Saturday, August 16, 2014

Absorbsi

Makam [7]
takdir menumbuhkan impian dibalik cangkang
lalu mengoleksi engkau dengan pijar kunang-kunang
tapi mereka melapuk, dibawah naung yang tak lagi berbahasa
tapi mereka layu, seperti sebongkah es dijenguki saga
   lihatlah engkau lelah serta bayangmu pun musnah
   bila sesuatu dalam lacimu adalah kunci
   tidakkah engkau rapatkan dan sunyikan dalam dada
   membiarkan rumah birumu terbuka, dan seolah memanggil suci
      kain-kain putih berjuntai tinggi
      lalu meraba cincin hitam disekitar mata
      oleh seorang yang menyematkan jiwa diantaranya
oleh malam yang kian meresap
kini tetes airmatanya pun berubah gelap

Stabat, 14 Agustus

Friday, August 15, 2014

Selamat Malam...

Impian [7]

Sejenak saja, kita tidak akan berbicara tentang kepahitan. Tidak tentang masa lalu. Tidak tentang masa depan. Ini tentang hari ini, sekarang, aku ingin mengajakmu tidur untuk punya mimpi yang sama. Hanya tentang bunga tidur.

Kita tertidur. 

Apa yang sedang kau bicarakan? Aku menghirup teh manisku pelan. Kau masih lanjut bercerita. Di antara lalu lalang pelayan di jam makan siang. Kau berbicara tentang hari-harimu yang sibuk. Kau bertanya, apa yang aku lakukan seminggu ini? Aku mendesah. Lalu menatap sisa tehku yang pekat. Lihat, ada beberapa ampas halus. Aku memijat keningku. Kukatakan, pikiran terlalu kasar untuk lewat saringan di kepalaku. Kau hanya menyunggingkan senyum kecil. Dari tasmu yang selalu kebesaran itu, kau mengeluarkan sebuah buku. Buku berwarna biru. Judulnya dicetak dengan warna emas. Dan ada namamu. Berikutnya kau berkata, "yaa ngapain disaring.."

Setelahnya, kita menghabiskan waktu berdiam. Kau mengutak-atik ponselmu, seolah ada yang penting. Aku tiduran dengan tangan terlipat, seolah berpikir. Dan buku biru di tengah meja, seolah tak mengapa.

Jemputanmu datang. Kau mengemasi barang-barangmu. Kau mengambil tisu, mencatatkan sesuatu. Kemudian giliranku. Mencatat sesuatu. Lalu tisu ditenggelamkan dalam mangkuk cuci tangan. Dua orang asing itu kemudian berdiri. Bersalaman. Saling mengucapkan perpisahan.

Aku terbangun dengan tengkuk yang penuh dengan asam. Ah, masih jam tiga.
Selamat pagi..
.. siapapun itu.

Stabat. 24 Juli

Gerbong Usang

Makam [6]

belumkah engkau lelah berjalan
berkejaran dengan bayangan
dengan lengan berkait awan
akankah engkau urung menjadi hujan?

bila ada saja secuil kemungkinan
istirahatlah dipangkuan
pada gerbong usang termakan zaman
padaku saja, engkau kereta diakhir penantian

Stabat, 11 Agustus