Sunday, February 27, 2011

I'll Be Waiting...

dingin udara menembus pakaianku..
tapi terasa hangat... 
karena hawa nafasmu tertawa bersamaku... 
risau berbisik masalah berderu... 
tapi terasa ringan..
karena menyentuh tanganmu berjalan bersamaku...


dari awal ku pikir ini tiada akhir...
kita menempuh semua berdua... 
meski ada mereka, yang terdengar hanya kita... 
tapi nyata bahwa tanganmu, terlalu licin untuk terus kugenggam...
senyummu terlalu manis, tingkahmu terlalu menyenangkan... 
jika terus berlanjut...
aku takut aku tidak bisa mengganggapmu teman selamanya...

maka ketika kau melepas genggamanmu...
yang kulakukan hanya mendesah...

Kukira kehidupan diukir dari kumpulan kebetulan atau kesengajaan. Umumnya, kita bertemu dengan orang-orang di kehidupan ini adalah sebuah proses kebetulan. Dan khususnya, aku sengaja menemukan seseorang. Ya, aku sengaja menemukannya.

Aku biasa mengetuk pintunya dengan huruf-huruf tertata. Aku juga terbiasa merapatkan rahangku mendengar derit pintunya bernyanyi. Dan beruntung, yang kudapatkan adalah sebuah senyuman yang dipaksakan. Kami menukar nada, mulai dari jangkrik yang berbisik hingga paduan semilir angin lembut.  

Sebut saja dia matahari-yang biasa berjendelakan kumulonimbus. Sinyal dari henponku terbirit-birit menuju ujung pulau. Tempat dia-matahari terduduk malu-malu. Atau biasanya saat lelah dan kantuk menerobos dia-matahari yang bergeliat kesepian di tengah canda burung-burung gelatik. Dia-matahari akan menyengat. Aku pun geli, dan mulai berbasa-basi dengan intonasi terbangun. Kami makhluk planet asing, bahasa kami monoton.

Tapi tak jarang kami bercerita tentang surga. Bagaimana kami duduk bersama di bawah pohon sakura, atau di hamparan padang rumput-dimana beraneka layangan berwarna-warni mengisi langit yang membiru. Atau tentang pohon maple dan ginko yang menguning saat musim gugur tiba.

Dia pemeran antagonis-yang tersenyum sangat manis
"Hey, suatu hari aku ingin ketempatmu, bagaimana??"
 "Really?? datang saja!! I'll be waiting.."

Itu hanya cerita, yang bagaimanapun ku berusaha bercerita seindah mungkin, kenyataannya lebih indah. Kenangan, yang kupaksa rekam dalam kata, akhirnya terseok dalam titik-titik airmata. Ah, aku tak sanggup. Sekian sajalah... Karena aku bukan penceritera yang handal seperti ia.  

No comments:

Post a Comment