Monday, May 26, 2014

dimana kau letakkan kesedihan?
   di lembah kesepian, tempat kenangan tumbuh subur
   saat ramai jiwa melawat, melepas jiwa yang penat
   di tebing-tebing curam

kelopak udara mengembang
meneteskan dingin yang mencekam geram
  sebab setitik airmata dijatuhkan.
  tak sudi, oleh angin diantar meninggi

lalu berjanjilah engkau, kita akan bertemu lagi
    saat jasad kita sudah bisa menumbuhkan kamboja sendiri
    doa-doa, kau tahu siapa yang mengamini.

nb: draft yang tak bisa dilanjutkan.

Sunday, March 23, 2014


Saat mencoba mengingat-ingat, oh iya, ternyata aku pernah mengutuk diriku sendiri
Demi menghargai kebahagiaan-kebahagiaan kecil,
Lebih baik menghabiskan semua jatah mimpi-mimpi buruk.
Hari ini diingatkan...
mungkin jiwa terlalu banyak mengemil bahagia. Baiklah.

Kubur Para Pelupa

Makam [3]

hari ini, dari tempat kuberdiri, 
lautan ikhlas, dan pulau untuk para pelupa
 ikhlaskanlah..
begitu katamu.

entah kapan, mereka bilang itu juga ukuran tuhan
aku mengangguk pelan
masih berdiri di anjungan.
dengan sakit yang menggigit, 
disitu.

mereka bilang aku harus menemukan maknanya,
maka aku melompat. menuju padanya, "pulau para pelupa."

airmata telah samar bersama ombak yang menampar-nampar
perlukah bagaimana kujelaskan luka disentuh sayang garam lautan
pada bibir koyak yang tergigit, kurekamkan.

jadi sudahkah kutemukan?
belum.
aku menggigil. sedihku beku.





ikhlas...
...sudah tak perlu.


Stabat, 23 Maret