Monday, August 22, 2011

Gemuruh yang Tidak Ada

Gemuruh yang Tidak Ada
By : Albi Yuhana

Aku tidak pernah berpikir tentang kondisi orang lain. Aku selalu mengusahakan diriku sendiri. Jika ada masalah aku berusaha menyelesaikannya sendiri. Aku sama sekali tidak punya tempat untuk aku andalkan. Karena nenekku, sepupuku, tanteku, ibuku, mereka selalu bilang ‘Jangan pernah merepotkan orang lain. Nanti tidak akan ada yang berteman denganmu’. Dan dengan prinsip itu. Aku disini sekarang.
Siswi kelas 3 dari salah satu SMA unggulan di provinsiku. Lulusan SMP terfavorit dengan nilai memuaskan. Tidak ada yang ku keluhkan kecuali satu. Teman.
Aku tidak punya teman. Entah kenapa aku selalu merasa orang orang tidak suka padaku hingga aku menjauh.
“Tunggu, pak! Ana kan belum punya pasangan”, teriak Rei.
Saat semua anak perempuan siap lari berpasangan kecuali aku yang masih berdiri di baris paling belakang anak laki laki. Rencanaku diam diam aku tidak ingin ikut lari. Dan karena teriakan Rei, semua jadi mengetahui keberadaanku.
Rei itu teman sebangkuku. Aku sudah duduk dengannya dua tahun. Tapi sebelumnya dia tidak pernah memusingkan keberadaanku. Kami tidak pernah bicara. Hanya berinteraksi kecil tanpa suara. Rei juga sebenarnya terpaksa duduk denganku karena tidak ada lagi bangku yang kosong selain bangkuku, waktu itu.
“Masih kurang satu, ya?”, kata pak Ahmad sambil memeriksa daftar absennya.
“oh ya, kelas kalian ini jumlah anak perempuannya ganjil”
Ya, jumlahnya jadi genap jika aku tidak ada. Karena itulah aku tidak ingin ikut lari.
“baiklah, jadi siapa diantara kalian yang mau lari pasangan dengan Ana?”, tanya pak Ahmad di depan barisan anak laki laki.
Semuanya saling tukar pandang. Sepertinya ini akan lama. Karena aku yakin tidak akan ada yang mau pasangan denganku.
“Anu. . .”, kataku menyela sebelum pemilihan pasanganku selesai.
“Aku tidak ingin merepotkan. Kalau tidak ada pasangan, apa boleh aku lari tanpa pasangan?”, tanyaku.
“Aku saja!”, Rei mengangkat tangannya.
“Ok. Masuklah barisan”, kata pak Ahmad. Rei langsung menghampiriku dan menarik tanganku masuk ke barisan anak perempuan.
“Bersedia. . . Siap. . . Mulai!”
Lalu, kami semua lari mengitari lapangan sekolah. Peraturannya hanya mengambil satu bendera di setiap pos yang berada di setiap sudut lapangan. Sebanyak lima putaran. Tanpa meninggalkan pasangan kita. Pasangan yang lebih dulu selesai akan mendapat nilai besar.
Awalnya tidak ada masalah tapi setelah dua putaran nafasku sudah tersengal sengal.
“Kau tidak apa apa?”, tanya Rei.
Aku berhenti berlari dan membungkukkan badanku, mengambil nafas.
“Seharusnya. . .”, aku berusaha bicara di tengah nafasku yang putus putus.
“Seharusnya. . .kau. . .ti. . .tidak. . .per. . .perlu. . .ikut lari ber. . .bersamaku. Aku tidak ingin merepotkan orang lain, aku ini tidak kuat lari”
Dan tiba tiba semuanya gelap. Tubuhku jatuh menghantam tanah.
~
Aku bangun, mendapatkan diriku berada di ruang kesehatan sekolah. Di kelilingi oleh teman teman sekelasku.
“Kau tidak apa apa?”, tanya satu dari anak perempuan. Yang berada paling dekat dengan tempat aku tidur, Lisa.
“aku. . .”, aku tidak tau apa yang harus aku jelaskan.
“kau tiba tiba pingsan, kami semua jadi khawatir”, kata Lisa lagi.
“lari berpasangannya diundur minggu depan”
“Hah? Minggu depan? Kenapa? Gara gara aku? Huhft. . . aku minta maaf aku gak bermaksud”, kataku penuh harap mereka semua tidak menyalahkanku. Aku menunggu cukup lama balasan kalimatku. Tapi tak ada satu pun yang berkata kata lagi. Mereka bertukar pandang sejenak lalu melihatku lagi. Apa ada yang aneh?.
“Kenapa kami harus menyalahakan kondisimu. Hahaha. . . kau lucu”, kata Lisa sambil tertawa kecil. Dan anak lainnya juga ikut merekahkan senyum padaku. Aku tidak pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Rasnya aneh. Aku tidak pernah tau mereka hangat sekali dan apa tadi Lisa bilang?. ‘kau tiba tiba pingsan, kami semua jadi khawatir’. Mereka mengkhawatirkanku?. Kenapa padahal aku sendiri tidak pernah memikirkan mereka?.
Rei mencuat dari kumpulan anak anak yang berdiri menggerubungiku.
“pulangnya aku antar saja”, kata Rei dengan gaya sok coolnya.
“Cie. . .”. Alhasil semua anak menyeru kami.
Apa sih?.
~
Aku baru bangun dari tidurku di tengah pelajaran kosong. Dan Lisa sudah berdiri di depan sana.
