukan jelas-jelas ini tidak bisa merugikanku. Lalu semuanya berjalan normal. Aku bermain bersama empat temanku sepanjang istirahat. Pulangnya aku membuat eksperimen masakan bersama kakak dan ibuku. Mereka akur dan tidak meributkan siapa yang salah. Jadi ingat tunangan kakak. Siapa? Yusuf? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Meski sudah jadi tunangan kakak selama tiga bulan. Ngomong-ngomong nama Yusuf sama dengan teman sebangkuku.
          “Bagaimana Yusuf?” aku melemparkan pertanyaan yang membayangkannya saja tidak pernah. Kakak berhenti makan siang.
            “Dia baik-baik saja.” Jawabnya dingin. Lalu melanjutkan makan.
            “Ajak saja dia makan di rumah Terra-Terry hari ini.” Kalimat itu terlontar begitu saja. Sebenarnya bagiku tidak penting bagaimana rupa si Yusuf-Yusuf itu. Tapi ada satu suara dipikiranku mengatakan, ”Siapa tau mirip dengan Yusuf teman sebangkuku.” Saran yang aku keluarkan didukung oleh ayahku. Lebih mirip tindakan terimakasih karena telah memeluknya siang tadi ketimbang sebuah dukungan.
            “Terserah.”
            Selesai makan aku habiskan dengan memilih-milih pakaian untuk makan malam. Lalu pukul 06.30 sore. Kami pergi berempat ke rumah Terra Terry. Aku berpikir ‘ini...malam paling mengesankan’. Makan malam di rumah Terra Terry seperti pesta kerajaan Inggris. Terra, Terry, kakak dan aku mengenakan dress warna-warni hingga aku pusing jika harus menjelaskannya satu persatu pakaian mereka. Semua orang tua mengenakan jas dan gaun. Josh dan Adam jelas memakai jas. Tidak ada tambahan orang dipesta karena Josh dan Adam anak tunggal. Yusuf? Aku tak melihat Yusuf.
            “Dimana Yusuf?” bisikku pada kakak.
            “Entahlah.” Jawabnya singkat. Lho dia ini tunangannya kan? Mana tunanganmu?
            “hiks…hiks…
            Ada suara terisak. Aku langsung melihat kakakku. Tapi sepertinya dia tidak mendengar. Kakakku melengos masuk ke gerombolan orangtua-orangtua. Aku spontan melihat ayahku. Dia hanya diam dan tidak melihatku balik. Ia berada di tengah orang tua sebayanya. Dan sepertinya itu membosankan.
            “hiks…hiks…”
            Suara isakannya makin keras. Terdengar di seluruh pelosok rumah. Tapi tak ada satupun yang peka terhadap itu.
            “hiks..”
            Suaranya mirip suara…kakak? Kakak?
            “Kau sudah bangun?”
            Aku tersentak bangun. Seolah ditarik paksa untuk kembali ke dunia nyata. Meninggalkan ayah dan mimpiku.
            “Kakak?”
            Pipi kakakku basah. Matanya bengkak dan tak berhenti terisak. Pasti isakannya yang membuatku terbangun.
            “Aku pikir kau mati.” Kata kakakku mencoba tersenyum ditengah segugukannya. Dia menyeka air banyak-banyak yang tumpah dari mata. Aku memperhatikan ruangan tempat aku tertidur. Sebuah kamar, mungil dan sejuk. Tapi aku yakin ini bukan ruang kesehatan. Meski belum sempat melihat ruang kesehatan di sekolah yang baru. Aku yakin setengah mati ini bukan ruang kesehatan di sekolah yang baru. Karena tempatnya sangat bersih, berporselen dan lagi pula tidak ada obat-obatan di sini. Ini bukan ruang kesehatan, bukan rumahku, baik yang rumah lama atau yang baru. Tidak mungkin ini salah satu kamar RS. Ini dimana? Beralih pada ruangan. Mataku kemudian mencari-cari kakakku. Ketika aku sibuk ini dimana, dia menghilang di balik pintu. Dan belum kembali. Lelah memperhatikan ruangan dan pintu, menunggu kakak kembali. Aku lalu memperhatikan tempat aku tidur. Kasur single berseprai mickey mouse dengan kumpulan bulan dan bintang. Bajuku masih pakai seragam sekolah. Dan mataku jatuh pada kalung perak dengan pasak dan palu. Leherku sejak tadi mengenakannya. Ini masih ku kenakan?
            Pintu terbuka.
          “Ini di mana?” sambarku. Padahal sepertinya kakak mau mengatakan sesuatu karena mulutnya terbuka saaat melihatku lalu terkatup lagi ketika aku bertanya.
