Friday, February 10, 2012

Rok Pendek

Untuk perempuan yang memakai rok pendek. Aku  tak punya dendam denganmu. Aku juga tak suka kalau kau tertidur di mataku. Tapi aku ingatkan hari itu, saat kau menyandarkan seluruh tubuhmu, aku mengingat sesuatu yang begitu penting.

Yang didirikan oleh angan-angan. Terlalu lembut untuk di katakan impian. Maka anggap saja ini sebuah perumpamaan. Siang hari bagimu, bagi manusia yang berlalu-lalang di hiruk pikuk kota, adalah panas menyengat yang (kalau bisa) dihindari. Tahukah? Matahari itu bintang. Sedang, seseorang di tengah malam tak kunjung merasa hangat. Kuharap kau mengerti, perempuan ber-rok pendek.

Saat ini, aku tak hilang kendali. Sungguh. Aku sepenuhnya paham aturan main disini. Hanya saja, saat melihat rok yang melingkar di pahamu, aku berpikir untuk mencadari tanganku. Kau tahu, ia bisa lebih vulgar dari dunia tahu. Akan kutuliskan sebait sajak untukmu, kuharap kau tak mengerti. Sungguh. Karena kau bodoh.

Jilati aku tuan...
Aku puisi bercampur nanah...
Usap aku dengan lidahmu...
Aku empedu berlarik seribu...
Kau rumahku...
Tempat iblis dan rindu bercumbu...

Sunday, February 5, 2012

sepotong cerita yang tak perlu

ada yang berbicara, ada yang mendengar. kau tak bisa pilih keduanya.
ada yang menderita, ada yang mengasihaninya. kau tak bisa merasa kedua-duanya.
ada yang berhenti, ada yang terus berjalan. kau tak mesti memaksakan salah satunya.
ada yang diam, ada yang menjerit perlahan. kau salah satunya.

aku ingin bicara, akan terus bicara, tak perlu ada yang mengasihani, tentang apa aku bercerita. kau boleh berhenti, dan aku akan terus berjalan. karena suatu saat aku akan diam. kehabisan cerita untuk kau dengar. padahal dalam hati aku masih saja bercerita. siapa dari kita yang menjerit perlahan?

aku ingin kau mendengarkan, yang barangkali kau anggap derita, kau pikir kau tak mampu meneruskan, dan aku tetap takkan berhenti. sampai aku diam. dan salah satu dari kita menjerit perlahan.

kau juga pasti berbicara, seringnya bukan deritamu. seringnya aku tak mendengarkan, seringnya justru aku mengasihanimu. karena kau berhenti, aku juga akan takkan meneruskan. kita diam. tak perlu ada yang menjerit perlahan.

kau belajar mendengar dari aku yang tampaknya pendiam. aku belajar bicara darimu yang tampak banyak bicara. apa sekarang kau ikut menderita, soalnya aku tidak. kurang atau lebih, sakit takkan lebih sakit. kau bilang kau akan berhenti, tapi ada yang berjalan. ada yang diam. dan hening yang perlahan.

kita bukan siapa-siapa di skenario tuhan. terlalu banyak peran yang mesti dimainkan. aku memilih antagonis. anggap saja ini sebuah prolog dalam hidupmu, sebelum kau menemukan lawan utamamu. ah,aku berlebihan. aku cameo saja kalau begitu. sorry. aku sengaja membuangmu.

Friday, February 3, 2012

Sepuluh Hal (Benci)

1. Nama
Saya sebenarnya tidak pernah terlalu suka dengan nama. Tidak. Nama saya bagus. Maknanya juga. Hanya saja saya lebih memilih (kalau bisa) nama saya tidak terlalu punya arti. Seperti kehidupan saya barangkali. Nama itu tidak perlu panjang-panjang. Asal lekat gampang diingat. Uki, misalnya. #eh

2. Sekolah
Yup, saya salah satu dari kebanyakan yang benci sekolah. Tapi saya lebih benci karena tak ada satu hal menarik pun yang ditawarkan disana. Saya suka belajar. Tapi untuk saat ini, tak ada kenyataan sekolah/kampus yang seideal dengan keinginan saya. Teman-temannya? Ah, kan kau bisa menebaknya.

3. Kendaraan
Saya tidak suka dengan semua jenis kendaraan. Walaupun saya tidak pernah naik kereta api dan pesawat terbang, tapi saya kira saya tidak suka. Bukan karena saya tidak bisa mengendarai salah satu jenisnya (kalaupun iya), tapi lebih karena saya lebih memilih jalan kaki, terlebih duduk berdiam diri. Saya lebih memilih tak beranjak kemanapun. Kalau bisa.

4. Repetisi
Diulang-ulang. Saya pernah posting tentang hal ini. Terkhusus untuk sebuah pertanyaan "kenapa?". Saya terlalu benci, sampai mengakibatkan delusi. Pernah dengarkan lagu JB yang Baby itukan? Semacam itulah. Ah sial.  Delusi lagi!!

5. Hidung Mampet
Saya tidak ingat lagi bagaimana rasanya menghirup udara dengan kedua lubang hidung ini. Saya terlalu benci sampai melupakannya.

6. Fashionista
Gak tau sih, seberapa fashionistanya saya. Lelaki itu tidak umum. Walaupun begitu, semua orang yang fashionista itu, bagi saya. Bodoh. Kalau wanita apalagi.

7. Makanan Basi
Adalah hal luar biasa. Karena hampir tiap hari saya menemukannya. Bukannya rumah ini berlebihan dalam hal makanan, justru sebaliknya. Semua orang dirumah ini bisa lupa makan seharian. Dan makanan dimakan kalau perut udah desperate saja. Orang dirumah ini lebih milih makanan instan diluar. Mahal? Tentu saja.

8. Subjektif
Saya tidak suka dengan orang yang berpendapat subjektif. Saya benci sampai saya ketakutan sendiri. Orang-orang yang subjektif jelas saja egois. Cenderung tak bertenggang rasa. Dan jenis orang yang tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Pada akhirnya, saya justru lebih subjektif dari orang-orang sejenis. Sial. 

9. Pikiran
Kadang saya ingin berhenti berpikir. Berhenti memikirkan hal-hal kecil. Hal-hal besar yang menjadi kecil-kecil. Berhenti berbicara disana. Dan berhenti menulis. Berpikir lebih banyak menyakiti hati. Itulah kenapa saya sangat suka tidur. Walaupun, untuk tidur saja susah!!!

10. Saya
Cukup jelas. Haters gonna hate.