"bila aku ingin, tentulah aku ingin. melihat perempuan itu beruban, memapahnya ke pasar tuk memilih-memilih sayuran, lalu membilas kakinya yang penuh kerutan."
Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Tuesday, February 25, 2014
Monday, February 24, 2014
Pekat
kita melihat jam dingin itu,
yang kilau legam, menimpali cahaya keemasan,
terpaku,
urung tuk melanjutkan detik.
tapi ia berdiri, menahan kaki kursi yang dimakan rayap
yang tak peduli, perlahan-lahan diselimuti abu kayu.
aku juga merasa dingin.
bersama angin dan dedaunan berbentuk bintang,
yang menampar-nampar dari belakang.
bagaimana denganmu?
kaki-kaki terpasung,
sendu menertawakannya.
lalu kau merengkuh syahdu,
tubuhku yang tak lagi memiliki deru
belum sampai sadarku kembali,
aku melirih.
jiwaku atau jiwamu kah yang dicuri waktu?
Stabat, 24 Februari
disadur ulang dari sebuah puisi
Monday, February 17, 2014
(An) : Jingga yang sepi, yang duduk sendiri
Bila bercerita tentang takdir tentulah sembilan bulan yang lalu bukanlah awal. Tapi di buku catatan Tuhan, jahitan takdir tidak pernah salah. Motifnya berwarna, bercampur dengan entah takdir siapa saja. Rajutan takdirnya tiba-tiba menuju pusat segala perhatianku. Mungkin. Dia sudah terjahit rapi di buku catatan Tuhan, sebagai kuncup bunga. Dan aku digiring secara rapi, menjadi tangkainya, berharap mampu memekarkan takdirnya; lebih panjang dari hidupku. Yang terakhir itu sebuah do'a.Sembilan bulan yang lalu.Sejujurnya, urusan kuliahku tak ada urusannya dengan kesibukanku selalu singgah ke tempat itu. Seujung kuku pun. Dan pekerjaan sampinganku sudah cukup memakan waktu, walaupun memang tidak setiap hari. Tapi membantu mengajar di salah satu sekolah desa Rukun Sejati sudah menjadi komitmen awalku. Rin sebenarnya yang merekomendasikan tempat ini sebagai tempat pengabdian kemahasiswaan terakhir. Dan aku tak mau tahu lebih banyak dari jaringan kliennya yang nomer berapa yang juga turut andil merekomendasikannya. That's it. The chain of fate. And it's not finished yet.
Jarak tempuh dari kosan ku yang sekarang dari tempat pengabdian memakan waktu sekitar dua jam kurang. Untungnya angkutan menuju desa itu dua puluh empat jam. Sampai di depan gapura desa, aku harus berjalan lagi sekitar tujuh menit untuk sampai sekolah. Sebenarnya jatah mengajarku hanya satu mata pelajaran. Tapi tentu saja bohong. Barangkali hampir semua sekolah dasar di daerah terpencil kekurangan tenaga pengajar. Ya, sekolah dasar. Aku harus mengajar tiga mata pelajaran sekaligus, selama empat hari seminggu, dan berhadapan dengan mental anak-anak. Well, aku tidak keberatan. Aku tidak terlalu penyayang dengan anak-anak, itu sebabnya aku meminta kelas lima dan kelas enam saja. Alasan kedua, kau tahu yang ini agak dilematis jika harus kusampaikan.
Bukan Rin namanya, kalau setiap bahasanya, ajakannya tidak memiliki makna politis. Aku hampir mengoyak-oyak kemejaku saat hari pertama mengajarku selesai. Minggu berikutnya, justru aku berdo'a agar jam mengajarku jangan selesai lebih awal. Yap. Di desa itu, bila dari sekolah berjalan lagi lebih kedalam, kira-kira dua ratus meter, kau akan menemukan kumpulan bangunan bercat kuning dalam kompleks berukuran kira-kira dua halaman sepak bola. Tepat setelah pintu gerbangnya, ada lapangan kecil serbaguna yang lebih kelihatannya hanya dipakai untuk upacara. Walaupun aku tidak mengerti bagaimana orang bisa mengetahui kompleks apa ini karena desain platform namanya tersembunyi dibalik dinding gerbang itu. Tertulis "Panti Asuhan Harmoni".
Setiap pekannya, kelompok grup relawan (salah satu jaringan Rin) yang terdiri dari lima sampai enam orang datang ke sini untuk membuat acara sosial. Tentu saja, pada awalnya aku secara terpaksa ikut bantu-bantu sebagai seksi sibuk. Bukannya aku tidak menyukai kegiatan-kegiatan sosial. Tapi bila harus bekerja sama dengan orang-orang 'asing', terlebih tiap pekannya diganti terasa merepotkan dan meninggalkan rasa ganjil secara khusus. Ini penyakit interpersonalku.
