dari bengkel sampai tempat ia berdiri
menetes-netes dari celah jemarinya.
meninggalkan jati diri yang selama dua puluh tahun
terpahat di liang pikirnya.
dalam hitungan menit kini ia terkatung-katung
bibirnya gagap, gelap, hendak berucap mampus
tapi harapan selembar tipis
dibakar pun tak berbau hangus
dan dia diam mendengarkan
bisik-bisik dari rongga tanah
tepat setunas emosi menyerap segala remah
yang lebih dahulu dikuliti cuap-cuap benci.
aku akan berubah...
tapi Fadli bukan ular maupun naga
ia hanya patung yang dipahat dengan sesal
lalu ditiupkan ruh-ruh kegagalan
dipasungkan pula berderet-deret sepah seharum madu
tepat di depan wajahnya, agar ia tak perlu mencari surga
Stabat, Oktober 2015