tak ingin pergi, tapi tak juga bisa disini
pinjamkan aku lilin, selimut dan kelambu
saat setengah sadar, padamkan temaram
biar aku yang melepas jiwa menuju tuhan
seratus dua ratus, kunang-kunang malam
bukan pijar pengganti bintang
ada awan menggulung di barat
matikan aku sebelum hujan tiba
berkecambah di balik bayangmu
ada degup yang kian memaksa
waktuku memang tak lama
maka, biarkan sekali ini aku jadi cahaya
Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Monday, August 8, 2011
Dingin (Flash Fiction)
Aku masih memandang keluar jendela. Badai salju di luar tidak berhenti sejak kemarin. Tumpukkan halus itu pun sudah meninggi. Melalui jendela dengan jelas bisa kulihat persimpangan jalan. Hanya sedikit orang yang berlalu lalang di jalan, mereka melawan badai pastilah karena hal yang benar-benar penting. Aku sedang menunggu. Dan hal yang penting yang sedang kutunggu itu...
"Tok..tok..tok.."
Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Siapa yang bertamu ke rumah gadis tengah malam begini?
"Siapa?"
"Tok..tok..tok.."
Dia masih saja mengetuk. Dengan berat aku berjalan menuju pintu. Kubuka perlahan pintunya. An. Walaupun sudah lama ia tak mengunjungiku, aku tidak begitu terkejut. An berdiri gemetar, wajahnya pucat dan tertutup sebagian oleh salju. Sebenarnya aku kasihan melihatnya begini. Tapi rasa kasihan ini harus kutahan. Aku mengacuhkannya tanpa mempersilahkannya masuk. Kuharap ia masuk dengan sendirinya untuk menghangatkan badannya.
Aku kembali duduk menatap keluar jendela. Kali ini tak ada yang kutunggu. An masih berdiri di ambang pintu. Sesekali kuintip dia untuk memastikan dia segera masuk dan menutup pintu. Hawa dingin badai dan hawa lainnya menyergapku, dingin. Tepat sebelum aku beranjak kesal, akhirnya An masuk. An masih diam. Aku juga tak ingin bicara padanya. Saat-saat seperti ini benar-benar menyesakkan dada.
Sudah 4 tahun kami menjadi kekasih, aku mengenal betul kapan An berbicara. Dia berbicara terlalu jarang. Dan perhatian apa yang kau harapkan dari seseorang yang jarang bicara. Sejujurnya untuk hal ini aku sudah lama memakluminya. Bahkan Bibi Ery, tetanggaku, mengatakan kami ini benar-benar cocok. Mengapa? Karena An terlalu pendiam dan aku terlalu cerewet. Selama 3 tahun aku merasa kasih sayang yang diberikan An, tapi sedikit rasanya yang bisa kulakukan untuknya. Dan setahun ini, rasanya hubungan kami di ambang kehancuran. Awalnya aku hanya ingin dia berbicara sedikit lebih banyak. Saat itu aku berpikir bagaimana kalau aku juga ikut berdiam diri. Biasanya, kalau aku berbicara dengan An persis seperti perawat dengan pasien yang sedang sekarat. Kamu ingin ini An? Dia menggeleng. Atau yang ini? Dia menggeleng. Hmm, pasti ini yang kamu suka? Lalu, ia tersenyum tipis, dan matanya melengkung sayu. Ah, sungguh manis senyumnya itu. Bagiku walau dia tidak bicara terlalu banyak, tapi senyum manisnya mencukupkan segalanya. Dulu.
Kembali, aku menatap jendela. Melalui pantulannya kulihat An mengamatiku dari belakang. Wajahnya tidak terlihat sedih. Tapi tak juga ada senyuman disana. Seperti 3 bulan yang lalu. Malam itu, ia mengirimkan pesan untuk ikut pergi bersamanya ke suatu tempat. Aku yang sedang mengimitasi tingkahnya sama sekali tidak berniat membalas. Keesokan harinya, dia datang. Persis seperti hari ini, aku membuka pintu, tidak menyapa, tidak menyuruhnya masuk, hanya membiarkan dia di depan pintu. Sekitar beberapa menit, aku hanya duduk diam. Berharap dia merayuku dan sebagainya. Tapi dia tetap saja berdiri diam. Menungguku. Bingung. Sudah beberapa kali seperti ini dan aku hanya bisa berharap dan berharap. Dan dia selalu diam. Hingga akhirnya kemudian dia memulai nadanya.