            “Ini di rumah Yusuf.”
            “Yusuf? Tunanganmu yang menghilang itu? Gara-gara kau mempertahankannya kita jadi kehilangan rumah. Perfect.”
            “Dia baru pulang dari Manhattan.”
Lalu kakakku tidak berkata apaa-apa lagi. Dia menyodorkan sepiring nasi kepadaku.
            “Ha? Hanya itu saja. Hanya ‘baru pulang dari Manhattan’? yang benar saja kak, kita terlunta-lunta di jalan karena ibu dengan sok baiknya mempertahankan tunanganmu yang bahkan tidak datang saat pemakaman ayah. Gara-gara dia aku harus terdampar di sekolah tidak penting dengan orang-orang yang selalu menunjukkan senyum palsu mereka padaku. Gara-gara dia kita kehilangan satu-satunya peninggalan ayah yang paling berarti.“
            Kakakku masih menunjukkan muka tenang.
            “Kau terlalu lama tidur hingga kukira kau syok dengan hidup kita hingga koma. Aku lari tergesa-gesa ke sekolahmu karena kudengar kau pingsan tiba-tiba di kelas. Lalu saat keluar dari sekolah dan berencana membawamu ke rumah sakit, aku bertemu Yusuf. Entah darimana ia tahu engkau sekolah disana. Dia mau mengajak kita bertiga tinggal di rumahnya sampai kasus perebutan hak rumah kita yang lama selesai. Dia juga bersedia membiayai sekolahmu di sekolah yang lama tapi hanya sampai ekonomi keluarga kita stabil. Apakah semua masalamu terselesaikan sekarang?”
            Aku diam.
            “Ini jatah makan siangmu, aku akan kembali ke kantor.”
Lalu dia pergi, selang beberapa menit setelahnya, pintu kembali terbuka. Aku kira ibuku. Tapi yang masuk adalah seorang pria maskulin. Maskulin? Tidak juga ah. Pakaiannya santai tapi rapi. Sekilas wajahnya memang manis, dia laki-laki yang bersih.
“Yusuf?’ kataku saja. Dia tersenyum.
“Sepertinya kau begitu ingin bertemu denganku.”
Aha?
“Kalung pengukir mimpi itu apa berkerja dengan baik?” Tanya Yusuf. Aku menatap kalung itu dan melepasnya.
“Bagaimana kau tau ini pengukir mimpi?” dia dan aku saling berpandangan. Aku dengan penuh curiga padanya. Dia, seolah menunggu aku menjawab sendiri pertanyaanku.
“Kau percaya sihir?” katanya sambil merogoh saku celana. Dan mengeluarkan kalung perak yang lain. Bentuknya bandul kucing.
“Ini kalung pengukir dunia. Yang ini membuat kita bisa menciptakan satu dunia lain sesuai dengan harapan kita. Sebagai gantinya nyawa kita diincar oleh kematian. Kalung ini dan yang kau pegang itu milik kakekku yang diturunkan padaku. Kami pinjamkan satu pada orang yang tidak sadar kalau hidup ini sebenarnya sangat menarik. Untuk meminjamkannya pada orang lain kami harus masuk terlebih dahulu  dalam kehidupan mereka menggunakan bandul yang satunya. Lihat!”
Dia menggunakan kalung berbandul kucing itu dan tiba-tiba datang kumpulan daun kering dari jendela berterbangan mengelilingi dan menyelimuti tubuhnya. Lalu saat daun itu jatuh ke lantai. Aku menemukan Yusuf, teman sebangkuku di sekolah baru.
See?’
Dia melepaskan kembali kalungnya dan wujud tunangan kakak juga kembali.
“Kenapa kau pinjamkan yang pengukir mimpi padaku?’
“Kedua kalung ini sama maknanya. Mengabulkan hal yang paling kau inginkan tapi tidak seperti Tuhan mengabulkan do’amu. Pada akhirnya yang menggunakan kalung harus membuat pilihan. Aku pinjamkan yang pengukir mimpi bukan yang pengukir dunia karena kalung pengukir dunia lebih sulit, salah-salah nyawamu terambil dan aku akan disalahkan oleh kakakmu.”
“Kakak tau soal ini?”
“Menurutmu memangnya bagaimana awal mula kami bertemu?”
Yang benar saja.
“Terima kasih!” aku melempar kalung pengukir mimpi padanya.
“Tidak ingin bermimpi lagi?”
“Aku bukan si rapuh yang tak sanggup hidup di dunia dan ingin terus bermimpi.”
“Mau coba?” dia menunjukkan senyum jahil sambil mengayun-ayunkan kalung yang berbandul kucing.
“Boleh tuh.”
Dia melempar kalung berbandul kucing dan aku menangkapnya dengan sigap. Baik juga laki-laki maskulin ini. Maskulin? Tidak juga ah.

