Friday, August 16, 2013

Di Ufuk Tiran

aku tersulut dibawah mantramu
terbangun rinduku, mencari dawai penyejuknya yang hilang
masih rapuh, tergopoh-gopoh kearahmu
wangi pantai pagi, tempatmu bersembunyi

kelabat waktu bantu aku
mencibiri sekam yang kutaburi sendiri
bisakah terbakar samudera ini
sebelum tenggelam bersama nafsu yang malu-malu

jelas, aku ingin menjatuhkanmu
sebab kicau cemburuku jauh lebih ranum
di pematang, di tebing-tebing curam, di sekat sebelum senja, di pinggiran sungai,
bangau-bangau, yang bersebab duka dan sukaku berkejaran

bantu aku. tikamlah di ulu-ulu.
aku yang kau kenal, sudah seharusnya kau jegal

Tuesday, August 13, 2013

Kenangan [2]

seyogyianya hati telah hanyut dan tenggelam
lalu terselamatkan oleh kulit kerang
tak sengaja
pernah disimpan
putihnya
pucatnya
hingga tuhan di samudera menghantarkannya pulang
pada pasir pantai yang setia

---

tinggi pada ketinggian manakah
obat dibutuhkan dada ini ada
hingga ia tak lagi butuh udara
tetapi ramai
riuhnya
rendahnya
tiap hembusan nafas memberikan irama
pada rongga yang kosong tadi
sepi meratap panjang

Hujan [1]

berat melepas beban, tak begitu saat takdir disatukan
dua anak langit, kakinya pernah membumi; tidak lagi
sejak mereka dipertuan

langit dipertuan, jauh sebelum kembang ditemukan
matanya hendak menghujam, tapi ia lupa ukur ketinggian
duhai langit yang penuh kerinduan...

ia sakiti, puas pada panas yg ganas
belantara semu tengah pongah, sebelum angkuh diterjemah
duhai langit yang penuh keramaian...

tekan saja, sementara sesak di ulu hati dan mata
sudah seluruh pijarmu mengelam, tertutup gelapnya keculasan
duhai langit yang hendak runtuh....