"Rin, kamu tidak berdandan?"
Ah. Aku mendesah. Aku yakin dia mendengarnya. Bukan itu pertanyaan yang kuharapkan, An. Ayo, katakan lagi. Lagi...
"Apakah kamu sakit?"
An, bisa tidak sih kamu mengajakku dengan raut wajah lebih ceria. Terlebih, cobalah lebih talkatif. Lagi...
"Rin..."
Persis seperti hari ini. Wajahnya tak tampak sedih, tapi tak kutemukan senyum tipisnya. Barangkali ia tidak
perduli. Aku memalingkan wajah. Aku melamun. Apakah ini rasanya ketika aku selalu bertanya padanya? Apakah ini rasanya ketika sedikit berbicara dan sebenarnya ingin berbicara banyak. Atau sebenarnya An memang tidak banyak berpikir. Kukira tidak begitu. Kantung mata dan kerutan di sekitarnya jelas membuktikan dia banyak berpikir. Aku terus berpikir. Dan berpikir. Bukankah aku melakukan ini untuk mengetahui bagaimana perasaannya terhadapku? Atau barangkali...
"An, apa benar kamu mencintaiku?" aku melamun sambil berbisik.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. An. Aku berpikir terlalu lama, sampai mengacuhkannya. Buru-buru kubalikkan tubuhku. Hening. An sudah pergi. Pintunya sudah ditutup dengan membiarkan sedikit celah. Barangkali ia merasa tak ingin menganggu. Aku menyesal. Sejak itu An sudah tak pernah lagi kerumahku.
Aku kembali merinding. Tersadar dari lamunanku. An masih berdiri pucat di belakangku. Aku bergerak menuju pintu. Sesaat sebelum kusentuh gagang pintu, An terlebih dahulu merebut tanganku. Beku. Tangannya membeku. Hampir saja aku memuntahkan kata, aku begitu khawatir. Tapi demi egoku. Ini kutahan. Kutahan demi hal yang begitu penting dan kuinginkan.
Egoku itu berdiri bak karang. Tidak mudah hancur. Dan egoku itu ibarat bom waktu, kalau sudah waktunya atau tercapai barulah aku merasa puas. Saat itu, saat aku ingin bekerja di perusahaan Mr. Lim. Dengan syarat membuat sebuah karya ilmiah dengan riset paling kreatif adalah syarat untuk diterima. Aku dengan berapi-apinya ingin membuat 100 lembar dengan rancangan detail penuh. Waktu satu bulan kuhabiskan untuk fokus total terhadap karya ilmiah ini.
Saat-saat obsesif ini sangat rentan sebenarnya bagiku. Aku bukan tipe yang mudah goyah saat mengerjakan tugas. Tapi juga bukan tipe yang bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Maka, satu bulan itu aku benar-benar mirip gelandangan. Ah, aku sudah menjadi gelandangan barangkali saat itu, jika An tidak sering mampir kerumah. Aku melupakan banyak hal. Mulai dari hal paling kecil, makan, mandi, sampai membersihkan rumah. Bahkan An. Keterlaluan memang. Obsesif-kompulsif ku ini memang tidak ada obatnya.
"Rin, kamu kehilangan kompas ya?"
Saat itu An bertanya dengan raut serius. Karena aku juga sedang serius mendesain gambar, kupikir syarafku memang sedang lambat untuk mencerna maksud An.
"Obsesif! Makan donk. Udah dingin itu masakannya."
An tertawa. Sumpah, ia tertawa. Dan aku masih termangu-mangu. Antara sadar dengan tidak. Bayangkan, seseorang yang jarang berbicara. Seberapa jarang pula ia tertawa. Akhirnya aku ikut bicara.
"An, hari ini gak perlu bikin pesta?"
Sekarang, An yang bingung.
Entah kemana saat-saat bahagia itu. Dalam setahun ini, semua itu hanya kenangan. Aku merasa kehilangan, An. An yang begitu perhatian. Entah bagaimana ia saat itu selalu datang dan pergi dari rumahku tanpa kuketahui. Makanan yang tiba-tiba sudah terhidang. Bak mandi yang terisi penuh dengan air dingin. Barangkali awalnya itu panas. Ruangan-ruangan yang rapi. Padahal desainku itu berserak dimana-mana sebelumnya. Ia seperti hantu. Hantu yang manis.
