Saturday, January 30, 2016

Membalik Mimpi

Aku pernah berharap di balik kulitku hanya ada air, tenang, tanpa gelombang. Dan ketika siapapun melempar jangkar cinta dan benci, aku tak ingin bergeming. 
“Af, kalau kau tak bisa mengerjakannya, bilang dong!”
“Loh itu kan bukan tugasku. Af, kan kamu juga ikutan dengar, kok ga ngabarin aku?!” Aku merasa tugasku terlalu banyak, penuh tekanan dan aku hanya ingin lari saja.

Sadar bahwa menjadi air, aku terlalu mudah mendidih lalu menguap, atau terlalu cepat dirundung sunyi lalu aku membeku. Oleh karena itu, mengurung diri menjadi jawabanku. 
Aku pernah berharap di balik kulitku hanya ada api, panas, dan sangat menyengat. Dan ketika siapapun melempar penuh iri, perhatian palsu dan hasrat mendengki – seketika akan melepuh. 

Pintu diketuk tiga kali. Aku masih mengantuk. Pintu diketuk lagi, lalu ibu masuk. “Afat, sudah jam berapa ini? Kamu ga pergi bekerja?”
“Ah ibu, aku masih capek ini. Ibu jangan ganggu aku dulu! Nanti kalau sudah segar juga aku keluar!”, aku setengah berteriak. Kesalku salah tumpah. Tapi aku tak acuh. Kusembunyikan wajahku dibalik bantal. Kudengar ibu berdiam, tak lama pintu ditutup.
Pada malam hari kuintip ibu duduk di ruang makan, melamun. Aku cukup tahu apa yang disembunyikan di wajah pias itu. Di depannya, nasi penuh lauk tampak dingin. Dan ketika ia sadar aku berdiri di depan pintu, senyum mencerahi wajahnya sedikit, “Af…”
Sadar bahwa menjadi api, aku terlalu lemah pada sejuk tatapan sedih, atau bahkan mudah padam bila disiram tulus airmata. Tak ingin kulukai sesiapa, maka kusembunyikan dari mata pengasih.
Dulu di rumah ini ada ayah, ibu dan aku. Tapi perlahan kami kehilangan bagiannya. Ibu kehilangan belahan jiwanya, ayah kehilangan nyawanya, dan aku merasa waktu mencuri seluruh sandaranku.
Aku sudah puas tertidur, saat duduk bersandari di dinding tak sengaja mataku tertuju di bingkai foto itu. Wajah tiga orang yang tertawa di taman ria.  Aku pun pernah berharap tak menjadi apa-apa. Biar saja menjadi anomali, yang waktu juga takkan perduli. Tapi malam ini, tiga bayangan di foto itu menggamitku sampai bermimpi.
Keesokan paginya aku menghambur dari kamarku, segera kuketuk pintu kamar ibu. Kupeluk ibu sambil tersedu-sedu. Aku ingat benar bisik tiga bayang itu dalam mimpi. Seperti ucapan mereka padaku, kuucapkan pada ibu, “Maaf , meninggalkan ibu sendiri.”

Medan, 2016

No comments:

Post a Comment