dalam suratku, kan kau temukan jiwa digang-gang ketakutan
bungkus liurku dan sematkan dirongga pelacur yang kehausan
seperti pagi yang tak pernah sempat kita cemaskan
pilih sesumbar risaumu, amplopkan kerumah panti matahari
hingga lipstik, bedak, dan pemerah setahun diwajahmu abadi
seperti harum cemeti yang meledak di punggungmu berkali-kali
buang rindu dan kenangan, sudah sepantasnya kau mati dengan anggur hitam
kau puan, segala candu yang tak pernah pudar dalam ingatan
ya, ingatkan aku mengantarmu pulang, ke rumahku yang terasing dalam hening
No comments:
Post a Comment