Kutatap An. Bibirnya memutih. Kuhalau tangannya yang dingin. Belum sempat lagi tanganku berpindah menuju pintu, tangan An sudah melingkar di leherku. Benda itu berkilau redup. Antara putih kebiru-biruan. Itu, 2 buah keping berlian berbentuk salju. Hatiku dingin. Tapi dengan cepat kelempar emosiku. Aku takkan runtuh dengan benda seperti ini.
An tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar manis. Bibirnya sedikit bergetar. Kalau saja ia tidak berbalik untuk pergi, barangkali aku akan berbicara padanya. Ah, sudahlah. An sudah pergi. Kututup pintu. Sudah terlalu banyak angin yang masuk. Aku kembali duduk melamun menatap jendela. Kali ini hanya kepingan salju di tanganku yang tertatap. An, kamu begitu dingin.
"Tok..tok..tok.."
Dengan cepat ku menuju pintu. Berharap..
"Bibi Eri??"
Aku sedikit terkejut. Sedikit kecewa juga.
"Rin..."
Tubuhnya gemetar, disudut matanya sebening air mengalir.
Aku terduduk. Kaki langung mati rasa. Aku membiarkan badai menamparku. Malam itu semuanya membiru. Aku menitikkan butiran es. Ya, butiran dari hatiku yang membeku. Berkelabat semuanya, 5 tahun kenangan itu. Dapat kudengar. Jeritan yang ikut terbawa angin. Lama-lama berbisik...
Rin, kamu kenapa? Kamu kenapa? Kenapa?
Aku rindu sekali tawamu. Aku tidak mengerti. Akhir-akhir ini kamu selalu diam. Kamu tidak lagi tertawa, tidak juga tersenyum. Aku sangat khawatir.
Apakah kamu sakit?
Hari itu, saat kamu mulai diam. Hari saat aku ingin membawamu ke makam orang tuaku. Aku sangat senang, karena sudah lama aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Tapi barangkali kamu ingin sendiri?
Rin, hari-hariku semakin sepi. Semakin sepi, semakin rinduku membuncah membawaku padamu. Tapi tiap waktu, saat berdiri di depan rumahmu, rasa takut menyergapku. Takut kehilangan. Apa kah kamu sudah bosan? Tidak. tidak. Jangan.
Tapi Rin, malam selalu membisikkanku sesuatu. Ia terus membisikkanku, "Mana buktinya? Mana buktinya?" Sungguh saat itu aku juga melamun banyak sepertimu belakangan. Aku bingung. Bagaimana lagi cara membuktikannya.
Tiap malam memandang langit. Apakah kamu masih memandang langit yang sama?
Tiap malam saat angin dingin datang. Perlukah aku datang ketempatmu, membuatkanmu coklat panas? Memastikan selimutmu? Memastikan kamu masih aman?
Rin, maafkan aku kalau aku tak mampu menjelaskan apa yang ingin aku katakan. Bagiku aku harus memberikan segalanya yang terbaik bagimu.
Rin, aku selalu mencoba menjadi matahari bagimu. Maaf kalau aku selalu menyusahkanmu. Apa mencoba sehangat mungkin. Apa mungkin bagimu aku hanya dingin yang mengganggu. Rin, rin, rin...
Rin, kalau kamu menemukan matahari lain, apakah kamu akan bahagia?
Rin, aku berjanji tidak akan menyusahkanmu lagi. Tapi, aku juga tidak akan berhenti mencintaimu, menjagaku. Maka, malam ini aku berdo'a menjadi salju. Sekali lagi, aku tak bermaksud menyusahkanmu. Aku akan memastikan kamu selalu hangat. Dan apabila kamu kedinginan, saat mataharimu tak mampu menghangatkanmu, aku hanya ingin memastikan, hanya aku yang menjadi dinginmu.
...
Dua keping salju di dadaku bergemerincing pilu...
"Bibi Eri??" Aku terkejut.
"Rin..., A..a..An meninggal. Tubuhnya terjebak runtuhan salju sejak semalam."
*rasa tak puas selalu memaksa, menghadirkan ego antagonis. menyeruak kepada cinta yang rentan pada rasa percaya.
Stabat, 08 Agustus 2011
NB: maaf norak! xP klise, basi, tapi sekali lagi...ini fiksi!! :P
"Tok..tok..tok.."
Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Siapa yang bertamu ke rumah gadis tengah malam begini?
"Siapa?"
"Tok..tok..tok.."
Dia masih saja mengetuk. Dengan berat aku berjalan menuju pintu. Kubuka perlahan pintunya. An. Walaupun sudah lama ia tak mengunjungiku, aku tidak begitu terkejut. An berdiri gemetar, wajahnya pucat dan tertutup sebagian oleh salju. Sebenarnya aku kasihan melihatnya begini. Tapi rasa kasihan ini harus kutahan. Aku mengacuhkannya tanpa mempersilahkannya masuk. Kuharap ia masuk dengan sendirinya untuk menghangatkan badannya.
Aku kembali duduk menatap keluar jendela. Kali ini tak ada yang kutunggu. An masih berdiri di ambang pintu. Sesekali kuintip dia untuk memastikan dia segera masuk dan menutup pintu. Hawa dingin badai dan hawa lainnya menyergapku, dingin. Tepat sebelum aku beranjak kesal, akhirnya An masuk. An masih diam. Aku juga tak ingin bicara padanya. Saat-saat seperti ini benar-benar menyesakkan dada.
Sudah 4 tahun kami menjadi kekasih, aku mengenal betul kapan An berbicara. Dia berbicara terlalu jarang. Dan perhatian apa yang kau harapkan dari seseorang yang jarang bicara. Sejujurnya untuk hal ini aku sudah lama memakluminya. Bahkan Bibi Ery, tetanggaku, mengatakan kami ini benar-benar cocok. Mengapa? Karena An terlalu pendiam dan aku terlalu cerewet. Selama 3 tahun aku merasa kasih sayang yang diberikan An, tapi sedikit rasanya yang bisa kulakukan untuknya. Dan setahun ini, rasanya hubungan kami di ambang kehancuran. Awalnya aku hanya ingin dia berbicara sedikit lebih banyak. Saat itu aku berpikir bagaimana kalau aku juga ikut berdiam diri. Biasanya, kalau aku berbicara dengan An persis seperti perawat dengan pasien yang sedang sekarat. Kamu ingin ini An? Dia menggeleng. Atau yang ini? Dia menggeleng. Hmm, pasti ini yang kamu suka? Lalu, ia tersenyum tipis, dan matanya melengkung sayu. Ah, sungguh manis senyumnya itu. Bagiku walau dia tidak bicara terlalu banyak, tapi senyum manisnya mencukupkan segalanya. Dulu.
Kembali, aku menatap jendela. Melalui pantulannya kulihat An mengamatiku dari belakang. Wajahnya tidak terlihat sedih. Tapi tak juga ada senyuman disana. Seperti 3 bulan yang lalu. Malam itu, ia mengirimkan pesan untuk ikut pergi bersamanya ke suatu tempat. Aku yang sedang mengimitasi tingkahnya sama sekali tidak berniat membalas. Keesokan harinya, dia datang. Persis seperti hari ini, aku membuka pintu, tidak menyapa, tidak menyuruhnya masuk, hanya membiarkan dia di depan pintu. Sekitar beberapa menit, aku hanya duduk diam. Berharap dia merayuku dan sebagainya. Tapi dia tetap saja berdiri diam. Menungguku. Bingung. Sudah beberapa kali seperti ini dan aku hanya bisa berharap dan berharap. Dan dia selalu diam. Hingga akhirnya kemudian dia memulai nadanya.
"Rin, kamu tidak berdandan?"
Ah. Aku mendesah. Aku yakin dia mendengarnya. Bukan itu pertanyaan yang kuharapkan, An. Ayo, katakan lagi. Lagi...
"Apakah kamu sakit?"
An, bisa tidak sih kamu mengajakku dengan raut wajah lebih ceria. Terlebih, cobalah lebih talkatif. Lagi...
"Rin..."
Persis seperti hari ini. Wajahnya tak tampak sedih, tapi tak kutemukan senyum tipisnya. Barangkali ia tidak
perduli. Aku memalingkan wajah. Aku melamun. Apakah ini rasanya ketika aku selalu bertanya padanya? Apakah ini rasanya ketika sedikit berbicara dan sebenarnya ingin berbicara banyak. Atau sebenarnya An memang tidak banyak berpikir. Kukira tidak begitu. Kantung mata dan kerutan di sekitarnya jelas membuktikan dia banyak berpikir. Aku terus berpikir. Dan berpikir. Bukankah aku melakukan ini untuk mengetahui bagaimana perasaannya terhadapku? Atau barangkali...
