Sunday, January 24, 2016

Cowok

Sebenarnya sudah lama aku mau nulis ini. Berkali-kali ngecek ke dalam diri sendiri dulu -- seobjektif apa hasil tulisanku nanti. Tapi sebodoamat lah, anggap saja aku setengah munafik waktu menuliskan ini. Biasa nulis juga ngalor-ngidul.

Apa? Apa? Aku mau menuliskan tentang cowok di tengah trend Wanita Selalu Benar, feminisme, emansipasi dan kawan-kawan. Di zaman yang laju informasi tak terbendung ini, melemparku ke suatu masa saat SMP, entah tahun 2001 atau 2002. Internet masih suatu hal yang luar biasa yang tak semua orang menikmatinya. Tepat sebelum friendster booming. Kebetulan aku pernah pakai sekali coba-coba di rumah. Tapi berhubung sewaktu itu masih bego, dan koneksi internet belum semurah sekarang, alhasil tagihan telepon kami sampai sejuta lebih! Emak marah. Ayah terdiam. Wassalamu'alaikum Internet.

Tapi tak lama, ada warnet telkom baru buka. Jadilah entah usul dari temanku yang mana, pergilah kami beramai-ramai ke internet. Balada anak kampung ketemu teknologi. Kami sekitar 10 atau belasan orang, dan waktu itu komputernya tidak bersekat-sekat antara satu dengan yang lainnya. Privasi apakabar? Aku ditodong jadi pengguna, sementara belasan kawanku menonton di kanan kiri belakang tempat dudukku. Apa yang situs kami buka? Coba tebak!

Situs porno!! Yak, benar sekali sodara-sodara. Belum ada Internet Positif waktu itu kalau kita menuliskannya di searching engine yahoo. Apa hasil yang nampak pertama, asal klik saja. Aku menunduk sementara mengintip-intip mana yang bisa di klik sesuai petunjuk teman-temanku. Temanku ketawa-ketawa saja. Kegirangan. Gak tahu deh reaksi operator di belakang itu gimana, segerombolan anak SMP jadi saksi sejarah Ghazwul Fikr. Selamat datang Wahai Zaman! 

Belum terpikirku saat itu, bahwa kepolosan segerombolan laki-laki belum matang tadi terkikis pelan-pelan. Pada kenyataannya, yang notabene anak kampung saja sekreatif itu usilnya. Apalagi anak kota yang dimana akses begitu-begitu lebih cepat.

Mau bicarain apa deh kira-kira? Tunggu. Ceritaku belum selesai

Ada fenomena lain yang cukup sering aku perhatikan, yaitu mata keranjangnya cowok. Sering banget kalau aku lagi di angkot aku memperhatikan mata cowok yang ngekorin cewek turun dari angkot, cewek yang berdiri di jalan, cewek yang naik kereta papasan dengan angkotnya, dan segala jenis cewek. Ada juga yang curi-curi pandang lewat spion atau segala kaca yang bisa merefleksi keberadaan cewek.

Ah kali aja cowok brengsek itu? Ikhwan-ikhwan pengajian apa kabar? Nah, metodenya lebih asooy lagi malah.

Mushalla kampusku rada unik posisinya. Kebetulan ada kipas angin di dekat hijab pemisah, tapi masih di bagian laki-laki. Selain untuk kepentingan rapat-rapat, aku sendiri jarang berada di daerah situ kecuali buat berbual dengan mereka yang kebetulan ngadem disitu. Aku kurang suka duduk daerah situ karena dekat sekali dengan pintu keluar. Jadi mereka yang diluar bisa mengintip kedalam, Siapapun yang mondar-mandir ke kamar mandi. Aku mah sukanya tidur di spot dekat jendela. Tidur di bawah kipas angin itu gak ngenakin. Eh terus bagian pentingnya?

