Saturday, August 31, 2013

Kematian [4]

andai saja angin di padang-padang ini bisa jauh lebih lembut
mungkin kau akan berpikir seribu kali menyeberanginya
dengan kaki mungkil yang sesekali terperosok dan tenggelam dalam pasir putih.

luputkah dari penglihatanmu, jauh disana, perompak mengawasimu nanar
sebilah pedang dan sedikit bercak darah telah dihunus, serigala-serigala pun mengendus lapar
kau lihat? kau lihat? nafsu telah dilempar.
tapi jiwamu barangkali jauh lebih membakar, merahnya mawar barangkali pun akan pudar
malu padamu.

belum lagi setengah hari, seperempat menuju oasis ilusi, impian tak mungkinmu
di depanmu mereka menatapmu, kau balas dengan tatapan tajam
lagi, mata pisau itupun malu padamu.

kau kira mereka telah berhenti mengusikmu
dan kaupun melangkah dengan pongah kemenangan
sedikit senyum simpul meremehkan

belum lagi setengah hari, seperempat dari mereka kau lewati, perompak terbaik bagiku
di depanmu tinggal kelamnya tujuan, kau berhenti
bukan lupa, bukan pula takut
hanya saja, ada yang hilang...

andai saja angin di padang-padang ini bisa membangunkanmu lebih cepat
tentu kau masih beserta perasaanmu yang terbenam.

Friday, August 23, 2013

ketika kekasih menuju penjara

Ia masih memandangnya; api dalam pikirannya beserta lilin dihadapnya yang telah lama padam.
Di luar sana masih hujan, lengkap bersama angin kencang, gelap, dan gelegar yang bersahut-sahutan.

Ia menatap langit panjang,
Reruntuhan datang belakang,
Ia menatap jeruji panjang,
Dosanya mulai menggenang.

Ada yang hilang, entah uang, entah ingatan. Ia lupa mana yang lebih berharga.
Sebilah pisau ditangan. Ia tersenyum tipis, persis seperti Zulaikha. Perempuan kastil yang kasihan.

Dagunya ia turunkan,
Bersama peluh berjatuhan.
Bahkan rantai ini pun masih sungkan
Disatukan oleh kepedihan

Lelehan lilin berjatuhan, ditangan, di pangkuan. Sedikit pun ia tidak berpindah dari kehampaan.
Terkoyak-koyak, dadanya. Sekedar memastikan. Bahwa memang hatinya tak ditemukan.

Titik-titik air hujan mengobati
Semua akan berempati
Hanya saja ia bukan tercari
Pencurian ini tak hadir di mimpi
Kemudian ingin aku katakan, "Siapakah yang menjanjikan kekuatan di luar dari bingkai Tuhan." Perempuan Zulaikha itu menghisap bibirnya, lalu ia menjawab pelan, perlahan-lahan bersama angin yang bersembunyi dibalik pintu pun bisa hilang, "Hati itu yang menjagamu, sekalipun ia rusak lalu menjadi puing seutuhnya. Bukankah Tuhan telah akan merelakan kebinasaanku nanti?". Aku terdiam, memasrahkan dirinya mendekat, menghujamkan..."kau tahu apa yang seharusnya...".

Aksara di Lingkar Kepala

Ada, satu cerita berputar-putar dikepalaku. Ia ingin duduk, terserah dimana, di kertas atau di dunia binari. Ia ingin tampil sebagai aksara, sebagai perwakilan gelombang debar yang tak bisa kau rasakan. Ia yang akan menyampaikan.

Tapi aksara dalam pikirku begitu pemalu. Sepanjang umurnya hanya bertemankan dusta, dipakaikan rima dan metafora pula. Aksaraku. Dia begitu lekat, bersembunyi di balik kuku, menjabat mataku dekat, takut seakan-akan mata pun bisa berkhianat, ia ikat erat-erat lidah dan pita suara, hanya saja...benarkah dia pantas untuk dilahirkan, disampaikan?
Aksaraku duduk, sendunya...apakah bisa dikatakan sendu sekali. Ia pun paham...disampaikan atau tidak, ia tidak akan mengubah apa-apa.