Friday, June 24, 2011

Kemarau

Di tamanmu, petiklah bunga yang kau suka. Capung dan kupu-kupu sudah tak lagi datang kesini. Sebentar lagi musim kemarau. Bagian mana yang kan kau biarkan mengering gersang tanpa kehidupan. Biarkan saja, mawar lain lagi akan tumbuh disana. 
 
Di tamanmu, tak kan lagi kau temukan teratai yang malu-malu. Sebab kemaraumu kali ini, hanya menyisakan duri bagi yang memaksa. Dimana lagi kau simpan...benih-benih bunga matahari. Kemaraumu tak lagi bilang permisi, untuk menjadi tunggal penyulut siangmu.

Bawakan aku segenggam tanah tamanmu. Segenggam saat kau bakar seluruh lainnya.
Katakan salam, pada mataharimu.

Klimaks


Anak laki-laki itu berbalik. Kepada sesuatu ia berteriak, “Aku akan mempertaruhkan apapun!!”

...
Hening. Dalam hatinya ia meramal, “Suatu saat, iman ini juga akan kupertaruhkan.”

Lembut angin berhembus. Membawa bisikan kecil entah darimana, “Tolong, selamatkan aku!” Bisikkan itu lenyap. Menjadi ilusi yang tak diinginkan.

=== === ===

Dia lelah. Duduk sendiri di ujung ruangan. Peluhnya menyatu dengan kertas yang sedang ia kepal. Sesaat angin memaksa masuk dari bilik jendela yang tertutup rapat. Di kamarnya yang gelap, dia kedinginan. Ya, dunia tak lagi hangat dirasanya.

Sesekali terdengar tetesan air dari tubuhnya. Entah peluhnya entah airmatanya. Dia tak punya alasan untuk menangis. Dan tanpa alasan juga, ia terkulai lemas. Ini coda. Intro hidup yang baru lagi.

Saturday, April 16, 2011

Untuk Pengkhianat

hmmmpph,
kau hirup dalam-dalam
sedikit jeda kau sengaja
dan kau lanjutkan bicara, "bla bla bla..."
"ini agama...ini tuhan...dan sebagainya..."
tepukan tangan kah kau harapkan?
dengan taburan confetti tatapan mata
kau pun menjadi tuhan yang fana

apa kau tak gerah?
bergeliat atas nama ilah
sementara di hatimu menggumpal rasa pongah!!
cih, aku mau muntah!