Sunday, March 23, 2014


Saat mencoba mengingat-ingat, oh iya, ternyata aku pernah mengutuk diriku sendiri
Demi menghargai kebahagiaan-kebahagiaan kecil,
Lebih baik menghabiskan semua jatah mimpi-mimpi buruk.
Hari ini diingatkan...
mungkin jiwa terlalu banyak mengemil bahagia. Baiklah.

Kubur Para Pelupa

Makam [3]

hari ini, dari tempat kuberdiri, 
lautan ikhlas, dan pulau untuk para pelupa
 ikhlaskanlah..
begitu katamu.

entah kapan, mereka bilang itu juga ukuran tuhan
aku mengangguk pelan
masih berdiri di anjungan.
dengan sakit yang menggigit, 
disitu.

mereka bilang aku harus menemukan maknanya,
maka aku melompat. menuju padanya, "pulau para pelupa."

airmata telah samar bersama ombak yang menampar-nampar
perlukah bagaimana kujelaskan luka disentuh sayang garam lautan
pada bibir koyak yang tergigit, kurekamkan.

jadi sudahkah kutemukan?
belum.
aku menggigil. sedihku beku.





ikhlas...
...sudah tak perlu.


Stabat, 23 Maret



Saturday, March 22, 2014


Keyakinan ini nantinya akan mengingatkanku bahwa aku pernah ada. Ha, Bagaimana?
Ya. Sebelum siapapun menamparku kelak, aku harus memastikan aku tidak pernah tertidur.
Dan kalaupun ada yang ingin menghadiahiku tamparan itu, aku akan menerimanya dan memastikan.
Bahwa aku juga pernah melukai diriku lebih dari itu.
Itu saja. Sebuah ego.