Showing posts with label rima. Show all posts
Showing posts with label rima. Show all posts

Friday, July 20, 2012

Luluhan

kupangku pudar lalu lantak dunia
kau pacu langkah acuh sekali bicara
kain hitam selendangkan kita
kisah-kisah ini, jangan lagi pernah dibuka

senandungkan aku mantra peniada
sebab rupamu bukan nisan berduka
sejauh mana ratapan surga, duhai adinda
sebelum merah-merah di pagi buta

jelaga hati dikuliti ragu
jenuh berdamai, kau pintakan seteru
jerangkan benci dalam priuk pilu
jerit-jerit bambu, akhirnya pun berdesing mesiu

Monday, May 7, 2012

Sembilu Lalu

menemuimu adalah penciptaan pertama kali
sebelum ceritaku tentang ceritamu membangunkan sajak
untuk kematian perasaan, kutangkupkan berkali-kali
sebelum kau dan rindu serta aku dan kenangan beranak pinak

pinjamkanku dari tuhan berupa keindahan
sebelum ketemukan bengis dan benci menjalar di nadi
karena aku dan tuhan, berkejaran memfaalkan perpisahan
sebelum mengkita, kujanjikan lebih dulu salah satu mati
  
kelak ingatannya kan cedera, tak berhenti untuk menyesal 
airmatanya mengintan, tuk perpisahan yang tak terucapkan
selama takdir menyisipi getir, dibawah mata yang kian menebal
selama wajah-wajah terkambang, dipelukan hatinya ia rebahkan

Stabat, 2012


Thursday, January 7, 2010

Kawan ? (II)


nanti kita kan bertemu
aku di makammu
atau kau dimakamku

sedihmu tak perlu
cukup kita rayakan dgan mesiu
bakar habis masa lalu
dan kita iblis yang berseteru

panggil semua dendam
dari rasa sakit yang kau pendam
tanpa belenggu peredam
mari kita saling menikam

darahmu darahku,
saudaraku yang kubenci
cinta kita tlah lama membeku
dan selamanya terbakar api

Wednesday, December 9, 2009

Teman, kita terika


entah kapan rantai ini mengikat
senyum insan nan lugu
yaah, mungkin terkadang kelat
tapi senja tak kita tak terburu

dengan bijaksana kau cerita
cita-citamu yg membumbung angkasa
yaah, kita harus yakinkan
tujuan-tujuan yg tak perlu disembunyikan

'teman', begitu kau melafalkannya,
'tak perlu kau sudahi dgan airmata' kemudian,
dalam bimbang aku berasa
sedih kecewa lantas kutelan

lalu kapan kau goyah
sandarkan padaku beban raga
kupacu, 'kawan. jangan menyerah'
dan dibibirmu kulihat tawa

sampai dimana kau jemu
ikatan ini kan ku iring
bersama teman kan tuju
sampai bibir biru mengering

Thursday, September 10, 2009

Kitab Cemburu


Aku tidur dengan hangatnya rindu
Berselimutkan panasnya cemburu
Setelah berkelahi mengalahkan waktu
Terkulai kini wajah semakin membiru

 Dalam perih hatiku membeku
Setelah jatuh terluka karnamu
Aku pucat pasi hingga malu
Tak ada pilihan selain diam membisu

Aku dihujani tanya beribu
Namun tak satupun jawab kutahu
Dalam benak ini sungguh berliku
Sungguh kusangka permainan ragu

Kini kusadari dia tlah berlalu
Bersama kasihnya saling merayu
Dan kutulis sebuah lagu
Cerita tentang mimpi mimpi syahdu

Pada Tuhan aku mendayu
Krna cintaku tak pernah bersatu
PadaMu aku kembali mengadu
Di dalam basah sujudnya kalbu