Gemuruh yang Tidak Ada

Gemuruh yang Tidak Ada
By : Albi Yuhana

Aku tidak pernah berpikir tentang kondisi orang lain. Aku selalu mengusahakan diriku sendiri. Jika ada masalah aku berusaha menyelesaikannya sendiri. Aku sama sekali tidak punya tempat untuk aku andalkan. Karena nenekku, sepupuku, tanteku, ibuku, mereka selalu bilang ‘Jangan pernah merepotkan orang lain. Nanti tidak akan ada yang berteman denganmu’. Dan dengan prinsip itu. Aku disini sekarang.
Siswi kelas 3 dari salah satu SMA unggulan di provinsiku. Lulusan SMP terfavorit dengan nilai memuaskan. Tidak ada yang ku keluhkan kecuali satu. Teman.
Aku tidak punya teman. Entah kenapa aku selalu merasa orang orang tidak suka padaku hingga aku menjauh.
“Tunggu, pak! Ana kan belum punya pasangan”, teriak Rei.
Saat semua anak perempuan siap lari berpasangan kecuali aku yang masih berdiri di baris paling belakang anak laki laki. Rencanaku diam diam aku tidak ingin ikut lari. Dan karena teriakan Rei, semua jadi mengetahui keberadaanku.
Rei itu teman sebangkuku. Aku sudah duduk dengannya dua tahun. Tapi sebelumnya dia tidak pernah memusingkan keberadaanku. Kami tidak pernah bicara. Hanya berinteraksi kecil tanpa suara. Rei juga sebenarnya terpaksa duduk denganku karena tidak ada lagi bangku yang kosong selain bangkuku, waktu itu.
“Masih kurang satu, ya?”, kata pak Ahmad sambil memeriksa daftar absennya.
“oh ya, kelas kalian ini jumlah anak perempuannya ganjil”
Ya, jumlahnya jadi genap jika aku tidak ada. Karena itulah aku tidak ingin ikut lari.
“baiklah, jadi siapa diantara kalian yang mau lari pasangan dengan Ana?”, tanya pak Ahmad di depan barisan anak laki laki.
Semuanya saling tukar pandang. Sepertinya ini akan lama. Karena aku yakin tidak akan ada yang mau pasangan denganku.
“Anu. . .”, kataku menyela sebelum pemilihan pasanganku selesai.
“Aku tidak ingin merepotkan. Kalau tidak ada pasangan, apa boleh aku lari tanpa pasangan?”, tanyaku.
“Aku saja!”, Rei mengangkat tangannya.
“Ok. Masuklah barisan”, kata pak Ahmad. Rei langsung menghampiriku dan menarik tanganku masuk ke barisan anak perempuan.
“Bersedia. . . Siap. . . Mulai!”
Lalu, kami semua lari mengitari lapangan sekolah. Peraturannya hanya mengambil satu bendera di setiap pos yang berada di setiap sudut lapangan. Sebanyak lima putaran. Tanpa meninggalkan pasangan kita. Pasangan yang lebih dulu selesai akan mendapat nilai besar.
Awalnya tidak ada masalah tapi setelah dua putaran nafasku sudah tersengal sengal.
“Kau tidak apa apa?”, tanya Rei.
Aku berhenti berlari dan membungkukkan badanku, mengambil nafas.
“Seharusnya. . .”, aku berusaha bicara di tengah nafasku yang putus putus.
“Seharusnya. . .kau. . .ti. . .tidak. . .per. . .perlu. . .ikut lari ber. . .bersamaku. Aku tidak ingin merepotkan orang lain, aku ini tidak kuat lari”
Dan tiba tiba semuanya gelap. Tubuhku jatuh menghantam tanah.
~
Aku bangun, mendapatkan diriku berada di ruang kesehatan sekolah. Di kelilingi oleh teman teman sekelasku.
“Kau tidak apa apa?”, tanya satu dari anak perempuan. Yang berada paling dekat dengan tempat aku tidur, Lisa.
“aku. . .”, aku tidak tau apa yang harus aku jelaskan.
“kau tiba tiba pingsan, kami semua jadi khawatir”, kata Lisa lagi.
“lari berpasangannya diundur minggu depan”
“Hah? Minggu depan? Kenapa? Gara gara aku? Huhft. . . aku minta maaf aku gak bermaksud”, kataku penuh harap mereka semua tidak menyalahkanku. Aku menunggu cukup lama balasan kalimatku. Tapi tak ada satu pun yang berkata kata lagi. Mereka bertukar pandang sejenak lalu melihatku lagi. Apa ada yang aneh?.
“Kenapa kami harus menyalahakan kondisimu. Hahaha. . . kau lucu”, kata Lisa sambil tertawa kecil. Dan anak lainnya juga ikut merekahkan senyum padaku. Aku tidak pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Rasnya aneh. Aku tidak pernah tau mereka hangat sekali dan apa tadi Lisa bilang?. ‘kau tiba tiba pingsan, kami semua jadi khawatir’. Mereka mengkhawatirkanku?. Kenapa padahal aku sendiri tidak pernah memikirkan mereka?.
Rei mencuat dari kumpulan anak anak yang berdiri menggerubungiku.
“pulangnya aku antar saja”, kata Rei dengan gaya sok coolnya.
“Cie. . .”. Alhasil semua anak menyeru kami.
Apa sih?.
~
