Apa kau lebih suka menjadi badai? Yang sibuk datang lalu bergegas hilang. Meninggalkan puing dan segala hening yang jua berplintir. Apa kau lebih suka menjadi semilir. Yang tersipu di sore hari. Lembut dan sesekali menepuk pipi. Tapi kau menghilang tanpa peringatan, membiarkan kehilangan tanpa kebiasaan. Apa kau sungai? Yang mengalir membawa perasaan damai. Gemericik tawa dan laku di arus kebosanan. Ah, kau sungai, dimana kau hanyutkan hatiku? Apa kau langit. Awan yang tipis dan pembawa hujan yang kelam. Pasti kau mudah menemukanku, yang terserak di hamparan bumi yang putih.
Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Saturday, May 12, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment