Saturday, October 24, 2015

Pinokio

Fadli menggenggam rasa takutnya
dari bengkel sampai tempat ia berdiri
menetes-netes dari celah jemarinya.
meninggalkan jati diri yang selama dua puluh tahun 
terpahat di liang pikirnya.

dalam hitungan menit kini ia terkatung-katung
bibirnya gagap, gelap, hendak berucap mampus
tapi harapan selembar tipis
dibakar pun tak berbau hangus

dan dia diam mendengarkan
bisik-bisik dari rongga tanah
tepat setunas emosi menyerap segala remah
yang lebih dahulu dikuliti cuap-cuap benci.

aku akan berubah...

tapi Fadli bukan ular maupun naga
ia hanya patung yang dipahat dengan sesal
lalu ditiupkan ruh-ruh kegagalan
dipasungkan pula berderet-deret sepah seharum madu
tepat di depan wajahnya, agar ia tak perlu mencari surga

Stabat, Oktober 2015





No comments:

Post a Comment