Sunday, July 13, 2014

Bersama Rindu, Ia Berkecambah

Makam [4]

kau coba membedakannya
yang mengalir dibalik dada,
lalu menetes-netes dari jemari
selebihnya menguap kembali ke ujung pelipis mata.
simpan sebagian, kembang pelayang
yang hamparannya sepanjang mata memandang,
menjangkau pintu-pintu langit,
selebihnya tiup agar kembali terbang pada bumi.
lembayung jatuh, dimana disembunyikan
cecapku yang tak lagi punya rasa.

ada alasan untuk lari,
tapi dunia memilihmu untuk terendam.
memijar tanah kering dan menghauskan awan
yang pelan-pelan menghilang.
agar kau punya hak untuk menjadi ibu
atas kesah duniaku yang tak berbalas.
bila nanti kesanggupanku terbaring
diatas bekas kerambamu,
maukah menungguku di gerbang tuhan?

Sunday, July 6, 2014

Senyum Dulu

rasa sejuk
  menari dibawah lipatan tangan
  dibalik genggaman, bergumam
  "tak apa..."

agar berdiri anggun
   lekas pijakkan, lekas eratkan
   bekas tapak tuan terlanggar
   agar hati sepenuh seruni
    
lebam di dada sudah tak mengapa
  tinggal sejarak debar, biar saja
  mereka tak perlu mengerti
  "nan... bawa aku pergi"

Pendiam yang Berlalu

janji ini serupa tulang-belulang, 
dari jasad yang kita kubur dalam-dalam
kupapah berdiri untuk dirusak lagi
demi harapan di kalbumu yang telah pejam

bantu aku hidup,
dengan cacian atau uluran tangan
pelan-pelan atau deras seperti hujan
tapi tolong, jangan diam.
bila aku lebih suka kau mengancam
itu sebab aku lelah kesepian.

kini ada lembab menyelindap
berbisik untuk rehat; tidak - racauku kalap
dan ia menyelinap, di sekat mata, raga
mengerosi asa dan 
hangat rasa yang tak lagi kau anggap bermakna.