Wednesday, March 5, 2014

Apakah Kita Memiliki Keberanian Untuk Menghilang

Impian [5]

bila aku tiba di suatu kota, aku membayangkan
siapa gerangan tangan ini akan menjabat, dengan setangkup emosi seperti apakah?

adalah engkau, yang belum kutemukan
sedang melirik-lirik di depan etalase toko
bergumam, apakah mereka menjual hiasan untuk hati yang rusak.
tidak? baiklah.

lalu lonceng pintu toko itu bergemerincing.
adalah aku yang keluar sambil mendesah.
tak memperhatikanmu yang terhenyak; oleh lelaki berwajah lusuh.
apakah dia baik-baik saja. kau bergumam.
tidak? baiklah.

saat itu, aku tidak ingin hari cerah. tak jua ingin ada awan penyimbah.

karena di bilik perpustakaan kota, engkau sibuk membolak-balik buku.
mencari kapan dan dimana; sepetak mimpi yang bisa digadai.
siapapun bolehlah.
lalu aku sibuk menandai koran, mencari bagaimana dan seperti apa
mengganti jarum detik yang patah.
hingga sang penjaga setengah berteriak setengah berbisik, berisik!
di tanganku, tertanggal sekian bulan September, tertoreh.

engkau menatapku lagi.
apakah dia baik-baik saja. kau bergumam.
aku tidak lagi tenang. tidak sedari tadi. dengan sepatu sengaja kuderap menuju mejamu.
dengan masih tidak tenang. ku angkat salah satu buku di hadapmu.
aku menyentakmu, "aku tidak bisa baik-baik saja! dan ini jarum detik yang patah.
berbentuk hati. bisa kau pakai untuk menipu siapapun yang telah meminjam kepunyaanmu yang rusak."

engkau tersenyum. menggamitku, kedua lengan. bersama detik dan hujan.
dan kita raib tertelan. oleh jenis waktu yang menyelamatkan.

Tuesday, February 25, 2014

"bila aku ingin, tentulah aku ingin. melihat perempuan itu beruban, memapahnya ke pasar tuk memilih-memilih sayuran, lalu membilas kakinya yang penuh kerutan." 

Monday, February 24, 2014

Pekat

kita melihat jam dingin itu,
yang kilau legam, menimpali cahaya keemasan,
terpaku,
urung tuk melanjutkan detik.
tapi ia berdiri, menahan kaki kursi yang dimakan rayap
yang tak peduli, perlahan-lahan diselimuti abu kayu.
aku juga merasa dingin.
bersama angin dan dedaunan berbentuk bintang,
yang menampar-nampar dari belakang.
bagaimana denganmu?
kaki-kaki terpasung,
sendu menertawakannya. 
lalu kau merengkuh syahdu,
tubuhku yang tak lagi memiliki deru
belum sampai sadarku kembali, 
aku melirih.
jiwaku atau jiwamu kah yang dicuri waktu?

Stabat, 24 Februari
disadur ulang dari sebuah puisi