Apakah yang kita harus catat? Apakah kjta harus yang terpenting, mengabaikan yang kurang penting, dan melupakan sama sekali yang tidak penting?Namun apakah jaminannya bahwa yang tidak penting dan boleh dilupakan saja, memang lebih tidak penting daripada yang kurang penting dan cukup diabaikan saja, dan apapula jaminannya bahwa yang kurang penting dan boleh diabaikan, memang kurang penting daripada yang penting - yang tidak bisa tidak mesti dicatat, meskipun menjadi penting hanya karena dibuat agar tampak seperti penting?Sukab - Travelogue
Someone tells me: this kind of love is not viable. But how can you evaluate viability? Why is the viable a Good Thing? Why is it better to last than to burn?Roland Barthes - Lover’s Disclosure
Dua potongan quote ini membuat saya berkontemplasi sedikit tentang upaya-upaya hidup dalam sepanjang perencanaan. Kita suka sekali berbicara mengenai rencana-rencana bagaimana nantinya menjalani masa depan. Perencanaan itu buah baik dari siraman air kerja keras pada hari ini, pada awalnya. Setidaknya memang mekanisme harapan bekerja seperti itu; buah baik yang kita kira pada hari ini.
Adakah yang lebih baik dari hari ini? Adalah sebuah janji yang diletakkan Tuhan di dalam dada hambanya, agar biar bagaimana pun kita terjatuh tidak begitu sakit, katanya. Terserah bagaimana urutannya, perencanaanmu, a sampai z, perencanaan Tuhan, atau sebaliknya, kita tidak pernah benar-benar tahu pada batas mana buah harapan yang benar-benar kita harapkan. Benar kan?
Saya sudah lama memikirkan hal ini, entah seperti apapun motivator favoritmu mengatakan untuk berencana sebelum memulai. Rencana sepertinya hanyalah kesia-siaan. Bukan. Saya tidak mengatakan sebab saya orangnya fatalis, atau malah bersebab pada banyaknya rencana yang gagal. Teruslah berencana. Teruslah berharap. Tapi bukan pada kenyataan yang masih Tuhan jadikan impian. Tapi pada keyakinannya.
Sama seperti ketika kita memastikan mana yang baik mana yang tidak baik. Pada akhirnya, urutan-urutan itu hanya membenarkan mana yang lebih diyakini dan tidak diyakini. Lalu bagaimana bila saya katakan saya berhenti berencana, dan meyakini segalanya. Melenyapkan segala ketidakmungkinan, baik atau buruk, hanya karena bila semesta berencana hancur pun akan berakibat pada perjalanan baru.
Stabat, September 2015
No comments:
Post a Comment