Sunday, September 13, 2015

Delay

pernah ngatain orang alay?
nah tunggu aja giliranmu jadi 'layangan' juga.
ya, layangan stage dua. *keren bener*
delay=dewasa layangan.
itu yang dikit-dikit melayang, tenggelam, floating, flying and sinking.
itulah maksudnya.
drama, ngeluh, lain waktu pura-pura bahagia, de el el.
ya. semua orang akan layangan pada waktunnya.


`,:)

*pamer emote baru*
*yawda sik gitu aja*

btw, bangun tidur langsung kangen.
iya, kangennya cuma bisa pas bangun tidur. 
kalo sadar ga yakin kangen sama siapa.
kangen andi. kangen albi. 
coincidence?

Saturday, September 12, 2015

Apakah yang kita harus catat? Apakah kjta harus yang terpenting, mengabaikan yang kurang penting, dan melupakan sama sekali yang tidak penting?
Namun apakah jaminannya bahwa yang tidak penting dan boleh dilupakan saja, memang lebih tidak penting daripada yang kurang penting dan cukup diabaikan saja, dan apapula jaminannya bahwa yang kurang penting dan boleh diabaikan, memang kurang penting daripada yang penting - yang tidak bisa tidak mesti dicatat, meskipun menjadi penting hanya karena dibuat agar tampak seperti penting?
Sukab - Travelogue
Someone tells me: this kind of love is not viable. But how can you evaluate viability? Why is the viable a Good Thing? Why is it better to last than to burn?
Roland Barthes - Lover’s Disclosure
Dua potongan quote ini membuat saya berkontemplasi sedikit tentang upaya-upaya hidup dalam sepanjang perencanaan. Kita suka sekali berbicara mengenai rencana-rencana bagaimana nantinya menjalani masa depan. Perencanaan itu buah baik dari siraman air kerja keras pada hari ini, pada awalnya. Setidaknya memang mekanisme harapan bekerja seperti itu; buah baik yang kita kira pada hari ini.
Adakah yang lebih baik dari hari ini? Adalah sebuah janji yang diletakkan Tuhan di dalam dada hambanya, agar biar bagaimana pun kita terjatuh tidak begitu sakit, katanya. Terserah bagaimana urutannya, perencanaanmu, a sampai z, perencanaan Tuhan, atau sebaliknya, kita tidak pernah benar-benar tahu pada batas mana buah harapan yang benar-benar kita harapkan. Benar kan?
Saya sudah lama memikirkan hal ini, entah seperti apapun motivator favoritmu mengatakan untuk berencana sebelum memulai. Rencana sepertinya hanyalah kesia-siaan. Bukan. Saya tidak mengatakan sebab saya orangnya fatalis, atau malah bersebab pada banyaknya rencana yang gagal. Teruslah berencana. Teruslah berharap. Tapi bukan pada kenyataan yang masih Tuhan jadikan impian. Tapi pada keyakinannya.
Sama seperti ketika kita memastikan mana yang baik mana yang tidak baik. Pada akhirnya, urutan-urutan itu hanya membenarkan mana yang lebih diyakini dan tidak diyakini. Lalu bagaimana bila saya katakan saya berhenti berencana, dan meyakini segalanya. Melenyapkan segala ketidakmungkinan, baik atau buruk, hanya karena bila semesta berencana hancur pun akan berakibat pada perjalanan baru.

Stabat, September 2015

Monday, September 7, 2015

Saat...

...Hujan.
Ada apa saat hari hujan? Tidak ada apa-apa sih. Aku barangkali tidak berapa sering bilang suka hujan. Tapi aku suka sengaja pulang berbasah-basahan kalau hari hujan. Lalu sepatuku berat berisi air hujan yang enggan keluar. Kulitku akan berkerut dan semakin pucat. Air hujannya akan mengalir dari rambutku ke pipi, seperti menangis, lengket dan merembes ke bibir; asin. Wangi hujannya tidak terlalu lama bisa kunikmati. Hidungku akan cepat mampet. Lalu aku bernafas lewat mulut. Panasnya akan kontras saat bertabrakan dengan udara. Sepulang di rumah, aku langsung mandi. Tentu saja. Langsung sakit. Pasti.
...Matahari Terbit.
Aku bangun dan berangkat sebelum matahari terbit. Matahari adalah penunjuk waktu. Kalau berangkat terlalu terang pasti terlambat dan susah dapat angkutan. Aku duduk di sebelah kiri, agar bisa melihat matahari bersinar merah. Aku suka melihat matahari yang mencuri-curi lihat dibalik barisan rumah dan pepohonan di sepanjang jalan. Aku berharap saat tepat melewati lapangan yang luas atau sawah, aku bisa melihatnya tepat merah memanjati langit hitam kebiru-biruan. Kalau beruntung, ketika sampai di tujuanku, dia disamping menemaniku berjalan dan melamun.