Saturday, August 27, 2011

Masih basah lagi kurasa setapak jalan itu. Masih membekas rasa sakit dikakiku lantaran luka yang kian membusuk. Adakah kau percaya tentang hati, pikiran, dan organ tubuh yang berkehendak sama dalam hidup? Aku tidak. Barangkali sejak hari itu dan seterusnya.
Hentikan!! 
Aku tidak terlalu mengerti, dan semakin hari aku semakin percaya bisikan kecil yang acapkali muncul saat pikiranku tak berpondasi dan hati sedang kering dari tuntunan surgawi. Kian hari bisikan itu sudah tak kukenali. Bukan. Bukannya menghilang, tapi alam sadarku sekarang sedang mendengar teriakan nista dari ujung neraka. Ah barangkali.
Hentikan!!
Aku mengingat, tak sekalipun aku memiliki niat untuk mengendurkan ikat sadarku. Tapi semakin dibisikkan dunia itu, aku tak mengingat apapun lagi yang berharga. Kalau kau sebut ini topeng, kau salah. Ini wajah yang ditempa paksa dengan panas kecil yang cukup lama. Alhasil, lumayan keras dan kokoh. Sebut saja ini menara...
...Hentikan!!!
Bagiku dunia tempatku lahir sudah lama runtuh satu persatu. Aku tidak percaya berbagai hal umum dan akhirnya menempatkanku pada impian tertinggi. Boleh kusebutkan? Tapi kurasa itu jenis yang memalukan untuk disebutkan. Hanya saja, belakangan aku berpikir kapan aku akan meninggalkan Tuhan. Sungguh melelahkan, aku merasa diriku adalah kebenaran mutlak karena merasa paling dekat dengan Tuhan. Hingga akhirnya aku tahu Tuhan adalah pondasi terakhirku, aku ingin mencoba menantangnya kembali.
Hentikan!!!
Saat ini aku dalam fase paling menjijikkan dalam lingkaran evolusi manusia. Dan tak ada jaminan buatku untuk mengepakkan sayap warna-warni di senja hari. Aku bergulat dengan diriku setiap harinya. Saling mempertentangkan kebenaran absolut yang di bentangkan dari dada, lidah, dan mata. Yang setiap milimeter darinya tak kutemukan kata kecuali...
...Hentikan!!!
Sesungguhnya, menjadi manusia ala kadarnya, punya hidup biasa-biasa, masalah-masalah sederhana, lingkungan yang biasa, di kelilingi oleh orang berpikiran sederhana adalah anugrah yang mestinya disyukuri.
Hentikan!!
Aku tidak tahu kemana tulisan ini akan kubawa. Awalnya aku hanya ingin menceritakan tentang sekumpulan bebek yang aku berkhianat atasnya. Dan aku sendiri berkhianat atas diriku sendiri. Lama-lama kemudian, aku berpikir untuk mengkambing-hitamkan Tuhan. Karena secara tiba-tiba kau mengetuk alam sadarku...barangkali aku akan berhenti sekarang.

*Disudut kamar, antara pilihan munafik atau pencundang.

Stabat, 27 Agustus 2011

No comments:

Post a Comment