Tuesday, September 6, 2011

Cermin


kulihat cermin diriku.
5 tahun kedepan.

terkapar di ruang putih.
mati. sendirian.

brengsek!! Cermin sekarang belajar menipu.

prangg!!!
pecahan kaca, sedikit bercak darah

ku intip dari satu keping kaca.
cermin diriku 3 tahun ke depan,
sambil berdarah-darah mengejar sarjana.

kuambil martil.
druakk!

proyektil tajam menerjang mataku.
aku menjerit.
5 menit kemudian aku diam.
kuputuskan menjemput takdir 5 tahun kedepan.

*29-08-2010...

Saturday, August 27, 2011

Masih basah lagi kurasa setapak jalan itu. Masih membekas rasa sakit dikakiku lantaran luka yang kian membusuk. Adakah kau percaya tentang hati, pikiran, dan organ tubuh yang berkehendak sama dalam hidup? Aku tidak. Barangkali sejak hari itu dan seterusnya.
Hentikan!! 
Aku tidak terlalu mengerti, dan semakin hari aku semakin percaya bisikan kecil yang acapkali muncul saat pikiranku tak berpondasi dan hati sedang kering dari tuntunan surgawi. Kian hari bisikan itu sudah tak kukenali. Bukan. Bukannya menghilang, tapi alam sadarku sekarang sedang mendengar teriakan nista dari ujung neraka. Ah barangkali.
Hentikan!!
Aku mengingat, tak sekalipun aku memiliki niat untuk mengendurkan ikat sadarku. Tapi semakin dibisikkan dunia itu, aku tak mengingat apapun lagi yang berharga. Kalau kau sebut ini topeng, kau salah. Ini wajah yang ditempa paksa dengan panas kecil yang cukup lama. Alhasil, lumayan keras dan kokoh. Sebut saja ini menara...
...Hentikan!!!
Bagiku dunia tempatku lahir sudah lama runtuh satu persatu. Aku tidak percaya berbagai hal umum dan akhirnya menempatkanku pada impian tertinggi. Boleh kusebutkan? Tapi kurasa itu jenis yang memalukan untuk disebutkan. Hanya saja, belakangan aku berpikir kapan aku akan meninggalkan Tuhan. Sungguh melelahkan, aku merasa diriku adalah kebenaran mutlak karena merasa paling dekat dengan Tuhan. Hingga akhirnya aku tahu Tuhan adalah pondasi terakhirku, aku ingin mencoba menantangnya kembali.
Hentikan!!!
Saat ini aku dalam fase paling menjijikkan dalam lingkaran evolusi manusia. Dan tak ada jaminan buatku untuk mengepakkan sayap warna-warni di senja hari. Aku bergulat dengan diriku setiap harinya. Saling mempertentangkan kebenaran absolut yang di bentangkan dari dada, lidah, dan mata. Yang setiap milimeter darinya tak kutemukan kata kecuali...
...Hentikan!!!
Sesungguhnya, menjadi manusia ala kadarnya, punya hidup biasa-biasa, masalah-masalah sederhana, lingkungan yang biasa, di kelilingi oleh orang berpikiran sederhana adalah anugrah yang mestinya disyukuri.
Hentikan!!
Aku tidak tahu kemana tulisan ini akan kubawa. Awalnya aku hanya ingin menceritakan tentang sekumpulan bebek yang aku berkhianat atasnya. Dan aku sendiri berkhianat atas diriku sendiri. Lama-lama kemudian, aku berpikir untuk mengkambing-hitamkan Tuhan. Karena secara tiba-tiba kau mengetuk alam sadarku...barangkali aku akan berhenti sekarang.

*Disudut kamar, antara pilihan munafik atau pencundang.

Stabat, 27 Agustus 2011

Tuesday, August 23, 2011

10 Mitos Tentang Introvert

Dari tulisan Carl King yang di copy-paste, copy-paste, copy-paste, dan akhirnya saya terjemahkan dengan sedikit penambahan. Tulisan ini saya rasakan, dan saya percaya beberapa. :)

Mitos #1 – Introvert tidak suka bicara.

Ini tidak benar. Introvert tidak bicara sampai mereka mempunyai sesuatu untuk dibicarakan. Mereka tidak menyukai pembicaraan kecil. Coba lah berbicara pada introvert tentang hal-hal yang mereka tertarik di dalamnya, dan mereka tidak akan berhenti berbicara sampai beberapa hari. ^_^

Mitos #2 – Introvert itu pemalu.
Rasa malu tidak ada hubungannya dengan sifat Introvert. Introvert tidak terlalu takut pada orang-orang. Apa yang mereka butuhkan adalah alasan untuk berinteraksi. Mereka tidak berinteraksi karena ingin berinteraksi. Jika kamu ingin berbicara pada seorang Introvert, mulai saja berbicara. Tidak perlu takut untuk berusaha sopan. Kadang-kadang seorang introvert juga mencari kesempatan untuk berbicara.

Mitos #3 – Introvert itu kasar.
Introvert tidak melihat alasan untuk berbicara dengan basa-basi. Mereka ingin setiap orang berbicara terus terang dan jujur. Sayangnya, hal ini tidak diterima di kebanyakan situasi, jadi Introvert dapat merasa banyak tekanan untuk masuk di situasi-situasi tersebut, yang mereka temukan membuat mereka lelah.