Secara otomatis, jadwalku yang seminggu empat kali ke sini harus bertambah menjadi lima sampai enam hari. Bila segalanya menjadi tak terkontrol, mau tak mau aku tak bisa pulang ke kosan. Soal menginap tak usah ditanya. Semua penduduk dengan senang hati menawarkan rumahnya. Tapi aku lebih memilih untuk tidur sendirian di surau samping panti dengan bercahayakan hanya lampu semprong. Ajaibnya stop kontaknya masih berarus. Dan ini alasan terakhir aku sanggup bertahan di surau sendirian.
Mata yang berisik.Setelah sebulan pertama ikut bantu-bantu di panti tiap pekan, ibu-ibu pengasuh lebih mengenalku daripada anggota relawan. Pekerjaanku meliputi mengangkat sarapan dan membagikannya bila itu berbentuk nasi kotak. Jika tidak, aku harus menuangkan nasi dan lauk secara adil tergantung pada umur berapa yang mengantri. Ada yang merasa mendapat nasi kurang, padahal nasinya sudah lebih banyak. Ada yang ogah-ogahan makan, tapi aku tetap tidak boleh mengiyakan permintaan mereka. Begitu kata Mbok Rami, salah satu ibu pengasuh yang paling cerewet soal makanan.
Sebelumnya aku tidak memperhatikan, tapi ada satu gadis kecil yang kapan pun bila kutanya, "Cukup nasinya? Cukup lauknya?" Dia tidak pernah menjawab. Anak-anak yang lain selalu berkomentar tentang nasinya, bila tidak langsung ngeloyor ke meja-meja makan. Tapi gadis kecil ini selalu menunggu aku bertanya seolah-olah itu adalah kerupuk yang aku selalu lupa untuk tambahkan. Bila aku sudah bertanya, dia pun pergi tanpa ada perubahan di ekspresi wajahnya. Wajahnya oval kecil. Pipinya putih merah, tampak urat-urat biru sepanjang pipi sampai lehernya. Matanya tampak besar tapi tidak, justru kelihatan tak pernah digunakan untuk membelalak atau berteriak layaknya anak-anak seumurannya. Lingkar matanya selalu alami tampak merah. Tidak bengkak. Rambutnya sebahu dengan keriting-keriting kecil diujung rambutnya. Satu lagi, dia selalu memegang buku cerita lusuh agak besar. Hard covernya bertuliskan, "Rumah Jingga". Belakangan aku tahu, dia dipanggil Jingga. Nama aslinya? Tak seorang pun tahu.
Di suatu sore ketika aku berjalan menuju surau, ya aku lembur, tatapanku tak sengaja menangkap Jingga yang sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman di lapangan. Mungkin kebetulan. Karena lebar pintu gerbang itu hanya bisa menampakkan wajahnya sekitar empat detik. Entah bisikan apa saat itu yang berhembus di telingaku. Tepat dua detik setelah wajah Jingga menghilang di balik dinding itu, aku berhenti sejenak dan memutuskan untuk singgah sebentar ke panti. Aku berjalan pelan menuju gedung utama. Untuk mencapaiya aku harus menyusuri lapangan kecil sebelah kiri dan melewati koridor yang menghubungkan gedung utama dengan kantor administrasi. Jingga duduk jauh di sebelah kanan lapangan, tapi aku masih bisa merasakan tatapannya yang mengikuti bayanganku. Sembari pura-pura melihat anak-anak panti dari berbagai umur yang berserak di lapangan kecil itu.
Sesampainya di gedung utama, aku hanya menemukan Mbok Firda yang sedang menyapu dedaunan flamboyan di depan gedung utama. Beliau menyapaku sopan, tidak kaget dengan kehadiranku. Aku mengambil dudukan di pagar balkon dan meletakkan tasku di dekat situ.
"Yang lain pada kemana, Mbok?" Maksudku para ibu pengasuh."Rami lagi belanja buat makan malam. Minah kayaknya ada di depan tadi jagain anak-anak. Kalok si Sri lagi ngerumput di taman belakang sama anak-anak putri.""Oh.""Mas An ndak pulang?""Ndak Mbok, agak banyakan tugas hari ini sama besok.""Wes, mangan bareng sini aja Mas.""Iya Mbok. Oh iya, omong-omong Jingga itu umurnya berapa tahun ya Mbok?""Hmm? Jingga?" Mbok Firda mengulang pertanyaanku sembari menghentikan sejenak aktifitasnya. "Empat tahun kurang." lanjutnya."Udah berapa lama disini?""Maksud Mas, kenapa bisa sampai disini?", Mbok Firda merevisi pertanyaanku. Mungkin pertanyaanku sudah biasa baginya."Hehe, iya Mbok.""Itu si Rami yang lebih tahu dan paham. Saya kurang tahu detailnya. Kalo disini, baru sekitar empat bulan. Masih baru." lalu Mbok Firda melanjutkan aktifitasnya."Hmm..""Tapi, yang pingin adopsi Jingga udah banyak. Imut-imut gitu." Mbok Firda menambahkan. "Tapi, si Rami yang ndak ngasi. Kami ya sepakat aja. Kami percaya sama Rami."
