Saturday, December 10, 2016

Usia Pendek: Perjalanan yang Panjang

mata berjejal kesaksian dari gembalaan
yang hilang di padang surga buatan
tapi kaki terseok mirip orang cacat
peminta-minta. hanya saja dagumu tetap
lebih tinggi dari cakrawala sembari sesekali
menatap ke belakang, semisal ada suar
yang terlupa sebagai penanda. semakin lama semakin tinggi bunyi gelisah pada
genggam di atas kitab yang berpura-pura
memanjangkan keteguhan. tapi kau tahu
dan sebenarnya tahu, lengang mirip hutan
para peri yang semestinya kau tak pernah
singgahi.

Medan, Desember 2016

Serenity

PING!!
"Mas, di mana?"
ketidaktahuan menjebak mata kata
gerangan Tuhan memang menjelma
dalam resah perempuan-perempuan
di ruang tunggu paling semu

PING!! PING!!
"Mas, kapan aku dilamar?"
bukankah lebih mungkin sepi direntang
oleh buaya di sungai waktu, supaya
mangsanya tenang menyeburkan diri
memercikkan dongeng-dongeng palsu

PING!! PING!! PING!!
"..."
tapi tak ada luka, darah kecuali asa
seorang perempuan berdenting jatuh
di dasar kemungkinan-kemungkinan
sendirian mengacau lumpur kesunyian

Medan, Desember 2016

Wednesday, December 7, 2016

Salib

di sekujurmu penuh memar bekas perkelahian
dengan kesedihan dari jeritan panjangnya.
tak ada tanda kuat teguh di setiap inci
biru merah matamu matanya bersitatap
dua rongga yang tak meluruhkan apa-apa.
nelangsa malam ini menjelma seonggok
sampah di bawah lampion, dilewati oleh
tikus-tikus yang lupa entah termakrifati
cahaya kesementaraan. malam ini saja.

berkata-katalah ngilu pada isak yang mereda
di tubuh jeda. detik adalah mukjizat yang
mendinginkan Ibrahim, menyelamatkan Ismail
tapi mukjizat yang dilepas dari keyakinanmu
adalah kata-kata malam ini memiliki makna.
sesederhana seandainya saja.

Medan, Desember 2016

Tuesday, December 6, 2016

Hollow

pita-pita merah berserakan di lantai
begitu pula bisik-bisik memenuhi udara
di tengah-tengahnya ada yang tak sengaja
menjadi aktor malam; menjerit panjang

kuning adalah amis emas, menggelisahkan
ruang tenggorok yang tak bisa ditawar
dengan air. dahaga dan lapar telah
direnggut hanya sisa dingin dan ketakutan

dunia tiba-tiba insignifikan, ada tremor
yang lahir dari rinding, menjalar cepat
membuka revolusi pori-pori. keringat
menderas. dan terhidu kengerian.

hanya suara tepukan dari ruang sebelah
yang menarik seluruh sadar
untuk tak melewatkan sedikit pun
gema yang kelak pasti akan pergi

Medan, Desember 2016

Monday, December 5, 2016

Verstehende

apa yang bisa dibangun dari kumpulan
sampah daun jambu dan mangga
sementara bapak dengan sarung
dan singlenya menatap jauh ke diri

daun-daun kasta terlapuk ini berada
dalam harmoni di ujung takdirnya
sementara pepohonannya bersitegang
hara manalagi punya siapa kini

bagi bapak perang ideologi menyedihkan
sungguh terasa nyata sementara
dirinya masih dipuasakan ibu
di kamar dan meja makan

"wah, pak andi semangat bersih-bersih ya"
teguran tetangga memang sering
terlihat menyenangkan dari kenyataannya

daun-daun menakzimi langit terakhirnya
sebelum berganti dengan kesementaraan
nyala merah teriakan pasrah dari
legam jasad yang berterbangan.

Medan, Desember 2016

Sunday, December 4, 2016

Fukai Mori

hatimu kutemukan rebah di jantung hutan
aku memikirkan apakah kau ingin ditemukan
atau ini hanya persiapan peristirahatan

aku tahu berkali-kali kau telah merengkuh
anak-anak sungai yang ingin melepaskan diri
dari dusta hijau dedaunan dan bayang malam

bila kau menemukan dirimu lebih besar
dari birunya langit, kau bisa memeluk
air matamu yang telah berlalu; begitu pikirmu

dan kututup wajahmu dengan ranting lapuk
dan basahnya rimbun kesepian yang kau
benamkan di hutan keabadian.

Stabat, Desember 2016

Saturday, December 3, 2016

Sent But Not Delivered

pesan telah menaiki gelombang
bahkan sebelum cemas turun
dari geletar tangannya.

cahaya telah berulang kali
dinyalakan di ruang
hanya untuk padam

huruf-huruf maju mundur di antrian 
membicarakan diri mereka
yang tak kunjung dipertemukan.

ia yang menghela napas panjang
tak begitu buruk takdirnya jika
diusir dari tujuannya, daripada
takdir huruf-huruf yang kekal
di ruang tunggu.

Stabat, Desember 2016

Friday, December 2, 2016

Gelembung

berapa kali kau lahir dan usai di udara
belum sempat lagi terlihat pantulan
wajahku di sana, kau menghilangkan
niat untuk mewarnakan ketiadaan sukar.
di pelipis itu, ada ayahmu menggiring
angin kusut yang kau tak tahu bagaimana
menggulung kesedihan baik yang tampak
maupun yang bergerak mengikuti mata

rimbun senyummu kian mewujud serabut
dari timbunan duka di belukar prasangka
berjika-jika aku setibanya kau sampai
di ujung jalan. maukah duri bayangmu
mengikhlaskan dirinya tanpa menjadi
gerhana dirimu yang lain?

Stabat, Desember 2016

Thursday, December 1, 2016

Dua Keimanan

Aku suka mendengar suara peluru
yang keluar dari seteru mulutnya
lalu asap-asap memenuhi penjuru
seluruh maka, sebab dan umpama

Di sanalah iman menyesaki dua bukit
deru angin jugalah yang mengukur
persembahanku di tebing telinganya
semata karena aku membelakangi surga

Kugali sendiri liang kabut agar nanti
kau datang memungutku yang telah
menyelip seperti daging di sela gigimu.

Stabat, Desember 2016

Tuesday, July 5, 2016

Setelah Perjamuan

pastinya kau akan datang dalam rahim kesunyian
atau dalam tatapan sepasang mata. dan jalan keinginan
akan menemukan kekekalan yang tak panjang.

jemari dirambati biru, dan haru, dan risau
dan ditemani oleh detik yang berjalan ke belakang
ke ruang tempat aku cantik berdan-dan

hanya ada kehampaan yang menggiringku
pada selimut sawah, yang berdoa agar
tak kering dari hujan ingatan dan nya-Nya

Tanjung Pura, 2016
menghadapi waktu, aku seringkali bingung. pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar baik juga tidak ada yang benar-benar buruk. tetapi ada yang namanya seburuk-buruk kebenaran dan sebaik-baik kesalahan. hitam putih adalah konsep komparasi bagi kita yang membutuhkan pilihan. 

sesederhana tulisan ini dibuat, 
seumpama aliran air di sungai,
selayaknya langkah kaki ketika berjalan,

kata siapa aku menulis ini dengan tangan?
air itu melayang sekali-kali di udara
dan kita bisa terbang jika menghendakinya.

lalu, kenapa kita duduk di sini menegakkan punggung atas nama perbandingan semu?
kenapa kau terlihat dewasa?

kalau kau dipaksa menafakuri pemakaman setiap tahunnya, pasti kau akan kehilangan wajah kekanak-kanakanmu.

tapi kau juga brengsek...

...karena tidak semua orang beradaptasi menghadapi lubang-lubang itu dengan menambal senyuman-senyuman.

Saturday, January 30, 2016

Rumah Kita

: Valentina Edellwiz
       di mana senyum manis merebak wangi
kususuri jalan yang pernah menggenanginya
tanganku berasam kandis menjinjing kering
setelah lepas jabat yang setia bercanda
lama kulihat sederhana rumahmu
penuh bunga dan rumputrumput kenang
kala kudengarkan suara ngaji
dari bacaan angin di tubuh kamboja
sekamar denganmu berlampukan surya
fajar hingga senja, kadang berhujan
oleh bisik burung gereja 
dan isak tangis keluarga
aku juga ingin rebah bila waktunya
dan kita – tak perlu bangun
tuk menikmati dunia
Medan, 2016

Membalik Mimpi

Aku pernah berharap di balik kulitku hanya ada air, tenang, tanpa gelombang. Dan ketika siapapun melempar jangkar cinta dan benci, aku tak ingin bergeming. 
“Af, kalau kau tak bisa mengerjakannya, bilang dong!”
“Loh itu kan bukan tugasku. Af, kan kamu juga ikutan dengar, kok ga ngabarin aku?!” Aku merasa tugasku terlalu banyak, penuh tekanan dan aku hanya ingin lari saja.

Sadar bahwa menjadi air, aku terlalu mudah mendidih lalu menguap, atau terlalu cepat dirundung sunyi lalu aku membeku. Oleh karena itu, mengurung diri menjadi jawabanku. 
Aku pernah berharap di balik kulitku hanya ada api, panas, dan sangat menyengat. Dan ketika siapapun melempar penuh iri, perhatian palsu dan hasrat mendengki – seketika akan melepuh. 

Pintu diketuk tiga kali. Aku masih mengantuk. Pintu diketuk lagi, lalu ibu masuk. “Afat, sudah jam berapa ini? Kamu ga pergi bekerja?”
“Ah ibu, aku masih capek ini. Ibu jangan ganggu aku dulu! Nanti kalau sudah segar juga aku keluar!”, aku setengah berteriak. Kesalku salah tumpah. Tapi aku tak acuh. Kusembunyikan wajahku dibalik bantal. Kudengar ibu berdiam, tak lama pintu ditutup.
Pada malam hari kuintip ibu duduk di ruang makan, melamun. Aku cukup tahu apa yang disembunyikan di wajah pias itu. Di depannya, nasi penuh lauk tampak dingin. Dan ketika ia sadar aku berdiri di depan pintu, senyum mencerahi wajahnya sedikit, “Af…”
Sadar bahwa menjadi api, aku terlalu lemah pada sejuk tatapan sedih, atau bahkan mudah padam bila disiram tulus airmata. Tak ingin kulukai sesiapa, maka kusembunyikan dari mata pengasih.
Dulu di rumah ini ada ayah, ibu dan aku. Tapi perlahan kami kehilangan bagiannya. Ibu kehilangan belahan jiwanya, ayah kehilangan nyawanya, dan aku merasa waktu mencuri seluruh sandaranku.
Aku sudah puas tertidur, saat duduk bersandari di dinding tak sengaja mataku tertuju di bingkai foto itu. Wajah tiga orang yang tertawa di taman ria.  Aku pun pernah berharap tak menjadi apa-apa. Biar saja menjadi anomali, yang waktu juga takkan perduli. Tapi malam ini, tiga bayangan di foto itu menggamitku sampai bermimpi.
Keesokan paginya aku menghambur dari kamarku, segera kuketuk pintu kamar ibu. Kupeluk ibu sambil tersedu-sedu. Aku ingat benar bisik tiga bayang itu dalam mimpi. Seperti ucapan mereka padaku, kuucapkan pada ibu, “Maaf , meninggalkan ibu sendiri.”

Medan, 2016

Kakek

dulu almarhum kakek punya bengkel sepeda
aku suka melihatnya berkacamata renang
lalu dari pipet yang tak dihisapnya keluar api
kakek lalu menempel mimpi; mimpi pejalan kaki
dulu aku suka ke rumah kakek
bermain di ladang, melempari kerbau
sekarang aku pun suka ke rumah kakek
meruang kenang, menghayati igau
dulu kakek suka memberiku seplastik recehan
lebih banyak ketimbang isi dompetku belakangan
tapi kebahagiaan memang kadang tak gemerincing
sepenuh bunyi impian celengan kucing
Medan, 11 Januari 2016
3:45 AM

Les Fleurs du mal

belum pernah kulihat wanita 
memanggul kapak ke ladang padi
agar anaknya kekar ditampar zaman
katanya. dan di sekolah sana
anaknya busung menjadi kuli dogma,
dan norma-norma yang terpaksa ada.
tapi tak ada yang tahu siasat
saat sayap senyumnya sudah dewasa, 
kan melayang ia dari sarang muka
tinggal cantiknya yang mengalir 
menabuh-nabuh parasnya yang dingin
dan kini anaknya kian jelita, berselendang
rayu dan kedip genit terpercik saja
para saudagar kan menghamba di gubuk ular
dan pada pagi hari, di surat-surat kabar
terdengar cerita, keluarga raja berselendang malu
para ayah, telah kehilangan anu.
Medan, 2016

Dik

mendung sudah di depan mata, dik
biar kupalu barang satu atau sepuluh
genteng rumah kita, kulihat burung gagak
yang terbang di atas sana melirik kita
penuh hasrat rencana
ayolah lepas aku dari selimut candamu, dik
apa kau tak sadar berisik hujan telah menitik
mengamini peluhku yang bersimbah jenuh
dan barang sepuluh atau duapuluh senti
kita akan tenggelam di ranjang keegoisan
dik, kutampar kau sekali ini saja ya
aku tak mau kawin dengan kutu air
Medan, 2016

LDR

kasur kapuk tidak lagi nyaman
sebab wajahmu melayang-layang
seperti nyamuk di penghujung malam
guling kupeluk tidak berlekuk
sampai darah berhenti terhimpit
dada pun melolong, sebab laparnya jiwa
bangkit lalu ku aduk gubuk kerahasiaan
dan kutemukan bingkai kau dan sang pujaan
kapan hari kaukatakan bertajuk Ladang Bangkai
senyumku tiba-tiba mendewasa
mengalir jatuh ke hilir bibir
kupakai peci serta selendang 
pada minggu pagi sebentar lagi
biar kukapak lonceng besi
dan kukumandangkan ajal si mayit mantan
Medan, 2016
nb : LDR (Love Different Religion)

Pengharapan

apakah kau mencintaiku?
“is writing a message…”
aku bersumpah demi pepohon jati yang akarnya menghunjami dan berserakan di tanah.
Medan,
Desember 2015

Melintas Tanya

Awan putih berhenti di atas ubun-ubunku
Angin menggeletik sepintas memberi isyarat; aku?
Gerimis tempias pada ujung hidungku
Basahnya namun tak luruh
Berusaha memberi tahu; angkuhmu?
Desember 2015
Alyssa