dingin udara menembus pakaianku..
tapi terasa hangat...
karena hawa nafasmu tertawa bersamaku...
risau berbisik masalah berderu...
tapi terasa ringan..
karena menyentuh tanganmu berjalan bersamaku...
dari awal ku pikir ini tiada akhir...
kita menempuh semua berdua...
meski ada mereka, yang terdengar hanya kita...
tapi nyata bahwa tanganmu, terlalu licin untuk terus kugenggam...
senyummu terlalu manis, tingkahmu terlalu menyenangkan...
jika terus berlanjut...
aku takut aku tidak bisa mengganggapmu teman selamanya...
maka ketika kau melepas genggamanmu...
yang kulakukan hanya mendesah...
Kukira kehidupan diukir dari kumpulan kebetulan atau kesengajaan. Umumnya, kita bertemu dengan orang-orang di kehidupan ini adalah sebuah proses kebetulan. Dan khususnya, aku sengaja menemukan seseorang. Ya, aku sengaja menemukannya.
Aku biasa mengetuk pintunya dengan huruf-huruf tertata. Aku juga terbiasa merapatkan rahangku mendengar derit pintunya bernyanyi. Dan beruntung, yang kudapatkan adalah sebuah senyuman yang dipaksakan. Kami menukar nada, mulai dari jangkrik yang berbisik hingga paduan semilir angin lembut.
Sebut saja dia matahari-yang biasa berjendelakan kumulonimbus. Sinyal dari henponku terbirit-birit menuju ujung pulau. Tempat dia-matahari terduduk malu-malu. Atau biasanya saat lelah dan kantuk menerobos dia-matahari yang bergeliat kesepian di tengah canda burung-burung gelatik. Dia-matahari akan menyengat. Aku pun geli, dan mulai berbasa-basi dengan intonasi terbangun. Kami makhluk planet asing, bahasa kami monoton.
Tapi tak jarang kami bercerita tentang surga. Bagaimana kami duduk bersama di bawah pohon sakura, atau di hamparan padang rumput-dimana beraneka layangan berwarna-warni mengisi langit yang membiru. Atau tentang pohon maple dan ginko yang menguning saat musim gugur tiba.
Dia pemeran antagonis-yang tersenyum sangat manis
"Hey, suatu hari aku ingin ketempatmu, bagaimana??"
"Really?? datang saja!! I'll be waiting.."
Itu hanya cerita, yang bagaimanapun ku berusaha bercerita seindah mungkin, kenyataannya lebih indah. Kenangan, yang kupaksa rekam dalam kata, akhirnya terseok dalam titik-titik airmata. Ah, aku tak sanggup. Sekian sajalah... Karena aku bukan penceritera yang handal seperti ia.
Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Showing posts with label sahabat. Show all posts
Showing posts with label sahabat. Show all posts
Sunday, February 27, 2011
Thursday, June 10, 2010
Selamat bahagia

kau dulu menangis, aku tahu
kau dulu tertawa, aku lebih tahu
tulis saja keinginanmu dikertas
biar kujadikan perahu yang melayang
berlayar menuju arsy tinggi di surga
kini biar kutulis sampaikan sejuta do’a,
tapi kau tak perlu tahu,
tanganku mulai tak sanggup menata kata,
melawan hati yang kian deras alunannya
biar saja perlahan kusampaikan
pada Pemilik Segalanya,
bahwa temanku sedang bahagia,
biarkan hatinya bahagia selamanya…
Sahabat Selamanya
saat masih berdiri di depan pintu masa depan
saat kenangan masih belum ada
dan kita ukir disitu, perlahan dan selamanya
saat semua mimpi bergitu haru
saat semua yang kita rasa masih terasa begitu nyata
dan kita percaya tawa selamanya
tapi kawan…
mimpi itu bukan simpang tiga empat
yang biasa kita lewati sehari-harinya
ada seribu atau sejuta jalan setapak disana
yang tiap langkah membuat kita berbeda
saat pertama kita selalu akan bicara
saat kedua kita akan meratap berdua
saat ketiga kita akan saling menukar cinta
saat keempat kau akan bilang, “kenapa…”
saat pertama kita sudah tutup bahasa
saat kedua gelora sakit membuat kita lupa
saat ketiga kita akan saling menukar kecewa
saat keempat kau akan bilang, “kenapa…”
tapi kawan…
mimpi itu pernah ada
yang dulu sama-sama kita gantung di langit
ada sejuta atau seribu malaikat berdansa
yang tiap do’anya mempertemukan kita
kita manusia, berbicara dengan hati yang perasa
kita kerdil, dengan segala ciptaan nuansa
luka-luka ditutup lembut, takkan hilang tapi tiada berasa
kitab-kitab rencana ditata ulang, kita belum hilang suatu asa
sesungguhnya kita saling percaya, jauh disana
sesungguhnya kita saling berharap, walau tak dikata
dan inilah kita, yang melihat dan tertawa
dan inilah kita, yang menangis dan tersenyum
biar saja Tuhan sesuka-Nya memplintir kehidupan kita
karena rantai pengikat hati takkan lepas selamanya
Thursday, January 7, 2010
Kawan ?
kawan...
biarkan aku datang
membasuh sisa-sisa airmatamu
lalu kutegarkan hatimu
kawan...
kau suka bermuram
biar luka meledak berhambur
kawan...
aku hanya pengelana
terkadang egoisku bergolak
dan kau pun jadi saksi khianatku
kawan...
kau semakin tersungkur
dan akhirnya kau memilih takabur
kawan...
hanya begitu persahabatan kita
lalu semua aibmu kubuka
cacianmu semua kuterima
akhirnya tali itu musnah tak bersisa
kawan...
terkadang nikmat membutakan mata
akan waktu yg terus berdetik mundur
kini kita hanya insan yg futur
kawan...
entah kapan dan dimana
bersama sesal tak guna
kata maaf pun tak bisa
waktu tak bisa kembali
dan dalam diam aku binasa
mungkin kau juga disana
Wednesday, December 9, 2009
Teman, kita terika
entah kapan rantai ini mengikat
senyum insan nan lugu
yaah, mungkin terkadang kelat
tapi senja tak kita tak terburu
dengan bijaksana kau cerita
cita-citamu yg membumbung angkasa
yaah, kita harus yakinkan
tujuan-tujuan yg tak perlu disembunyikan
'teman', begitu kau melafalkannya,
'tak perlu kau sudahi dgan airmata' kemudian,
dalam bimbang aku berasa
sedih kecewa lantas kutelan
lalu kapan kau goyah
sandarkan padaku beban raga
kupacu, 'kawan. jangan menyerah'
dan dibibirmu kulihat tawa
sampai dimana kau jemu
ikatan ini kan ku iring
bersama teman kan tuju
sampai bibir biru mengering
Subscribe to:
Posts (Atom)