Wednesday, August 15, 2012

Kisah Jembatan Jingga

disuatu senja, kuputuskan untuk mencari pagi
sambil kukulum do'a agar tak sengaja bertemu denganmu
kutatap langit yang semakin jingga, apakah kau melihat indah yang sama disana?

sambil berjalan melewati jembatan sungai
aku memikirkan bagaimana pertemuan kita yang setiap hari berulang
dan bagaimana rindu dan kehilangan adalah komposisinya
di senja yang sama, kau yang biasanya menyapaku terengah-engah
dengan keranjang tampah yang penuh dengan sayuran tak laku terjual
lalu aku dengan senang hati membantumu mengangkatnya ke becak langgananmu
kemudian kau tersenyum puas sambil mencubit pipi kananku
dengan menitip sebuah pisang ditangan, kukira itulah caramu berterima kasih
setiap hari...

pada awal pertama, aku banyak bertanya-tanya
berapa umurmu? apa aku terlihat kekanak-kanakan hingga kau mencubit pipiku?
kemana kau hendak pulang? kemana ibumu? kau berjualan sendirian?
mengapa kau tak mengucapkan terima kasih?
tapi kemudian aku menanyakan pada diriku sendiri
mengapa kemudian aku tak keberatan membantunya? 
mengapa aku tak menanyakan namanya?
mengapa melihatmu menjadi rutinitasku?
dan mengingat senyum manismu, cukuplah itu jawaban semua tanyaku

aku menggaruk-garuk kepalaku lama
aku tertawa sambil berhamburan di pipiku airmata
perempuan bisu tuli, penjaja sayur buah di pajak dekat sungai 
kemarin lalu kutanyakan kabarnya
dan hendak kukatakan cinta ini begitu konyol didapatkan

sore ini, aku putuskan mencari pagi 
sambil kukulum do'a agar tak sengaja bertemu denganmu lagi
lalu kudapati diriku terbaring tengah menunggu senja terakhir yang jatuh dimata
 tapi langit mulai menghitam, dan jinggaku masih disana
hingga berkumpul orang-orang, melihatku berekspresi ketakutan
kepejamkan mataku, dan kulihat kau memegang tanganku gemetaran

aku terhenyak kaget dari ketaksadaran. belum semenit kuputuskan,
aku akan mengusir takutmu disana...

Tuesday, July 31, 2012

Makam Hati


tak ada peti mati, seperti dimakan jam batu itu. dan jam itu sudah berhenti berdetak.

tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.

tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.

tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.

pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.

sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.

jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.

dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.

trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.

aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...

ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??

Friday, July 27, 2012

Meredup

nun dikejauhan bulan pualam
pernah kutimbun beberapa dosa kelam
satu-satu ia berterbangan
menuju hati yang tak setimbang

perih ini sesaat menjadi tuhan
meniupkan nafas pada kenangan
aku berhenti dipersimpangan
aku lupa siapa cintaku gerangan

bawa aku berjalan pelan
aku sedang dirundung kesedihan
tuntunkan aku pulang
menuju rumah yang terang

bukakan pintumu sayang
aku didepan menanti istirahat panjang
bukakan segera oh sayang
kafankan aku dengan lampu temaram