yang akan datang kukenal sebagai perang. di sabana kau sembunyikan,
berkeliling pula harimau-harimau, mendekat tak kau izinkan.
perutku busung, tak lapar, hanya deru tanyaku tak pernah diberi makan rerumputan hijau.
aku anak ayam yang tertidur dari pandangan elang.
pula suara desis ular yang sering kusangka radio rusak milik pemandu manusia.
dan pada ingar-bingar itulah, aku ketemu lubang persembunyian.
tembus persis di hadapan Tuhan.
"gerbang surga?"
bukan.
mulut buaya.
Medan,
Desember 2015
No comments:
Post a Comment