“Ada yang lihat makalah geografi punya Rei gak?”, Lisa berteriak di muka kelas. Ku lihat Rei mendatangi meja anak satu persatu, memeriksa tas mereka. Raut mukanya, itu raut muka cemas.
“Ayo donk! Kalo liat balikin”, kata Lisa lagi. Sepintas kenapa dia terlihat melirikku sambil tersenyum kecil?. Lalu tanpa kusadari Rei telah berdiri di sampingku.
“Pinjem tas bentar”, katanya tak bersemangat.
Aku mendorong tasku ke arahnya. Tanpa banyak bicara diobrak abriknya sejenak. Dan kemudian untuk beberapa saat dia berhenti.
“Ini. . .makalah. . .”, dia mengeluarkan dengan kasar dari tasku. Makalah Geografi miliknya.
“Eh?”
“Kenapa ini bisa ada di tasmu?”, tanyanya halus. Tapi, tatapan matanya tidak bisa bohong. Dia marah, kecewa, kesal, lelah, dia menuduhku mencuri. Matanya seolah bilang ‘Masih untung aku mau berteman denganmu, tapi kau justru memanfatkanku’. Perasaanku tidak enak. Aku melihat sekeliling kelas, ternyata teman temanku juga sedang menatapku seolah aku pencuri. Suasana ini mirip. Aku pernah mengalami ini. Di tuduh mencuri. Kejadian kelas 6 SD waktu itu terjadi lagi.
“Aku. . .”, tiba tiba aku kehilangan kata kata. Hanya keringat yang mengucur deras saja. Padahal aku tidak melakukan apa apa. Kenapa aku tidak bisa membela diri?.
Bukan aku.
“Bukan. . .”
Jangan menatapku seperti itu, Rei. Bukan aku yang mencurinya.
“Aku. . .”
Kakiku gemetar. Lidahku keluh. Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. Kenapa sulit sekali untuk bilang bukan aku yang melakukannya?. Tapi, sekalipun aku bilang aku yakin tak akan ada yang percaya. Sejak kapan makalahnya ada di tasku?. Ini pasti sudah direncanakan. Dari awal mereka tidak mau berteman denganku. Sikap hangat mereka hanya tipuan. Mereka sesungguhnya tidak ingin berbagi teman seperti Rei makanya melakukan ini. Kejadian lagi. Aku dituduh mencuri lalu mereka semua akan berjalan menjauh dan tidak ada lagi yang mau berteman denganku. Padahal aku kira kali ini aku bisa mengikatkan tali pertemanan. Lalu mereka semua akan memperlakukanku seperti seonggok kotoran. Melihatku seperti aku daging menjijikan yang bisa bernafas. Aku tidak mau terjadi lagi. Cukup sekali. Jangan lagi.
Entah kenapa tiba tiba aku berjongkok sambil menutup erat telinga dan mataku. Rei sudah menuduhku mencuri. Aku tidak mau dituduh mencuri. Bukan aku yang melakukannya. Pasti tidak akan ada lagi yang mau berteman denganku. Semuanya sama saja. Mereka tetap akan satu persatu meninggalkanku, dari dulu siapa saja tidak berubah. Aku takut.
“Masih untung ada yang mau berteman denganmu”
“dasar gak tau diri”
“aku tau kau miskin tapi jangan mencuri donk!”
Aku tidak mau dengar. Jangan tuduh aku, aku tidak melakukan apapun.
“kau kenapa?” aku membuka mataku. Suara itu datang dari Lisa.
“kami hanya main main, kau tidak apa apa?”, tanya Lisa.
Suaranya terdengar parau seperti mau menangis. Wajahnya juga memelas. Seolah minta maaf . Aku berdiri. Dan melihat sekeliling kelasku lagi, semuanya menatapku bingung. Aku melihat Rei.
“Aku gak tau apa apa lho”, kata Rei langsung membela diri.
“Aku minta maaf”, kata Lisa.
Aku tersenyum kecil “enggak kok, aku yang terlalu berlebihan”.
Mungkin memang hanya ketakutanku saja. Suara-suara itu sepertinya hanya perasaanku saja.
Pelajaran kosong sudah berganti bahasa inggris. Gurunya sudah berdiri di muka kelas menjelaskan sesuatu yang tidak bisa masuk ke telingaku. Karena aku berkosentrasi mendengar kalimat Rei.
“Waktu aku membawamu ke ruang kesehatan kemarin, sepanjang jalan kau mengigau. Jangan merepotkan orang lain. Nanti tidak akan ada yang mau berteman”
“Itu diajarkan oleh keluargaku”, potongku ringan.
“Sebenarnya tidak akan merasa direpotkan kalau yang dimintai tolong melakukannya dengan ikhlas. Bodoh sekali jika takut tidak ada yang mau berteman denganmu gara gara kau merepotkan”
Rei menatapku lekat-lekat.
“Dan jika kejadian yang tadi terulang lagi. Katakan saja kalau bukan kau. Aku pasti percaya”
Rasanya mukaku memerah. Aku tidak pernah dengar dia bicara seserius itu dengan nada sok coolnya. Aku merasa kali ini akan ada orang yang tidak akan pernah meninggalkanku. Janji donk, Rei.

2 comments:

  1. kangen..
    ah, kenapa aku ini pelupa skali sih,
    pdahal aq prnah baca, tp kyak blum prnah baca..
    *kyak de javu lg deh.. -__-

    kangen....

    ReplyDelete