Monday, September 23, 2013

Impian [1]

dari lidah pena, kita akan belajar titik dan koma
dari lidah peristiwa, kita akan petik suka dan luka
dari keduanya, aku menuliskan puisi dan cerita
lalu terserah padamu, menjadikannya makna atau sia-sia

bila takdir enggan merodakannya
pada siapakah kuadukan duka yang tak berujung
bila engkau dan tuhan telah duduk malas di meja surga
lalu terserah pada siapakah, hidup akan dijunjung

kelelahan ini meminta alasan
perjuangan panjang, yang aku pun tahu takkan menang
berikut pedihnya berdiri tanpa kekuatan
di mimpi atau kenyataan, aku hanya ingin pulang
rin...
mereka telah menolak dan mempermalukanku di kaki langit.
mereka bilang, mereka tak bisa memulai menghukum ruh yang berserakan.
jadi, aku dikembalikan. aku pulang.

padamu, sekarang, rumah kecil itu telah berubah menjadi gundukan dengan kamboja layu.
apakah engkau masih disana? aku tak tahu harus kemana.





Wednesday, September 18, 2013

Makam [2]

Ditengah malam seperti ini, biasanya penjaja peti mati mulai berkeliling kampung. BIla kamu terbangun tengah malam, mungkin kamu akan berpikir untuk tidur lagi atau pura-pura tidur kembali. Kamu mungkin tidak begitu berani, saat penjaja peti mati itu diam-diam mengintip dari jendela kamarmu. Dan bila saja kamu memutuskan untuk membuka mata, barangkali kamu dengan penasarannya dan sengaja menatap matanya dibalik kaca jendela. Dan dia akan berkata, "Mau beli peti mati?"

Bila sebelum pagi resahmu belum juga reda. Cobalah pesan satu peti mati. Peti mati yang biasanya diseret dari rumah si penjaja. Kamu akan mendengar suara kayu berderit dari gesekan aspal yang dingin. Dan penjaja peti mati akan dengan senang hati mengetuk pintu di ruang tamu. Dan dia akan berkata, "Hatimu saja atau sekalian jasadmu semua?"

Aku pernah melihat penjaja peti mati. Seperti ini, sebelum pukul tiga pagi. Wajahnya lusuh dan pakaian putihnya bercampur lumut-lumut. Aku mengintip diam-diam dari lubang bambu dinding rumahku. Salah satu peti matinya menganga memanggil-manggil seperti kesepian. Kesepian yang panjang. Disela-sela mulut peti mati itu, kulihat mata yang bersembunyi dibalik gelap. Mata yang tak asing lagi. Mata ibuku. Sebelahnya mata pualam berwarna biru. Matamu. Aku menggigil. Sebelum akhirnya pintu kayu ruang tamu kembali diketuk.

Penjaja peti mati tak pernah dipanggil. Bukan seperti penjual roti atau mie yang lewat saban hari dengan terompet atau lonceng besi. Tapi sesaat sebelum hatimu memanggil, selalu ada erangan suara kecil dari kayu peti mati. Suaramu sendiri.