Aku baru bangun dari tidurku di tengah pelajaran kosong. Dan Lisa sudah berdiri di depan sana.
“Ada yang lihat makalah geografi punya Rei gak?”, Lisa berteriak di muka kelas. Ku lihat Rei mendatangi meja anak satu persatu, memeriksa tas mereka. Raut mukanya, itu raut muka cemas.
“Ayo donk! Kalo liat balikin”, kata Lisa lagi. Sepintas kenapa dia terlihat melirikku sambil tersenyum kecil?. Lalu tanpa kusadari Rei telah berdiri di sampingku.
“Pinjem tas bentar”, katanya tak bersemangat.
Aku mendorong tasku ke arahnya. Tanpa banyak bicara diobrak abriknya sejenak. Dan kemudian untuk beberapa saat dia berhenti.
“Ini. . .makalah. . .”, dia mengeluarkan dengan kasar dari tasku. Makalah Geografi miliknya.
“Eh?”
“Kenapa ini bisa ada di tasmu?”, tanyanya halus. Tapi, tatapan matanya tidak bisa bohong. Dia marah, kecewa, kesal, lelah, dia menuduhku mencuri. Matanya seolah bilang ‘Masih untung aku mau berteman denganmu, tapi kau justru memanfatkanku’. Perasaanku tidak enak. Aku melihat sekeliling kelas, ternyata teman temanku juga sedang menatapku seolah aku pencuri. Suasana ini mirip. Aku pernah mengalami ini. Di tuduh mencuri. Kejadian kelas 6 SD waktu itu terjadi lagi.
“Aku. . .”, tiba tiba aku kehilangan kata kata. Hanya keringat yang mengucur deras saja. Padahal aku tidak melakukan apa apa. Kenapa aku tidak bisa membela diri?.
Bukan aku.
“Bukan. . .”
Jangan menatapku seperti itu, Rei. Bukan aku yang mencurinya.
“Aku. . .”
Kakiku gemetar. Lidahku keluh. Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. Kenapa sulit sekali untuk bilang bukan aku yang melakukannya?. Tapi, sekalipun aku bilang aku yakin tak akan ada yang percaya. Sejak kapan makalahnya ada di tasku?. Ini pasti sudah direncanakan. Dari awal mereka tidak mau berteman denganku. Sikap hangat mereka hanya tipuan. Mereka sesungguhnya tidak ingin berbagi teman seperti Rei makanya melakukan ini. Kejadian lagi. Aku dituduh mencuri lalu mereka semua akan berjalan menjauh dan tidak ada lagi yang mau berteman denganku. Padahal aku kira kali ini aku bisa mengikatkan tali pertemanan. Lalu mereka semua akan memperlakukanku seperti seonggok kotoran. Melihatku seperti aku daging menjijikan yang bisa bernafas. Aku tidak mau terjadi lagi. Cukup sekali. Jangan lagi.
Entah kenapa tiba tiba aku berjongkok sambil menutup erat telinga dan mataku. Rei sudah menuduhku mencuri. Aku tidak mau dituduh mencuri. Bukan aku yang melakukannya. Pasti tidak akan ada lagi yang mau berteman denganku. Semuanya sama saja. Mereka tetap akan satu persatu meninggalkanku, dari dulu siapa saja tidak berubah. Aku takut.
“Masih untung ada yang mau berteman denganmu”
“dasar gak tau diri”
“aku tau kau miskin tapi jangan mencuri donk!”
Aku tidak mau dengar. Jangan tuduh aku, aku tidak melakukan apapun.
“kau kenapa?” aku membuka mataku. Suara itu datang dari Lisa.
“kami hanya main main, kau tidak apa apa?”, tanya Lisa.
Suaranya terdengar parau seperti mau menangis. Wajahnya juga memelas. Seolah minta maaf . Aku berdiri. Dan melihat sekeliling kelasku lagi, semuanya menatapku bingung. Aku melihat Rei.
“Aku gak tau apa apa lho”, kata Rei langsung membela diri.
“Aku minta maaf”, kata Lisa.
Aku tersenyum kecil “enggak kok, aku yang terlalu berlebihan”.
Mungkin memang hanya ketakutanku saja. Suara-suara itu sepertinya hanya perasaanku saja.
Pelajaran kosong sudah berganti bahasa inggris. Gurunya sudah berdiri di muka kelas menjelaskan sesuatu yang tidak bisa masuk ke telingaku. Karena aku berkosentrasi mendengar kalimat Rei.
“Waktu aku membawamu ke ruang kesehatan kemarin, sepanjang jalan kau mengigau. Jangan merepotkan orang lain. Nanti tidak akan ada yang mau berteman”
“Itu diajarkan oleh keluargaku”, potongku ringan.
“Sebenarnya tidak akan merasa direpotkan kalau yang dimintai tolong melakukannya dengan ikhlas. Bodoh sekali jika takut tidak ada yang mau berteman denganmu gara gara kau merepotkan”
Rei menatapku lekat-lekat.
“Dan jika kejadian yang tadi terulang lagi. Katakan saja kalau bukan kau. Aku pasti percaya”
Rasanya mukaku memerah. Aku tidak pernah dengar dia bicara seserius itu dengan nada sok coolnya. Aku merasa kali ini akan ada orang yang tidak akan pernah meninggalkanku. Janji donk, Rei.