Nah, aku gak tau sejak kapan ngetrend setelah sholat itu, sebagian cowok (sebagian lho) itu hobi berbondong-bondong ngadem di bawah kipas angin yang notabene ada sekitar lima langkah kebelakang dari shaf kedua. Maksudnya, sebegitu panasnya kah habis sholat? Zikir dulu kek, eh maksud ana mau ngeringin air wudhu ya? Hihi~ Ada juga waktu di mana, mereka suka tilawahan deket hijab situ. Aku aja yang semau narsis-narsisnya baca tilawah depan cewek mikir-mikir bacain apa, sempet salah tajwid harokat, wuayoo...gagal kereen! Lah ini, rata-rata tilawah setengah juz. Pamer akh? Eh maaf. Bukan begitu maksudnya. Pernah suatu kali aku bercerita dengan senior yang emang rada-rada, tapi aku respect sama belio. Sewaktu zaman-zaman ghadul bashor itu ya Allah ketat gila. Bisa muter arah, mutar dah biar gak papasan sama lawan jenis. Belio pas ngelanturnya bilang gini, "Aduh akh, kalau sempat seorang ikhwan itu VMJ, dengar suara di balik hijab aja Masya Allah..." Nih, negatifnya. Tapi positifnya yang aku tangkap adalah, ghadul bashor menurunkan tingkat mata keranjang jadi telinga keranjang. Aduh ketawa dulu...Hahahaha. Eh maksudnya, dia bisa malu kalau dengar suara aja. Makanya akhwat-akhwat situ dilarang lembek-lembek.

Aku juga keranjangan sih, even temanku yang bagus yaumiyahnya pernah suatu kali teman cina cewek sekelas pakai rok mini (dia jarang pakai rok), dia entah gak sadar atau engga melototin paha temenku yang masuk kelas itu. Aku mikirnya, "Oh ternyata dia manusiawi juga. Btw hilang berapa dah itu hafalannya..."

Aku gak mau bahas dalil, atau dari segi baik buruknya di mata cewek, feminisme, emansipasi wanita, dan lain-lain. Aku juga tertarik, dan barangkali ga ada bedanya sama yang kusebutkan di atas. Cuma terkadang satu nafsu itu luarbiasa banget dah kelihatannya. Mungkin juga aku de-sensitif karena terpapar sekian lama. Nah loh. Tapi mungkin juga kadang aku emang malu. Pernah gitu, aku sengaja NIAT mau natap cewek gak dikenal, pas duduk di depanku di angkutan. Rupanya kan dia duluan yang lihat aku. Reaksi, aku duluan yang buang muka. Nelan ludah dah. Kenapa E? Gak cantik woy. Wakakakaka. Eh ga gitu lah. Ya malu. Ish.

Pernah juga pas lagi main ke mall sama adikku yang cewek, pas nitipin barang aku tahu ini mbak-mbaknya luarbiasa cantik. Cuma kulihat sekali. Eh malah adikku nyeletuk, "Mbaknya cantik yaa". Kalau adikku dah ngomong gitu berarti bener cantik. Pas udah pergi jauh, aku ada rasa juga pingin lagi ngecek, modusnya "yang bener? masa?". Tapi gak gitu juga. Selain kepentingan ngobrol dan hal-hal lainnya, aku emang cuek. Kadang cewek-cewek yang baru kerja di rumah aja aku gatau mukanya kayak apa. Seminggu dua mingguan kalau kepaksa nyapa aja baru kelihatan mukanya.

Gara-gara ngaji dah, sekalipun keranjangan ada kepikiranku begini "Kalau cantik emangnya kenapa?" Maksudnya ya, cantik yaa cantik. Ditatap tapi ga punya, ujung-ujungnya cuma dibawa ngayal. Ngayal apa? Ngayal punya. Enak engga. Sedih yang iya. Punya pacar/istri cantik itu ada gak enaknya. Kadang cantiknya dinikmati orang lain juga. Dibawa ngayal orang lain. Nggg...buat aku yang anaknya cemburuan abis, cewek cantik itu simalakama. Pingin istri cantik iya juga sih. Tapi gak mau bagi-bagi. Priviledge cowok macam aku beginilah yang kemudian berkembang, "Maunya aja ceweknya jaim, tapi cowoknya tebar pesona kemana-mana." Ngggg...

Iya emang. Zaman sekarang, regardless the gender, ketulusan orang lain gampang disalahartikan. Tapi sebaliknya, sepikers pun suka mengambil ketulusan sebagai excuses. Baiknya gimana? Mengunci diri dari peradaban? Membentengi diri dengan cadar-cadaran? Mementali diri dengan sikap tegas dan untolerable, unquestionable principal?

Aku? Aku gak tahu jawabannya. Bahkan yang disokong dengan dalil agama sekalipun yang sering bahkan tampak paradoks dan anti-klimaks. Mungkin kurang ngaji. Nah sementara itu, aku milih bunuh diri. Blending mencari kenyamanan sendiri, minta maaf sama calon jodoh di akhirat nanti. Duh umi, calonmu ini masih brengsek. Selipin do'a biar aku bisa menjaga diri.

Medan, 2016

NB:
Nulis sambil diketawain Manja.
Dia bilang, "Nah, cepet nikah sana, An...!"
Aku, "Nggggg....."

No comments:

Post a Comment