Showing posts with label alternate. Show all posts
Showing posts with label alternate. Show all posts

Wednesday, February 5, 2014

Alasan

Tidak begitu susah sebenarnya bagiku, jika hanya duduk diam denganmu lalu berbicara tentang hari-hari kita. Tidak begitu susah sebenarnya bagiku juga, jika saja pertanyaan itu tidak pernah kau lontarkan.
Karin masih memejamkan matanya saat aku menatapnya dengan perasaan hangat. Dia menikmati belai angin dan suara ombak. Aku menikmati ombak lain yang berkecamuk di dadaku. Hari ini, ya, hari ini aku berencana untuk menembaknya. Momen yang tepat menurutku.
“Rin, hei Rin..”
“Ehm…apa ada Lang? Ganggu orang asik tidur aja nih.”
“Hehe, sorry. Udah mimpi belum tadi?”
“Engga. Suara ombaknya bukan bantu gue tidur nyenyak, malah asik mikir.”
“Sama dong, emang loe mikir apa?”
“Hmm, kenapa ada ya orang yang mau baik sama kita?”
“Masa orang mau berbuat baik ditanya-tanya sih.”
“Gak gitu, kalo subjeknya dasar baik sih kaya gue sih maklum.”
“Yee…” Gue tepuk pundaknya pelan.
“Oke-oke, gue bercanda. Terus tadi loe mikir apa?”
Aku mengambil nafas pelan. Berusaha berpikir kalau semesta ini melahirkanku dimana pun, bahwa takdirku tetap jatuh pada Karin. Semoga saja.
“Kira-kira, berapa banyak jumlah kebaikan yang harus seseorang lakukan untuk dia pantas mencintai orang lain?”
“Ha? Emang loe mikir gitu tadi? Kok temanya dekat ya. Haha”
“Udah jawab aja.”
“Hmm…berat pertanyaan loe men.”
“Berapa banyak jumlah kesalahan yang seseorang maksimal lakukan agar dia masih pantas mencintai orang lain?”
Karin terdiam. Tapi wajahnya tidak seperti orang bingung. Wajahnya begitu tenang, seakan-akan dia telah mempunyai jawabannya.
“Gilang..”
“Ya?”
“Seandainya pun manusia berbuat kesalahan banyak, Tuhan masih menerima manusia yang datang padaNya dengan mengakui kesalahannya. Tapi seandainya manusia melakukan banyak kebaikan, apa yang menjadi intinya apakah dia melakukannya karena ia taat pada Tuhannya atau karena ketakutannya, keterpaksaan, dan sebagainya.”
Aku tercengang.
“Maksudnya Rin?”
Karin kemudian berdiri. Membiarkan wajah dan rambutnya disapu angin.
“Seandainya loe berbuat baik karena gue, ataupun loe berbuat kesalahan sama gue. Pertanyaannya, berapa banyak diri loe yang mesti loe hadirkan atas alasan-alasan itu? Sederhananya, bagian diri loe yang mana yang benar-benar hadir untuk gue?”
Aku terdiam. Teringat tiga tahun yang lalu. Tak sengaja melihat Karin keluar dari hotel dengan seorang lelaki yang berumur. Wajah Karin kusam. Saat itu lautan menemukan ombaknya. Ombak yang mampu menenggelamkan cinta itu sendiri.