Sunday, June 22, 2014

Istana Ingatan

Impian [6]

kemarilah, berdecak kagum dengannya
bawa kaki yang bosan didekap, sekali ini hentakkan
genggam tangannya, berlomba lah untuk mabuk
siapa yang menelan kepahitan paling banyak; jadikan raja.

tak ada lampu kerlap-kerlip, hanya mata diambang lelahnya
dihadapkan pada wajah-wajah yang kau sukai
dan semua memeluk, menarik, menari diatas kesadaran rapuh
sudah kau kecap setiap getir, lalu hantarkan pada setiap bibir

confetti dari potongan boneka-boneka buangan, pecahan kelereng, 
lilitan renda-renda baju anak perempuan; berjatuhan dari langit
kita mandikan, menyucikan diri lewat goresan-goresan kesedihan
telan sebagian, tubuh kan semerbak kerajaan tuhan

belum lagi pagi, mual mengendap dari pundak
diantara serakan puluhan mata, potongan jari, dan album abu-abu
dua orang dementia lelah berpesta, terkapar ditengah
wajah mereka sama.

Saturday, June 21, 2014

(Rin) : Anak Tangga

"ngegambar anak tangga lagi?"

"hahaha, excuse me?"

Dia pikir itu gambar anak tangga. Buat gue yang seumur hidup nilai kesenian paling tinggi cuma tujuh, dilematis harus ngerasa tersanjung atau terhina. well, the latter was joke, of course.

then, he's babbling a you-know-how-it-will-go absurd conversation...

"loe yang mana, hidup yang turun nanjak nanjak atau lurus belok-belok?", An mulai ngelantur.
"i prefer turun nanjak-nanjak."
"nah pas!"
"sigh. mata gue gak bisa ngeliat yang frame ratenya rendah tauk.."
"oh ya. tapi pilihan loe gak jelek sih. siapapun tahu kalo naik gunung itu capekan ngedaki daripada turun. jadi, sekarang lagi turun apa nanjak?"
cyclic question, cih.
"gak dua-duanya, kan." senyum sinisnya keluar.
curse you, An.
"you and your own battlefield. jadi, kap.."
PLAK!
"gimme your keys, and don't you dare go back to your home. Manja staying with me tonight."
"EEhhhh??!! S.s..sorry."
"It's alright. daah."

Medan perang itu cuma imej-negatif. An lah yang mencucinya sedemikian rupa, hingga terlihat jelas warnanya, siapa berperang dengan siapa. Setiap pijakan di koridor, suara manusia berbicara, bertengkar, semuanya masuk kesana. Meng-audio visualisasi setiap imaji yang paling kubenci. Wajah dua orang itu. Wajah paling keras.

Ah iya, kelupaan. Aku berbalik lagi ke arah An.
"Hey, itu bukan anak tangga loh." aku menunjuk anak tangga yang terus digambar An.
untuk kedua, ketiga, keempat dan seterusnya memang anak tangga sih. haha
"Itu gambar anak panah. hahaha."
An terpelongo. Aku melenggang pergi. 




(Manja) : Bahasa Inggris

An dan kak Rin suka ngomong bahasa Inggris. aku gak ngerti. tapi aku suka. kemarin teman-teman tepuk tangan waktu kubilang cita-citaku berbahasa inggris. BuBu tertawa terus bilang haw ayu. aku gak ngerti. tapi ikutan tepuk tangan.
waktu di rumah, aku bilang haw yu. An, haw ayu. An tertawa, trus nulis "how are you".
"An, haw ayu."
em pein.
"Manja, haw ayu."
em pein.
=====
tapi em pein An dan em pein kak Rin beda.
kak Rin, haw ayu?
kak Rin ketawa.
waktu An yang tanya.
Rin, haw ayu?
em inpein. kak Rin ketawa lagi.