Monday, November 16, 2015

Yang Pulang Dan Berkalung Salam


Emak telah bangun di hadapan Pencipta.
Ditinggalkannya kami di belakang selang-selang penyangga kehidupan.
Hari itu, adzan subuh pertama kalinya kalah berisik.

Jangan pernah sekali-kali kau hirup udara sepi.
Mereka menjuntai dari bisik kumpulan orang asing,
bergemuruh dibalik tenda-tenda simpatik,
keluar masuk dari paru-paru anak yang sakit.
Dan tak lebih perih dari rindu, bertemu tapi abu, biru, sendu.

Perempuan cantik tak lagi bertudung sutra
Dan riasannya berupa senyum tipis yang berjanji tak dimakan usia,
itu juga bila kau tak lupa katanya.
Wanginya harum, seperti kakek berangkat ke surau.
Sama, ia pun diangkat ke surau, 
oleh tandu yang biasa teronggok dekat gudang bedug.

Aku kira aku yang paling menderita,
sebelum perempuan kecil memeluk nisan seolah boneka permainan,
ditekuk kuat, tapi tak ada yang mau merampas.
Kecuali waktu yang lebih dahulu melepas.

Ada dia yang disitu menatap tajam,
di balik selubung Tuhan
Menanti kami pulang.

Medan
November, 2015



No comments:

Post a Comment