Friday, June 20, 2014

Taman Waktu, Hari Ini...

gadis kecil itu sedang menyibak-nyibak dedaunan basah. hari ini hujan. aku tidak sadar kapan. kapan? ah itu tidak penting. tiba-tiba saja dia sudah berlarian. meninggalkan rumah biru keperakan tergenang.
aku duduk tenang, sebelah tangan memegang pensil, sebelah lagi rautan. dan tiba-tiba dia menyodorkan sehelai daun. 
"ya. kenapa?"
aku tidak berbicara padanya. aku berbicara pada matahari yang masih menggantung.
"udah gak bisa."
dia kemudian duduk di samping, paling ujung dari bangku. menokok-nokok jam mati itu. aku kemudian bercakap-cakap dengan angin.
"gak bisa..."
"udah habis..."
"..kan udah kemarin."
udaranya begitu lembab.
"dasar gak berguna," sekarang aku bicara dengan matahari.
angin menderu itu datang lagi, meninggalkan pola daun yang digodanya. seperti kemarin. seperti kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarin kemarinnya lagi. kemarin? ah, ini juga tidak penting.
"aahhh, jam sembilan lewat empat dua..."
suara asing.
aku menoleh, dia menoleh. aku menatap jam itu. memastikan.
"bener kan?"
suara asing lagi.

Monday, May 26, 2014

dimana kau letakkan kesedihan?
   di lembah kesepian, tempat kenangan tumbuh subur
   saat ramai jiwa melawat, melepas jiwa yang penat
   di tebing-tebing curam

kelopak udara mengembang
meneteskan dingin yang mencekam geram
  sebab setitik airmata dijatuhkan.
  tak sudi, oleh angin diantar meninggi

lalu berjanjilah engkau, kita akan bertemu lagi
    saat jasad kita sudah bisa menumbuhkan kamboja sendiri
    doa-doa, kau tahu siapa yang mengamini.

nb: draft yang tak bisa dilanjutkan.

Sunday, March 23, 2014


Saat mencoba mengingat-ingat, oh iya, ternyata aku pernah mengutuk diriku sendiri
Demi menghargai kebahagiaan-kebahagiaan kecil,
Lebih baik menghabiskan semua jatah mimpi-mimpi buruk.
Hari ini diingatkan...
mungkin jiwa terlalu banyak mengemil bahagia. Baiklah.