Pikiranku mulai bercabang. Tapi aku berusaha penasaran sewajarnya. Mbok Firda kemudian menyelesaikan tumpukan daun yang disapunya. Masih memegang sapunya, kemudian mengambil tempat duduk di sampingku.
"Ndak usahkan orang tuanya yang baru nanti. Lha kami aja yang udah puluhan tahun saja bingung lihat Jingga. Banyak anak yang sampai kesini dengan berbagai macam alasan. Punya trauma, ketakutan dan segala macamnya. Yang pertama sampai sini nangis lah, mau kabur, sampai juga ada yang ngamuk berminggu-minggu. Alasan-alasan itu gak bisa terbuang begitu saja. Butuh waktu kadang sampai tahunan, Mas. Kami bukan ya yang terlalu berpengalaman juga. Tapi kayak si Rami yang udah puluhan tahun disini, paling senior di antara kami, kami sepakat bahwa kebahagiaan anak itu paling penting kalau mau anak-anak dari sini. Bukan uangnya loh Mas." Mbok Firda tersenyum. Aku hanya menyepakati dalam hati. Menunggu kelanjutan ceritanya.
"Tapi anak-anak biasa saling nyemangatin, saling perhatian. Kalo yang tua-tua kita gini lamban, kalo sama yang seumuran cepet nyambungnya. Bagi kami, panti ini, mesti jadi rumah yang nyaman bagi mereka. Ndak ada pilihan lain. Prioritas. Soal donatur perihal lain. Kalo cerita duit, si Rami itu paling pelit. Tapi kalo cerita anak-anak barangkali udah ludes semua tabungan kami demi anak-anak."Mbok Firda mengambil nafas panjang.
"Kalo soal Jingga...anak itu agak lain. Saya bukannya ndak tahu asal-usulnya. Tapi Ramilah yang berhak cerita. Dari pertama kali sampai disini, dia satu-satunya yang ndak bisa berubah. Kalo Rami bilang 'belum', 'sabar', 'nanti aja'. Kalo soal makan Mas An tau ndiri, anaknya gak rewel. Kalo sama kawan-kawannya juga biasa aja, main bareng, belajar bareng. Tapi kami tahu...dia itu masih memperlakukan dirinya sebagai tamu. Dikit banyaknya pastilah kami sedih."
Aku terdiam. Mencoba mengingat selama sebulan ini suara Jingga. Dan ternyata aku belum pernah mendengarnya. Aku memperhatikan wajah si Mbok. Pastilah keras perjuangan ibu-ibu pengasuh untuk membahagiakan puluhan anak-anak ini. Kuperhatikan satu-persatu kerutan di wajahnya yang berumur kepala lima. Setiap kerutan itu berasal dari anak yang mana. Dari empat ibu pengasuh, cuma Mbok Rami yang perawakannya paling tegar walaupun dari umur beliau paling senior. Aku pun mulai berpikir bagaimana caranya menghidupkan 'warna' panti ini.
"Wes, mandi dulu kamu sana di belakang. Mbok juga mau manggil anak-anak.""Ndak mbok, di surau saja." Aku bangkit dan tersenyum. Lalu bersama-sama Mbok Firda ke lapangan.Sembari membantu menyuruh anak-anak masuk untuk mandi dan mengaji sore, aku mendekati Jingga yang sedang serius membaca buku lusuhnya. Ia tak sadar kudekati."Jingga." Aku memanggilnya pelan dan setengah menunduk
Kuperhatikan tubuhnya membeku. Lalu seperti gerakan slow motion, dia menutup bukunya. Menegakkan kepalanya datar, tanpa mendongak dia menatapku. Ekspresinya secara alami tidak mengernyit. Tapi matanya menyipit karena tidak mendongak itu. Baru ini aku memperhatikannya dekat dan lekat. Di bibirnya ada senyum tipis, terlalu tipis bahkan seakan-akan disapu angin pun hilang. Dan matanya. Entah apa yang terjadi, panggilanku barusan terngiang lagi ditelingaku. "Jingga". Lalu matanya menjawabnya. Dengan suaranya. Dari pita suara yang aku masih berimajinasi berbunyi seperti apa. Lewat mata itu kami bercakap-cakap banyak. Seolah mimpi di malam hari, pada detik berikutnya kau lupa bercerita apa dengan perasaan buncah yang seperti apa. Matanya terlalu berisik.
Jingga melompat dari tempat duduknya, membuyarkan imajinasiku tadi, melewatiku pelan. Mengikuti barisan Mbok Firda yang pelan-pelan juga menghilang dari balik koridor.
Hei...apa yang barusan itu?
Subscribe to:
Posts (Atom)