Saturday, June 21, 2014

(Manja) : BuBu

namanya Jambu. jelas cuma aku yang memanggilnya begitu. alasannya? karena di badannya, dari dagu sampai lengannya, tumbuh bulu-bulu halus seperti bunga jambu. bila ia tertawa, bulu-bulu pirang itu berguguran. banyak sekali. tapi cuma aku yang peduli.
BuBu suka sekali tertawa. dia menertawai banyak hal. dari buku, orang, sawah, bangunan, keranjang sampah, dan lain-lain. aku juga suka tertawa. menertawai tawa bubu. dia tahu. tapi tak peduli.
di kelas kami juga tertawa. bubu tidak bisa menulis huruf 'x. 
Saat pelajaran berhitung.
"Nja..nih baca! berapa!"
"dua kali d.."
"salah!"
"ha?"
"dua digunting dua, empat! haha"
dia tertawa. aku tertawa. tidak lagi di kelas. kami tertawa disetrap berdua.
====
An cuma bisa senyum kecil pertama kali aku bercerita tentang bubu. cuma kak Rin yang ikut tertawa, jadi aku cuma cerita sama kak Rin. kalau gak salah kak Rin bilang "untung gak dipanggil BiBi atau NoNo ya. hehe". kak Rin keren, padahal aku belum cerita kalau An-nya BuBu juga suka bilang "no no". hehe.



Kenangan [5]

21 April 2000

Bapak libur hari ini. Tidak ngelaut.
Ibu bilang ada orang gila di sekitar pantai. Dia melubangi kapal-kapal.

Maghribnya aku lari, kahfi-ku tidak selesai, dan bapak menamparku.

Di anjungan ada laki-laki terisak sendirian. Dia memegang kertas bukan palu atau semacamnya.
Aku mengendap, kuambil batu setengah kepalan tangan. Kulempar. Lalu aku berteriak "ada orangg gilllllaaaa...." sambil ketakutan.

8 Juni 2007

Hasil raporku jelek. Bulan depan aku tinggal di kota.

18 Agustus 2013

Rasanya sudah lama gak ikutan upacara bendera.
Hari ini aku main ke kampung kawan. Iseng-iseng ikutan upacara sekolah.

Hehe, bener kan? Kakiku kesemutan.

15 Agustus 2014

Rupanya dia sekampung dengan kawanku.
Katanya sih cantik. Aku cuma dua kali lihat dia; punggungnya. Dua kali di perpus. Dengan tumpukan buku.
Seingatku ada tafsir Qur'an, alKitab, majalah fashion, komik.

Dia jurusan biologi. Namanya... 

18 Agustus 2014

Pagi ini aku terbangun di rumah sakit. Hah?!
Katanya sudah tiga hari aku gak sadarkan diri. Katanya keracunan makanan.

Pulang ke kosan, kotak indomieku lenyap.

12 Maret 2021

Sore ini, aku pergi ke dermaga lagi.
Bau ikan. Dua-tiga nelayan sedang mempersiapkan bau yang lebih segar besok.
Aku pulang sekitar lima belas menit kemudian.

19 Maret 2021

Aku datang lagi.
Hanya memutar. Tidak jadi.
Kulihat kau sudah berdiri di anjungan.

23 April 2021

Mungkin itu cinta pertamaku. Tapi aku hanya mengenali siluetnya dari kejauhan.

30 Mei 2030

Kami akan berziarah berdua saja besok. Kasihan dia belum pernah ketemu cucunya.

31 Mei 2030

Sedang tidak sehat.

Kemarin ada makam baru dekat kuburan bapak dan emak. Aku sedikit bercanda dengan jagoanku. Kubilang, "coba tebak ini adik ayah atau kakak ayah?" 
Haha, selera humorku memang selalu salah tempat. "...nanti nama ayah juga 'bin Supanji'"
Di pahatnya tertulis jelas namanya. Namany

16 Agustus 2030

Hello world!

Aku gak suka nulis sih. Ini bukunya tebel banget. Agak bau ikan.
Kata ayah gak perlu sering-sering nulis.
Lagian lebih asik main musik.


Notes by : Airlangga Kelana Respatih Putra

Friday, June 20, 2014

Taman Waktu, Hari Ini...

gadis kecil itu sedang menyibak-nyibak dedaunan basah. hari ini hujan. aku tidak sadar kapan. kapan? ah itu tidak penting. tiba-tiba saja dia sudah berlarian. meninggalkan rumah biru keperakan tergenang.
aku duduk tenang, sebelah tangan memegang pensil, sebelah lagi rautan. dan tiba-tiba dia menyodorkan sehelai daun. 
"ya. kenapa?"
aku tidak berbicara padanya. aku berbicara pada matahari yang masih menggantung.
"udah gak bisa."
dia kemudian duduk di samping, paling ujung dari bangku. menokok-nokok jam mati itu. aku kemudian bercakap-cakap dengan angin.
"gak bisa..."
"udah habis..."
"..kan udah kemarin."
udaranya begitu lembab.
"dasar gak berguna," sekarang aku bicara dengan matahari.
angin menderu itu datang lagi, meninggalkan pola daun yang digodanya. seperti kemarin. seperti kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarin kemarinnya lagi. kemarin? ah, ini juga tidak penting.
"aahhh, jam sembilan lewat empat dua..."
suara asing.
aku menoleh, dia menoleh. aku menatap jam itu. memastikan.
"bener kan?"
suara asing lagi.