Mitos #4 – Introvert tidak suka orang-orang.
Sebaliknya, Introvert justru menghargai sedikit teman yang mereka punya. Mereka dapat menghitung teman dekat hanya dengan satu tangan. Jika kamu cukup beruntung mendapatkan seorang Introvert yang menganggap kamu seorang teman, barangkali kamu menemukan teman sejati untuk seumur hidup. Sekali saja kamu mendapatkan rasa hormat mereka sebagai substansi seorang teman, maka kamu sudah terhitung.

Mitos #5 – Introvert tidak suka pergi di keramaian.
Tidak mungkin. Introverts hanya tidak suka berada di keramaian UNTUK WAKTU YANG LAMA. Mereka cenderung menjauhi komplikasi yang terjadi di aktifitas publik. Mereka mengumpulkan kesan dan pengalaman dengan sangat cepat, dan sebagai hasil, tidak merasa butuh disana untuk "mendapatkannya". Mereka selalu siap untuk pulang kerumah, mengingat ulang, dan memprosesnya semua. Faktanya, mengingat ulang adalah hal yang paling penting untuk Introvert.  

Mitos #6 – Introvert selalu ingin sendiri.
Introvert merasa nyaman dengan rasa pikirnya sendiri. Mereka banyak berpikir. Tukang melamun. Mereka suka memiliki masalah untuk dikerjakan, atau teka-teki untuk dikerjakan. Tetapi mereka juga dapat merasa luar biasa kesepian jika mereka tidak mempunyai seorang pun untuk membagi hal-hal yang mereka temukan.  Mereka mendambakan hubungan yang asli dan tulus dengan SATU ORANG pada satu waktu.

Mitos #7 – Introvert itu aneh.
Introvert seringnya seorang individualis. Mereka tidak mengikuti hal-hal umum. Mereka memilih menghargai cara mereka hidup. Mereka berpikir untuk diri sendiri dan karena hal itu, mereka sering menantang hal-hal umum. Mereka tidak membuat banyak keputusan berdasarkan apa yang sedang populer atau sedang ngetrend.

Mitos #8 – Introvert itu jauh dari kutu buku.
Introvert adalah orang-orang yang umumnya melihat dengan perasaan, memperhatikan pikiran dan emosi mereka sendiri. Bukan berarti mereka tidak mampu memperhatikan apa yang terjadi disekitar mereka, hanya saja dunia dalam diri mereka lebih menstimulasi dan menghargai mereka.

Mitos #9 – Introvert tidak tahu bagaimana untuk santai dan bersenang-senang.
Introvert adalah tipe yang santai saat dirumah atau di alam, bukan di tempat-tempat publik yang ramai. Introvert bukan pencari sensasi dan maniak adrenalin. Jika terlalu banyak pembicaraan atau keributan yang terjadi, mereka jadi tertutup. Saraf otak mereka terlalu sensitif untuk neurotransmitter yang disebut Dopamine(*). Introvert dan Extrovert memiliki jalur saraf utama yang berbeda. Itu saja

Mitos #10 – Introvert dapat memperbaiki diri sendiri dan menjadi Extrovert. Sebuah dunia tanpa Introvert akan menjadi dunia dengan sedikit ilmuwan, musisi, seniman, sastrawan, pembuat film, dokter, matematikawan, penulis, dan filosof. Dikatakan bahwa, banyak cara untuk seorang Extrovert bisa mempelajari cara berinteraksi dengan Introvert. (Ya, saya membalik dua istilah ini dengan sengaja untuk menunjukkan padamu bagaimana berat sebelahnya masyarakat kita.) Intovert tidak mampu "memperbaiki diri sendiri" dan mendapatkan rasa hormat untuk temperamen alami dan sumbangsih mereka pada bangsa manusia. Faktanya, suatu studi (Silverman, 1986) menunjukkan bahwa persentasi Introvert meningkat seiring dengan IQ.

Dapat menjadi kehancuran bagi seorang Introvert yang melupakan jati diri mereka hanya untuk bisa berjalan bersama dengan Dunia Dominan-Extrovert. Seperti minoritas lainnya, Intovert dapat berakhir membenci diri mereka sendiri dan yang lainnya karena perbedaan, Jika kamu berpikir kamu adalah seorang Introvert, saya sarankan untuk mencari topik dan membandingkan catatan-catatan seorang Introvert lainnya. Beban tidak saja pada Introvert yang berusaha dan untuk menjadi "normal". Extrovert butuh mengakui dan menghormati kita, dan kita juga perlu menghargai diri sendiri

Ya, saya sendiri menghabiskan 80% hingga 90% waktu dirumah jika tidak ada kegiatan formal seperti kuliah atau kerja. Saya berbicara pada diri sendiri tentang ini dan itu, sebanyak 70% hingga 80% yang saya tulis dan katakan kepada orang lain adalah hal-hal yang saya sesalkan. Saya umumnya mengejek karena saya pikir itu cara yang hangat untuk meningkatkan intimitas dengan satu sama lain. Saya pikir saya itu egois karena hanya datang di suatu perkumpulan karena ingin, dan pergi karena saya memang ingin sendiri. Lebih dari itu, saya banyak berpikir apa yang kalian pikirkan dan rasakan, karena itu berhentilah membicarakan orang dari belakang. Kita manusia yang tidak seimbang dengan perbedaan, tapi justru dengan perbedaan itu kita saling menyeimbangkan diri. :)

Dopamine(*) = saraf ini umumnya terkait dengan sistem reward otak, memberikan perasaan kenikmatan dan penguatan untuk memotivasi seseorang secara proaktif untuk melakukan kegiatan tertentu.