Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Friday, November 27, 2015

Layangan

bukannya ranum biru parasmu
yang membuatku melayang-layang
dihantarkan benang.
dan angin memukul-mukul pundakku
yang malu-malu menujumu.
kau puisi yang Tuhan bentangkan, 
agar aku mengilhami hujan bintang 
dan kemilau fajar hingga senja.
kau suruh pula aku membaca maumu, 
dekatmu saja hatiku liung.

Stabat
November 2015

Monday, November 23, 2015

Perkara Cinta-Cintaan

Saya tidak terlalu hobi menulis hal-hal yang berbau nikah. Tapi sempat dulu saya menguping kaji di mesjid kampus (ya, beda jamaah sih, dulu anaknya gak fanatik), tapi berhubung kajiannya menarik, saya dengerin sampai hampir habis.


Topiknya soal mahabbah; cinta kepada Allah. Beliau meyebutkan ada tiga macam bentuknya perkara cinta ini. Tersebutlah mahabbatullah, mahabbah fillah, dan mahabbah lillah. Saya tidak ingat betul bagaimana syarahnya kecuali definisi singkatnya. Mahabbatullah ialah cintanya hamba karena Allah. Dan sebagaimana layaknya manusia jatuh cinta, tak lepas objek kecintaan dari pikirnya. Mereka yang hati merindu dan pikirnya meronta mencari jalan untuk bertemu. Sepanjang waktu mencari ridhanya Allah. Seolah-olah bahkan ketika makan pun bertanya, "Allah ridha gak ya dengan makananku? Suka tidak ya?" Lalu ketika berpakaian, "Allah ridha gak ya dengan dandananku hari ini? Apa nanti dia ga suka?" Dan tak ada pertemuan yang lebih panjang daripada seorang kekasih yang bertemu pujaannya. Lalu di dalam shalatnya begitu khusyu' dan begitu mendua seolah berjamaah pun hanya ada dia dan Tuhannya.

Mahabbah fillah, ialah kecintaan yang hadir karena alasan. Semisal seorang laki-laki yang sebenarnya tak suka makan bakso. Tapi karena kekasihnya suka makan bakso, maka ia pun belajar mencintai makan bakso. Sampai disini, saya teringat pengalaman yang begitu personal ketika saya benci ayat-ayat perang seolah-olah Islam hanya berbicara pedang. Hingga kemudian, ternyata disebutkan bahwa mestilah ada kebencian dalam diri seorang mukmin akan perang dan pertumpahan darah terkecuali untuk menegakkan perintah Allah. Saya tidak akan menjelaskan disini karena bukan topik kali ini, setidaknya saya lega karena perang pun butuh prasyarat dan kondisi sebelum dicetuskan. Lalu perihal bagaimana ada hal-hal yang sebenarnya kita tak sukai, bila Allah mencintainya, maka kitapun harus belajar mencintainya.

Mahabbah lillah, ialah kecintaan yang terus menerus ditanam atas apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Baik itu yang wajib seperti shalat, zakat, puasa, maupun yang sifatnya sunnah seperti tersenyum, bersih-bersih, menjadi tetangga yang baik, dan lain sebagainya. Iman maupun cinta, sama-sama punya siklus naik turunnya. Namun kekasih yang baik, akan belajar dan melakukan banyak hal agar tidak turun perasaaannya.

Cerita soal nikahnya dimana? Haha. Itu pengantar saja. Saya kebayang seandainya kelak menikah, yang ada hanya rasa kasihan. Saya dan masalalu saya tidak terlalu loveable. Tapi bagaimana kalau saya menikahi seseorang yang bahkan tak menuliskan nama saya di hatinya? Itu...berat. Jikapun tidak mampu dua orang itu saling mencintai, tidak menemukan pula alasan-alasan untuk dicintai, setidaknya ia mestilah mencintai Tuhannya. Ibarat dua orang kesepian yang tidak bergandengan tangan, memakai tabir di wajah hingga tak saling mengenal jiwa, setidaknya satu jalan. Bila begitu, berkuranglah setidaknya rasa kesepian itu. Hingga bila Allah nantinya berkenan, menghapusi satu-satu nama sebelum kami, lalu saling mengukir - sekali dan sampai mati. Dan bila tidak di dunia ini, boleh di akhirat nanti. Aamiin Allahuma Aamiin.