Sunday, February 27, 2011

I'll Be Waiting...

dingin udara menembus pakaianku..
tapi terasa hangat... 
karena hawa nafasmu tertawa bersamaku... 
risau berbisik masalah berderu... 
tapi terasa ringan..
karena menyentuh tanganmu berjalan bersamaku...


dari awal ku pikir ini tiada akhir...
kita menempuh semua berdua... 
meski ada mereka, yang terdengar hanya kita... 
tapi nyata bahwa tanganmu, terlalu licin untuk terus kugenggam...
senyummu terlalu manis, tingkahmu terlalu menyenangkan... 
jika terus berlanjut...
aku takut aku tidak bisa mengganggapmu teman selamanya...

maka ketika kau melepas genggamanmu...
yang kulakukan hanya mendesah...

Kukira kehidupan diukir dari kumpulan kebetulan atau kesengajaan. Umumnya, kita bertemu dengan orang-orang di kehidupan ini adalah sebuah proses kebetulan. Dan khususnya, aku sengaja menemukan seseorang. Ya, aku sengaja menemukannya.

Aku biasa mengetuk pintunya dengan huruf-huruf tertata. Aku juga terbiasa merapatkan rahangku mendengar derit pintunya bernyanyi. Dan beruntung, yang kudapatkan adalah sebuah senyuman yang dipaksakan. Kami menukar nada, mulai dari jangkrik yang berbisik hingga paduan semilir angin lembut.  

Sebut saja dia matahari-yang biasa berjendelakan kumulonimbus. Sinyal dari henponku terbirit-birit menuju ujung pulau. Tempat dia-matahari terduduk malu-malu. Atau biasanya saat lelah dan kantuk menerobos dia-matahari yang bergeliat kesepian di tengah canda burung-burung gelatik. Dia-matahari akan menyengat. Aku pun geli, dan mulai berbasa-basi dengan intonasi terbangun. Kami makhluk planet asing, bahasa kami monoton.

Tapi tak jarang kami bercerita tentang surga. Bagaimana kami duduk bersama di bawah pohon sakura, atau di hamparan padang rumput-dimana beraneka layangan berwarna-warni mengisi langit yang membiru. Atau tentang pohon maple dan ginko yang menguning saat musim gugur tiba.

Dia pemeran antagonis-yang tersenyum sangat manis
"Hey, suatu hari aku ingin ketempatmu, bagaimana??"
 "Really?? datang saja!! I'll be waiting.."

Itu hanya cerita, yang bagaimanapun ku berusaha bercerita seindah mungkin, kenyataannya lebih indah. Kenangan, yang kupaksa rekam dalam kata, akhirnya terseok dalam titik-titik airmata. Ah, aku tak sanggup. Sekian sajalah... Karena aku bukan penceritera yang handal seperti ia.