"An, apa benar kamu mencintaiku?" aku melamun sambil berbisik.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. An. Aku berpikir terlalu lama, sampai mengacuhkannya. Buru-buru kubalikkan tubuhku. Hening. An sudah pergi. Pintunya sudah ditutup dengan membiarkan sedikit celah. Barangkali ia merasa tak ingin menganggu. Aku menyesal. Sejak itu An sudah tak pernah lagi kerumahku.
Aku kembali merinding. Tersadar dari lamunanku. An masih berdiri pucat di belakangku. Aku bergerak menuju pintu. Sesaat sebelum kusentuh gagang pintu, An terlebih dahulu merebut tanganku. Beku. Tangannya membeku. Hampir saja aku memuntahkan kata, aku begitu khawatir. Tapi demi egoku. Ini kutahan. Kutahan demi hal yang begitu penting dan kuinginkan.
Egoku itu berdiri bak karang. Tidak mudah hancur. Dan egoku itu ibarat bom waktu, kalau sudah waktunya atau tercapai barulah aku merasa puas. Saat itu, saat aku ingin bekerja di perusahaan Mr. Lim. Dengan syarat membuat sebuah karya ilmiah dengan riset paling kreatif adalah syarat untuk diterima. Aku dengan berapi-apinya ingin membuat 100 lembar dengan rancangan detail penuh. Waktu satu bulan kuhabiskan untuk fokus total terhadap karya ilmiah ini.
Saat-saat obsesif ini sangat rentan sebenarnya bagiku. Aku bukan tipe yang mudah goyah saat mengerjakan tugas. Tapi juga bukan tipe yang bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Maka, satu bulan itu aku benar-benar mirip gelandangan. Ah, aku sudah menjadi gelandangan barangkali saat itu, jika An tidak sering mampir kerumah. Aku melupakan banyak hal. Mulai dari hal paling kecil, makan, mandi, sampai membersihkan rumah. Bahkan An. Keterlaluan memang. Obsesif-kompulsif ku ini memang tidak ada obatnya.
"Rin, kamu kehilangan kompas ya?"
Saat itu An bertanya dengan raut serius. Karena aku juga sedang serius mendesain gambar, kupikir syarafku memang sedang lambat untuk mencerna maksud An.
"Obsesif! Makan donk. Udah dingin itu masakannya."
An tertawa. Sumpah, ia tertawa. Dan aku masih termangu-mangu. Antara sadar dengan tidak. Bayangkan, seseorang yang jarang berbicara. Seberapa jarang pula ia tertawa. Akhirnya aku ikut bicara.
"An, hari ini gak perlu bikin pesta?"
Sekarang, An yang bingung.
Entah kemana saat-saat bahagia itu. Dalam setahun ini, semua itu hanya kenangan. Aku merasa kehilangan, An. An yang begitu perhatian. Entah bagaimana ia saat itu selalu datang dan pergi dari rumahku tanpa kuketahui. Makanan yang tiba-tiba sudah terhidang. Bak mandi yang terisi penuh dengan air dingin. Barangkali awalnya itu panas. Ruangan-ruangan yang rapi. Padahal desainku itu berserak dimana-mana sebelumnya. Ia seperti hantu. Hantu yang manis.
Kutatap An. Bibirnya memutih. Kuhalau tangannya yang dingin. Belum sempat lagi tanganku berpindah menuju pintu, tangan An sudah melingkar di leherku. Benda itu berkilau redup. Antara putih kebiru-biruan. Itu, 2 buah keping berlian berbentuk salju. Hatiku dingin. Tapi dengan cepat kelempar emosiku. Aku takkan runtuh dengan benda seperti ini.
An tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar manis. Bibirnya sedikit bergetar. Kalau saja ia tidak berbalik untuk pergi, barangkali aku akan berbicara padanya. Ah, sudahlah. An sudah pergi. Kututup pintu. Sudah terlalu banyak angin yang masuk. Aku kembali duduk melamun menatap jendela. Kali ini hanya kepingan salju di tanganku yang tertatap. An, kamu begitu dingin.
