Tiang-tiang penyangga rindumu beranjak ke dasawarsanya.
Tak ada harum rapuh meskipun lembab dan risik angin
sesekali menyelinap menyetir gigil. Dan sarang burung
diatas sana telah berkali-kali berganti generasi dengan
bayi-bayi yang mencicitkan lapar, serta bingar.
Diatas gundukan lantai tanah berserakan lembaran ingatan,
itupun ada yang sudah menjadi remah bekas dimakan tikus tanah.
Berserakan pula hiasan gelang, cincin, kalung yang dulu
acapkali menjadi sesembahanmu. Sesaji lipstik dan janji,
inai dan segenggam tanda janji, tapi kini di hak milik debu
dan karat-karat hitam.
Aku mendengar dulu istana yang dibangun karena rajanya
jatuh cinta, dipugarnya beragam warna emas perak dan berlian
segala rupa. Ditanaknya nasi dengan campuran liur anak-anak
miskin. Dinyalakannya dupa, dan aku tahu segala kemewahan
ini atas kesederhanaan yang ditelan duka.
Dan seiring mengganasnya waktu, yang tersisa hanya cerita.
Dan kenangan ditimbun agar manusia membangun sejarahmu
yang baru.
No comments:
Post a Comment