Saturday, January 30, 2016

Jalan Kolaborasi

bait 1 : cerita tentang setitik air yang mengendap
bait 2 : laranya di benua/musim dingin, dan kerinduannya pada matahari
bait 3 : angan-angan di musim gugur
bait 4 : angan-angan di musim panas
bait 5 : angan-angan di musim semi
bait 6 : menegaskan rindu dan keputus-asaan.

Beku dan gigil terpaut; ada aku disana.
Terperangkap buliran putih menggunung
Jenuhku menjelma setitik air
Senantiasa akan membeku jua

Akulah teman deburan pucat yang menusuk-nusuk tulang
Yang pada kaca meremukkan sinar cahaya
dan pada tungku perapian, asaku bergumul
mengingatimu yang merajai lintang khatulistiwa

Musim gugur bersaksi pada cakrawala
Remuk aku meliriknya hingga berbuih salju
tiap semilir hadirnya ku coba membaca
Namun, peta masih belum terbaca

Bila saja mampu aku mengalir
dan bermain di bibir pesisir
lalu dibawa alir anak-anak sungai
menguap dan turun lagi
bersamamu menjadi bianglala

Peralihan ku bertemankan pesisir yang menyala
Hadir segala warna dan semerbak aroma menusuk anganku
Kumbang kembang apik ingin ku singgahi
Sedetik saja ku jelajahi, oh semi

dan kapankah kau lelehkan aku segera
rinduku sudah buncah menyamudera


=================

Di penghujung pasir pucat, ada aku disana.
Aku yang hampir membeku oleh jarak
Menjamah sukma ku yang mengigil atas nama rindu
Mengendap pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang masih sama, aku benci
Meracun pikir ku yang tersesat pada satu nama
Padamu temu yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangatmu walau secuil rasa

bila saja kulihat daun menari dibelai angin
gemulainya tiap tari dan rupa
kan kubaca dan resali isyaratnya
Dan pasrah tergoda pula akhirnya

Bila saja mampu aku mengalir
dan bermain di bibir pesisir
lalu dibawa alir anak-anak sungai
menguap dan turun lagi
bersamamu menjadi bianglala

bila saja beralih temanku pasir yang menyala
hadir segala rebak dan warna
menusuk anganku juga aromanya
kumbang kembang apik kusinggahi
cukup sedetik saja ku jelajahi

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera

=================

Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Bila saja kau bawa aku kesana,
Menyemikan kelopak bunga segala warna
Lalu menari di bibir pantai di musim panas
Hingga duduk di bangku taman,
menikmati gugurnya daun-daun mapel yang dibelai angin
Bila saja aku tidak terdampar di sini.

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera

======================

Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Lelahku sudah bicara
Kabarmu bermuara terlalu lama

=======================
Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera
============================================
Aku mengendap di salju pucat
yang hampir membeku oleh musim
Sukmaku pun terjamah rindu yang menggigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau: sua yang tak kuasa kudamba

Dan kapankah kau gelorakan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera.
=============================================

Tersangkut Musim

aku, terjamah gigil
oleh ruang waktu yang muskil
pada salju yang digulung musim
rindu mengendap; di situ

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba

cakrawala kupandang, aduh!
malang, kabarmu tak kunjung datang

Medan - Bekasi
Desember 2015

anakhawa - azizah

No comments:

Post a Comment