"Tok..tok..tok.."
Dengan cepat ku menuju pintu. Berharap..
"Bibi Eri??"
Aku sedikit terkejut. Sedikit kecewa juga.
"Rin..."
Tubuhnya gemetar, disudut matanya sebening air mengalir.
Aku terduduk. Kaki langung mati rasa. Aku membiarkan badai menamparku. Malam itu semuanya membiru. Aku menitikkan butiran es. Ya, butiran dari hatiku yang membeku. Berkelabat semuanya, 5 tahun kenangan itu. Dapat kudengar. Jeritan yang ikut terbawa angin. Lama-lama berbisik...
Rin, kamu kenapa? Kamu kenapa? Kenapa?
Aku rindu sekali tawamu. Aku tidak mengerti. Akhir-akhir ini kamu selalu diam. Kamu tidak lagi tertawa, tidak juga tersenyum. Aku sangat khawatir.
Apakah kamu sakit?
Hari itu, saat kamu mulai diam. Hari saat aku ingin membawamu ke makam orang tuaku. Aku sangat senang, karena sudah lama aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Tapi barangkali kamu ingin sendiri?
Rin, hari-hariku semakin sepi. Semakin sepi, semakin rinduku membuncah membawaku padamu. Tapi tiap waktu, saat berdiri di depan rumahmu, rasa takut menyergapku. Takut kehilangan. Apa kah kamu sudah bosan? Tidak. tidak. Jangan.
Tapi Rin, malam selalu membisikkanku sesuatu. Ia terus membisikkanku, "Mana buktinya? Mana buktinya?" Sungguh saat itu aku juga melamun banyak sepertimu belakangan. Aku bingung. Bagaimana lagi cara membuktikannya.
Tiap malam memandang langit. Apakah kamu masih memandang langit yang sama?
Tiap malam saat angin dingin datang. Perlukah aku datang ketempatmu, membuatkanmu coklat panas? Memastikan selimutmu? Memastikan kamu masih aman?
Rin, maafkan aku kalau aku tak mampu menjelaskan apa yang ingin aku katakan. Bagiku aku harus memberikan segalanya yang terbaik bagimu.
Rin, aku selalu mencoba menjadi matahari bagimu. Maaf kalau aku selalu menyusahkanmu. Apa mencoba sehangat mungkin. Apa mungkin bagimu aku hanya dingin yang mengganggu. Rin, rin, rin...
Rin, kalau kamu menemukan matahari lain, apakah kamu akan bahagia?
Rin, aku berjanji tidak akan menyusahkanmu lagi. Tapi, aku juga tidak akan berhenti mencintaimu, menjagaku. Maka, malam ini aku berdo'a menjadi salju. Sekali lagi, aku tak bermaksud menyusahkanmu. Aku akan memastikan kamu selalu hangat. Dan apabila kamu kedinginan, saat mataharimu tak mampu menghangatkanmu, aku hanya ingin memastikan, hanya aku yang menjadi dinginmu.
...
Dua keping salju di dadaku bergemerincing pilu...
"Bibi Eri??" Aku terkejut.
"Rin..., A..a..An meninggal. Tubuhnya terjebak runtuhan salju sejak semalam."
*rasa tak puas selalu memaksa, menghadirkan ego antagonis. menyeruak kepada cinta yang rentan pada rasa percaya.
Stabat, 08 Agustus 2011
NB: maaf norak! xP klise, basi, tapi sekali lagi...ini fiksi!! :P
Monday, August 1, 2011
Captive
nowhere, but in the light.
we got a lot way to choose over.
that lead to moon or to sun.
a bum in wonder earth.
his head hanged to sky.
his hands linked to blazing-heat crater
his legs, was sinking down to the riverbed.
are you galaxy where i was born?.
it was right, to self-hatred.
instead adding salt to wounded heart
captive by worrying-clown man.
a bum in the wonder river.
look rainbow throughly at night.
we got a lot way to choose over.
that lead to moon or to sun.
a bum in wonder earth.
his head hanged to sky.
his hands linked to blazing-heat crater
his legs, was sinking down to the riverbed.
are you galaxy where i was born?.
it was right, to self-hatred.
instead adding salt to wounded heart
captive by worrying-clown man.
a bum in the wonder river.
look rainbow throughly at night.
Subscribe to:
Posts (Atom)