Tuesday, October 9, 2012

di hati yang landai, satu nama berlabuh
lalu ia daratkan segala kesah selama nafas terkembang
dan seketika hatinya menjadi sempit
bukan tak mampu sekedar menampung satu nama
satu cerita dari beragam rasa
tapi seketika itu juga tuan tanah menukar hatinya
untuk hujan yang tak pernah jatuh disana
untuk sang pemilik nama, merebahkan raganya
selamanya...

Bunga April

Waktu itu April, perempuan manis itu mengemasi sisa perbekalannya yang tersisa, Dan kami, anak-anak dari rahimnya yang hangat, dihadiahinya airmata. Tidak untuk dihabiskan hari itu, tidak untuk jatah sebulan. Seumur hidup katanya. Jatah airmata yang mengingatkan kami, untuk tidak menyia-yiakan yang terkasih bagi kami.

Tapi, ketika sampai wajahnya di tikungan bumi. Mendadak tumpah ruah seluruh rinduku, seluruh keluh kesah dalam raga ringkihku. Karena kutahu, rindu ini takkan pernah sampai, takkan ada lagi pertemuan yang melegakan dada. Dan aku juga ingin mati bersama April. Setelah anak-anakku menghormati hari lahirku, sesaat kemudian mengingat kematianku. Karena ya..mereka dekat.

Wednesday, August 15, 2012

Kisah Jembatan Jingga

disuatu senja, kuputuskan untuk mencari pagi
sambil kukulum do'a agar tak sengaja bertemu denganmu
kutatap langit yang semakin jingga, apakah kau melihat indah yang sama disana?

sambil berjalan melewati jembatan sungai
aku memikirkan bagaimana pertemuan kita yang setiap hari berulang
dan bagaimana rindu dan kehilangan adalah komposisinya
di senja yang sama, kau yang biasanya menyapaku terengah-engah
dengan keranjang tampah yang penuh dengan sayuran tak laku terjual
lalu aku dengan senang hati membantumu mengangkatnya ke becak langgananmu
kemudian kau tersenyum puas sambil mencubit pipi kananku
dengan menitip sebuah pisang ditangan, kukira itulah caramu berterima kasih
setiap hari...

pada awal pertama, aku banyak bertanya-tanya
berapa umurmu? apa aku terlihat kekanak-kanakan hingga kau mencubit pipiku?
kemana kau hendak pulang? kemana ibumu? kau berjualan sendirian?
mengapa kau tak mengucapkan terima kasih?
tapi kemudian aku menanyakan pada diriku sendiri
mengapa kemudian aku tak keberatan membantunya? 
mengapa aku tak menanyakan namanya?
mengapa melihatmu menjadi rutinitasku?
dan mengingat senyum manismu, cukuplah itu jawaban semua tanyaku

aku menggaruk-garuk kepalaku lama
aku tertawa sambil berhamburan di pipiku airmata
perempuan bisu tuli, penjaja sayur buah di pajak dekat sungai 
kemarin lalu kutanyakan kabarnya
dan hendak kukatakan cinta ini begitu konyol didapatkan

sore ini, aku putuskan mencari pagi 
sambil kukulum do'a agar tak sengaja bertemu denganmu lagi
lalu kudapati diriku terbaring tengah menunggu senja terakhir yang jatuh dimata
 tapi langit mulai menghitam, dan jinggaku masih disana
hingga berkumpul orang-orang, melihatku berekspresi ketakutan
kepejamkan mataku, dan kulihat kau memegang tanganku gemetaran

aku terhenyak kaget dari ketaksadaran. belum semenit kuputuskan,
aku akan mengusir takutmu disana...