Makam [3]
hari ini, dari tempat kuberdiri,
lautan ikhlas, dan pulau untuk para pelupa
ikhlaskanlah..
begitu katamu.
entah kapan, mereka bilang itu juga ukuran tuhan
aku mengangguk pelan
masih berdiri di anjungan.
dengan sakit yang menggigit,
disitu.
mereka bilang aku harus menemukan maknanya,
maka aku melompat. menuju padanya, "pulau para pelupa."
airmata telah samar bersama ombak yang menampar-nampar
perlukah bagaimana kujelaskan luka disentuh sayang garam lautan
pada bibir koyak yang tergigit, kurekamkan.
jadi sudahkah kutemukan?
belum.
aku menggigil. sedihku beku.
ikhlas...
...sudah tak perlu.
Stabat, 23 Maret