Thursday, April 5, 2012

Takut

An, hari ini aku ingin bercerita. Aku selalu enggan kesana. Ke masa depan. Tempat para sahabat meletakkan cita-citanya. Bukan kerut atau keriput, tapi aku selalu membayangkan nafas yang kusut, dan ingatan yang pelan-pelan menyusut.

Bayangkan, benang laba-laba yang menggantung di pohon jambu. Anak kecil yang bermain dibawahnya tak pernah tahu. Hingga ia menjerat halus, lalu anak kecil pun memekik histeris. Anak kecil itu bukan aku. Aku benangnya. Laba-laba itu waktu dan kau anak kecilnya. Aku tak tahu, kapan kau akan bosan. Dan kelak kau pergi, meletakkan sesaji tanpa tahu aku ingin.

Sepi itu yang kutakutkan. Yang menggema saat sendiri di rumah lapuk kita. Tak ada lagi canda, atau perdebatan kecil yang menyemarakkan suasana. Ingatkan dirimu sendiri, an. Kalau kau sudah bisa tertawa, aku sudah mati. Dengan tenang.

...

Mata

Kita berpandangan, entah bagaimana caranya, matamu yang begitu gelap memikat. Dimatamu, ada serumpun bambu basah menguning, gagak hitam yang berterbangan, dan secarik surat setengah terkoyak. Dimatamu, kau biarkan hutan hujan liar merambat, bangkai teman-temanmu berserakan, dan kepala mirip wajahku tergantung. Aku belingsatan, terpenjara dalam siklus ketakutan. Aku tersesat.

Masih berpandangan, aku menemukan sungai terbendung. Memisahkan matamu dari apa yang ada dimataku. Aku mau pulang. Tetapi serabut akar mengikatku cepat. Langit memekat, sedang dibelakang, duniamu jauh lebih tak bersahabat. Aku pun mendengar suara samar berkelabat, "...gi!" Jawabku hanya belalak tak percaya. Reflek kutekan gaya, aku lari menuju nyata dimataku. Terlambat. Satu pijakan dibendunganmu; hancur. Melemparkanku jauh lebih pekat dari bencimu. Hujan menjatuhiku hukuman mati. Seketika samudera pecah. Aku saksi mati ditengah-tengah. Dan dikedua tanganku, ada dua matamu, yang tak berhenti mengalirkan sumpah.

Thursday, March 29, 2012

Platonik

ini bukan perasaan sebelah tangan
ia menyiratkan kedalaman cita dalam dulang
ia cinta yang dinikmati dalam diam
ia membiarkan ruang dipenuhi oleh harapan
hingga ia mampu menuliskan puisi dan cerita
walau sesekali sepi berbisik, menepis tebas sukanya

dan suatu saat, ketika dunia lebih ramah padanya
cintanya akan disibakkan dalam kasur bunga, pelangi jatuh disana
tempat keindahan ditidurkan, mereka akan dibangunkan
cerita akan diberi nafas dan puisi memujinya