Monday, December 7, 2015

Nyanyian Kirana

Aduhai. Langit sedang bertabur sonet dan tawamu menyelisir di selasar rumah. Yang kerap merentang kisah, apakah? Kudengar mimpimu adalah tabuh yang tumbuh dari sulur-sulur peluh. Sulamlah lebih riuh! Menjadi berbingkai dan ketat menjuntai. Akan ada aku dan ribuan doa yang kubidik di situ; untukmu.
Kau menanyakan jauh. Aku memastikan utuh. Yang lebih nyeri dari lara bukankah yang tanpa coba? Sebab kata kembara adalah kesima yang menyala-nyala di jantungku. Meski gentar kerap berujar untuk menahanmu lebih genggam.
Sejauh-jauh kau berlayar, sedekat-dekat kau dengan pijar. Kelak tuan, kau akan menyalami alam dengan nyanyian yang dulu kusenandungkan waktu sore di pangkuan. Dadaku adalah lengang yang lebih dari lautan, yang ketika kau kembali pulang, mataku lebih gemericik dari hujan. Sedang pelukku? Berada di barisan terdepan; menampung haru yang lebih semerbak dari gaharu.

Irawati Ningsih
Desember 2015

No comments:

Post a Comment