Tuesday, November 12, 2013

Impian [4]

kukira ia telah memenuhi udara. kata. lebih dari yang bisa kita bisa. biarlah sekarang hening datang. menggantikan bahasa dalam batas yang nada-nada terlalu lelah untuk dibaca. biarlah hening. biar ia menerjemahkan segalanya dalam syahdu alam. biarlah tenang. lalu kita akan bersama menggenggam bara dingin. membiarkan hitam membercak ditangan. dan hening akan pecah, oleh tawa.

seperti ini itu kehidupan, seperti kita yang senang mereka-reka. kita bersama udara dan langit tak saling mengetahui. kita berbahasa dengan perhatian yang tak putus kecuali saling mengikat. dalam nafas, dalam udara yang bertukar tinggi dan rendahnya. mereka tak tahu. tak tahu kita mencintai senja. dan semena-menanya malam menggantikan. karena sayang dan kita berjatuhan.

panggil aku. dalam puisimu. dalam indah dalam sembunyi. dalam ingin yang sejuta kali ingin kutepati. tapi tak mungkin. jika saja dua bisa mengalirkan tak hingga, maka dua puluh enam akan mengucapkannya tak pernah diam. kau tak sendiri. kau tak sendiri. kita tak sendiri.

patahkan sayapmu satu. kutukar dengan insangku. lewat keindahanmu dan keindahan yang seharusnya bisa kau nikmati, kutukar dengan setengah hidupku. aku tetap tak bisa terbang bersama, begitu jua kau. tapi bila kau bisa mengintip dibalik lemah dunia yang kelam. aku sedang mengamati terang. dan bila kita telah sama-sama menyerah pada dunia. setidaknya, kalbu, kalbuku. telah pernah menyesap teh hangat diteras senja.

Tuesday, October 29, 2013

Matahari [3]

di matamu, kota tuamu hidup dengan santai
merajut pelangi berlekuk-lekuk, diatas dan bawah kelopak mata
sepertinya aku juga ingin mencari rumah
lalu berlari-lari di pagi hari
mencari-cari papan pengumuman
"dicari: pengemban kebahagiaan"
lalu berkali-kali ditolak, dengan senyum kelegaan

bila berlalu lalang aku di dalam sana
kutemukan ditengah taman yang penuh dengan tawa ramah keluarga
sekelompok perajut manula
keriput mereka berjumlah sama, tapi kebahagiaan mereka seperti rima
seperti tangga nada, berbeda, berwarna, dan simpul-simpulnya penuh makna
pantas saja, dikenyataan kau sedang tersenyum manja

dan aku masih berkejaran, dengan bus yang sudah beranjak beberapa detik saja
aku tebak, kau sedang berdegup. segalanya terlontar
anak-anak penerbang layang menarik jemari-jemariku
kami berlari mengejar entah apa; mengapa?
ternyata ada matahari tersangkut, terjepit diantara dua awan jahil.

duniamu berputar, pada degup tawa. dadamu yang dipenuhi canda

begitu banyak cerita, begitu banyak...
bila menatapmu saja menghadirkan sejuta rasa
alangkah wajar, debaran dihitung pun tak hingga

Matahari [2]


tak ada yang terlalu senja
untuk duduk-duduk dihamparan rumput
dibelaian angin sore yang lembut
disentuh oleh cahaya
yang bersikut-sikutan bersandar di kulitmu

ia belum jatuh
dan sepertinya tidak pernah berniat pergi menjauh
ini matahari dari taman waktu
berpindah dari dimensi yang poranda
ternyata satu bahagiannya kembali padamu

lalu matahari ini duduk berpasangan
bersama kedua matamu yang tak henti memancarkan sinar
dan aku adalah siang.
tak pernah puas dengan terang. dan aku buncah
seperti buih-buih gelembung pecah
ditiup ria oleh anak-anak hikmah