Wednesday, January 11, 2012

Jika kau melupakanku

Kau harus tahu
Berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk mengingatmu
Tapi itu juga tak kan berarti
Kau harus tahu
Kau pernah menjadi candu
Yang membait dalam sajak-sajak rindu
Tapi masa itu kini akan berlalu

Tapi jika harus kau lupa
Maka lupakanlah
Kekasihmu sudah menunggu
Akan kulepaskanlah bilik-bilik ragu
Saat kau sudah terlalu jauh
Bahkan untuk ucapan perpisahan

Karena kau akan berhenti mencintaiku
Aku juga akan berhenti mencintaimu





Sunday, December 11, 2011

aku pantai yang kehilangan camar
perbukitan yang rindu kebun-kebun teh
aku pagi tanpa burung gereja
atau senja yang lupa jingganya

menggenggam udara, menatap gulita malam
hening tanpa nada, kosong di savana
angin menamparku...dan semua ini
belum cukup untuk menyatakan kehilangan.

suatu tempat di Taman Waktu...

Pita merah, panjang terbentang dari tanganku…menuju lingkar lehermu. Mengikatmu, kata orang. Tapi terseret di gersang amarahmu, aku. Yang katanya dulu penuh dengan hijau rerumputan dan bunga-bunga liar.
Dibawah kakimu, terinjak buta mata kananku. Frasa, melihat sebelah mata lengkap sudah. Bukan tajam wajah yang menghujam, yang kau tawarkan lebih besar. Sendu. Air mata yang tervaporasi, merah hitam tatapmu, karat sejarah di ujung pelipisnya, bibir merah yang terkoyak – dan ruang hampa di hatimu menenggelamkanku dalam segala tanpa akhir.
Aku koma. Bahkan disana kau masih berdiri bergetar. Masih dengan tali merah di lehermu, mencambukku, dan ribuan darah segar  memandikanku. Ini caramu menyucikanku. Kau tatap langit, sedang kau menggantungiku menuju angka enam. Lalu kita mati bersama. Kau setia. Epilog yang kau sediakan untuk yang mencintaimu.
Disana berdiri, di ujung jalan, dimana waktu terhenti. Kita yang menghentikankannya. Berharap tak ada yang merebut rasa sakit ini.