diam, kutatap layar bergambar padang rumput.
tiba-tiba saja, kurasa umurku 30 tahun
dan kakiku terhenti, entah kemana ku kan melangkah.
kutatap lagi matahari.
yang menjelang jingga hendak tenggelam.
surut-surut air pasang meresapi kaki.
kini di hamparkan pantai di mata.
kumelamun, apakah perasaan yang tertinggal
atau ada kenangan yang masih tersimpan
dingin sejenak datang di hati.
mencumbuku rasa haru yang kian sesak
kududuk dan kudapati cangkang kerang.
kumainkan dan kupanggil angin.
sahabat si kesepian.
duhai samudera...
sebuah cerita. dikedalaman yang tak tembus cahaya.
sebuah derita. luka dan pilu yang tersimpan.
bertabuh suara camar menjauh dari pantaimu.
kini berganti malam, gelap dan menyisakan suara ombakmu yang gelisah.
sebuah cerita. tentang masa laluku penuh penyesalan.
sebuah derita. yang kan kutitipkan padamu...
bawalah jauh.
duhai samudera...
mengalir dingin air, perlahan-lahan menyusuri pipiku.
adakah kelabu waktu yang bisa ku ulangi
merubah wajah tua lusuh ini, meniti dari angka satu.
berpola tidak berpola, sebuah janji, tak mungkin ditepati.
...
Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Friday, November 5, 2010
Sunday, October 10, 2010
Makam Hati
tak ada peti mati, seperti dimakan jam batu itu. dan jam itu sudah lama berhenti berdetak.
tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.
tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.
tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.
pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.
sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.
jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.
dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.
trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.
aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...
ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??
tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.
tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.
tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.
pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.
sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.
jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.
dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.
trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.
aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...
ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??
Taman Waktu
disana senja abadi. dimana matahari menggantung di barat, seakan hendak tenggelam tapi tak pernah. dia tetap besar dan berwarna kuning kemerahan. Jingga.
Disini hanya sebuah taman. Yang terdiri dari satu ruas jalan. Dikanan kiri, pohon" musim gugur sedang lebat"nya. Jalan raya itu pun sudah tenggelam ditelan 'kresek' daun" maple yg berserakan. sesekali angin berhembus lurus, meninggalkan pola. Yg indah sekali.
di salah satu ujung jalan itu, aku duduk sebuah bangku kayu yg halus dan indah. bangku yang panjang, mungkin cukup 4 orang.
Tepat dibelakangku berdiri sebuah jam. Seperti jam di inggris, tp tak sebesar itu, hanya setinggi 2-3 meter saja. Jarumnya tak pernah brdetak.
tepat di belakang jam itu, sebuah peti mati. yg sangat indah, berwarna biru dan keperakan. Didalamnya...coba tebak?? Ada gadis kecil yang sangat cantik. Dia tertidur entah mati, badannya pucat dan bibirnya tersenyum. dia kaku dan mengeras. Ya...dia membeku, diantara lapisan es, dia terpenjara disana.
Taman waktu ini, sepenuhnya milikku.
Disini hanya sebuah taman. Yang terdiri dari satu ruas jalan. Dikanan kiri, pohon" musim gugur sedang lebat"nya. Jalan raya itu pun sudah tenggelam ditelan 'kresek' daun" maple yg berserakan. sesekali angin berhembus lurus, meninggalkan pola. Yg indah sekali.
di salah satu ujung jalan itu, aku duduk sebuah bangku kayu yg halus dan indah. bangku yang panjang, mungkin cukup 4 orang.
Tepat dibelakangku berdiri sebuah jam. Seperti jam di inggris, tp tak sebesar itu, hanya setinggi 2-3 meter saja. Jarumnya tak pernah brdetak.
tepat di belakang jam itu, sebuah peti mati. yg sangat indah, berwarna biru dan keperakan. Didalamnya...coba tebak?? Ada gadis kecil yang sangat cantik. Dia tertidur entah mati, badannya pucat dan bibirnya tersenyum. dia kaku dan mengeras. Ya...dia membeku, diantara lapisan es, dia terpenjara disana.
Taman waktu ini, sepenuhnya milikku.
Subscribe to:
Posts (Atom)